Tags

, , , , , ,

Title                 : Secret Wish Part 6

Author              :Azumi Aozora  and Kunang Anna

Main Cast         : Kim Mi Young, Kim Min Ah, , Lee Tae Min , Jo Kwang Min, Jo Young Min

Support Cast    : Onew, Jung Il Woo, Choi Minho dll

Length             : sequel

Genre              : Family, romance, life, friendship, Fantasy

Rating              : PG-15

Summary        : Kim Mi Young dan Kim Min Ah adalah 2 yeoja yang jadi idola di Anyang High School. Mereka berdua sama-sama cantik dan berprestasi, tapi dalam diri mereka, mereka tidak puas dengan keadaan diri mereka. Min Ah dan Mi Young terlihat saling membenci satu sama lain, tapi dalam lubuk hati mereka sebenarnya mereka iri dan ingin bertukar posisi. Bagaimana kalau keinginan mereka terkabul? Check out! ^,^

cover FF - Copy

Sixth Secret by Azumi Aozora

 

–      Previous Part –

========== Lee Tae Min PoV ============

@Min Ah’s room

“Lukisan ini?” aku menatap lukisan tua sebuah kastil megah yang terdapat di samping tempat tidur Min Ah. Perlahan aku mendekatinya.Ya, aku sedikit memaksa ingin memasuki kamar Min Ah untuk lukisan ini.

Ohh… itu lukisan yang kata appa-ku dilukis kakek buyutku.”  ucap Min Ah yang masih mengecek koleksi bukunya bersama Mi Young di lemari besar.

“Oppa tertarik melihat lukisan itu?”

“Tentu saja!” ucap Min Ah langsung menanggapi Mi Young yang sepertinya tidak puas “Memangnya kau yang malah ketakutan…”

“Habiss… kastil itu kan seraammm”

Aku tak begitu mempedulikan lagi apa yang kedua yeoja itu bicarakan, sesuatu yang kuat menarikku lebih mendekat ke arah lukisan itu. Seketika itu pula potongan-potongan memoriku yang menghilang menyerangku, membuat kepalaku serasa ingin pecah!

-New Part-

Dingin…

Di sini dingin sekali….

Mereka memujaku…, menghormatiku…

Tapi takut.

Mereka semua takut padaku.

“Kau tidak takut padaku?”

“Kenapa? Kenapa aku harus takut? Aku menyayangimu.” Ujar seorang gadis bermata besar sambil tersenyum lebar.

Gadis bermata sipit mengangguk. “Benar. Kami menyayangimu, Pangeran Tae Min. Kau tidak usah sungkan pada kami. Bagaimanapun kita masih memiliki darah yang sama, meskipun hanya sedikit.” Gadis itu tersenyum. Aku ikut tersenyum. Senyumnya menular.

“Tae Min Oppa!!!”

“Oppa!!! Kau sakit???”

“Eh?” aku tersadar. Min Ah dan Mi Young menatapku khawatir.

Aku tersenyum. “Aku hanya sedang berpikir..”

“Oppa melamun, bukan berpikir.” Tukas Min Ah. “Oppa.., aku akan menunjukkan sesuatu padamu. Sebentar ya aku cari dulu.” Kata Min Ah yang sekarang berada dalam tubuh Mi Young. Tapi aku tahu dia Min Ah. Sejak awal aku selalu tahu.

“Nyari apa sih?” tanya Mi Young. “YAAAA!!!!! Jangan-jangan surat cinta!!!” pekik Mi Young heboh. Ia mengikuti Min Ah ke ruangan kecil di dalam kamar itu yang berfungsi sebagai perpustakaan mini. Perpustakaan mini milik Min Ah.

Aku tersenyum tipis memperhatikan kedua yeoja itu. Memori-memori yang menghilang itu sangat mengangguku. Memori manis yang membuatku lupa tujuanku datang kemari.

Dulu mereka memang menyayangiku. Tapi mereka mengkhianatiku. Sekarang pun mereka akan melakukan hal yang sama bukan? Mereka pasti akan mengkhianatiku lagi. Sama seperti 1000 tahun yang lalu.

Kalau begitu, bukankah lebih baik mereka menghilang saja selamanya? Sehingga aku tidak perlu lagi mengingat mereka. Kedua putri itu. Aku ingin mereka pergi selamanya dari pikiranku… dari hatiku.

“Oppa!! Aku menemukannya!!!” seru Min Ah kegirangan. Dia berlari ke arahku sambil membawa sebuah buku gambar ukuran A3. Mi Young berlari mengikuti Min Ah.

“Kalau Oppa menyukai lukisan kakek buyutku itu, Oppa pasti akan menyukai sketsa-sketsa yang kakek buyutku buat. Lihatlah…” Min Ah menyerahkan buku gambar tua itu padaku. Kertasnya sudah menguning, tapi gambarnya masih terlihat jelas.

Aku tersentak melihat sketsa-sketsa lukisan itu. Cepat-cepat kututup buku gambar itu. Aku tidak ingin mengingatnya! Aku tidak ingin mengingat kenangan – kenangan manis itu. Aku sudah berjanji akan melupakan kastil itu… tempat itu. kenangan-kenangan itu.

Selama 1000 tahun aku berada di dunia ini dan tak pernah sekalipun kembali ke dunia itu. Aku menunggu. Aku tahu mereka akan dilahirkan kembali di dunia ini. Bukan duniaku.

Sekarang saatnya sudah tiba. Aku harus menyelesaikan apa yang dulu tidak sempat kuselesaikan. Aku harus membuat mereka menghilang… selama-lamanya.

=========== End of Tae Min POV ============

=========== Min Ah POV ==========

“Sketsa yang bagus.” Tae Min Oppa cepat-cepat menutup buku gambar berisi kumpulan sketsa lukisan kakek buyutku itu. Aku merasa ada yang aneh dengan caranya menatap lukisan itu.

“Oppa.., ayo kita main ke rumahku!” seru Mi Young ceria. “Rumahku yang asli.., aku punya boneka Oppa.”

“Boneka-ku?”

Mi Young mengangguk. “Hmm.., begini-begini aku bisa lhoo membuat boneka dari benang wol, ataupun tanah liat..” Mi Young tersenyum bangga.

“Salah satu bakatmu tidak menghilang…” bisik Tae Min Oppa pelan sekali. Mi Young terus saja nyerocos tentang boneka sehingga tidak menyadari kata-kata Tae Min Oppa barusan.

Apa maksudnya? Mengapa hari ini Tae Min Oppa terlihat berbeda dari biasanya?

Tae Min Oppa menoleh padaku, lalu tersenyum. Aku memalingkan wajahku. Malu karena ketahuan memandangnya terus. Aku pura-pura sibuk melihat-lihat sketsa lukisan kakek buyutku.

Tae Min Oppa mendekatiku. “Kau ingat siapa nama kakek buyutmu itu?”

Aku menggeleng, lalu tertawa. “Mana aku ingat. Almarhum ayahku tidak pernah memberitahuku. Atau mungkin pernah? Mungkin aku lupa, karena saat itu aku masih kecil sekali.”

“Dia pasti orang yang sangat berbakat kan? lukisannya sangat bagus.” Tae Min Oppa mengerling lukisan kastil di dinding.

Aku mengangguk. “Hmm. Beberapa lukisannya yang lain ada di kamar ibuku. Aneh sekali. Tapi aku sering merasa.., aku pernah melihat tempat-tempat dalam lukisan –lukisan itu. seperti kastil ini. Hahahaha.., mungkin di dalam mimpi.”

Tae Min Oppa menatapku dalam-dalam. “Benarkah?”

“Kwang Min! Kau menginjak kakiku.”

“Sorry-sorry…”

“YAAAA!!! Kwang Min! Young Min!! Kalian mengintip kami hah?!” Mi Young membukakan pintu kamar tiba-tiba. Kontan saja Kwang Min dan Young Min hampir jatuh.

“Hehehehe…” si kembar hanya cengengesan tak jelas.

“Aku pulang dulu..” kata Tae Min Oppa. “Sampai ketemu di sekolah, Min Ah, Mi Young..” Tae Min Oppa tersenyum manis, lalu pergi.

“Aku antar sampai ke bawah Oppa..” aku mengikuti Tae Min Oppa. Tapi ketika aku hendak menyentuh lengannya, tiba-tiba saja seperti ada yang menahanku. Tanganku berhenti bergerak beberapa centimeter dari lengan Tae Min Oppa. Aku menggelengkan kepalaku. Aneh! Mungkin hanya perasaanku saja. Tadi pasti jarak Tae Min Oppa terlalu jauh dariku sehingga aku tidak bisa menyentuh tangannya.

Tae Min Oppa pun pergi. Mi Young masih mengomel pada si kembar. “Tuh kan.., Tae Min Oppa jadi pergi gara-gara ada kalian. Kalian juga pulang saja!”

Aku tidak memedulikan Mi Young dan si kembar. Aku pun berlari menyusul Tae Min Oppa sampai ke luar rumah. Tae Min Oppa sudah tidak terlihat. Tiba-tiba saja aku merasa sedih.

======== End of Min Ah POV ======

============= Tae Min POV ===============

Sebelum pergi tadi, sebenarnya aku ingin memeluk Min Ah dan Mi Young. Tapi aku tahu itu tidak mungkin. Ada si kembar di dekat kami. Mungkin Min Ah tidak menyadarinya, tapi tadi dia tidak bisa menyentuhku.  Aku mendengus kesal. Inikah salah satu perlindungan si tua itu?! Paman sok tahu yang terlalu protektif pada kedua putrinya! Sungguh menggelikan. 1000 tahun yang lalu.., dia bahkan sama sekali tidak menyayangi kedua putrinya itu. Dia menelantarkan mereka, bahkan tidak tahu apapun tentang mereka. Lucu sekali, karena sekarang tiba-tiba saja dia menjadi peduli. Aku tidak menyangka si tua itu rela meninggalkan istana-nya dan datang ke dunia ini. Tapi sudah terlambat. Kedua putri itu akan segera menghilang. Benar-benar menghilang.

Aku membaringkan tubuhku ke atas tempat tidur. Sebenarnya aku tidak perlu tidur. Setengah darahku membuatku tidak memerlukan tidur. Aneh. Itulah julukanku dulu. 1000 tahun lalu. Pangeran aneh dan mengerikan. Tidak ada yang mau mendekatiku. Semua orang menghindariku, termasuk keluargaku di Kerajaan Saphire Blue. Ayahku, ibu tiriku, dan kakak satu ayah (Min Ho hyung). Hanya Jung Il Woo hyung yang mau dekat-dekat denganku. Hah, tentu saja! Devil itu tidak takut padaku. Atau mungkin..takut? Hanya saja dia memiliki sisi baik. Sisi baik yang tidak dimiliki orang-orang duniaku.

Oh, hampir saja aku melupakan orang itu juga. Seorang rakyat biasa yang selalu mengurusku. Mengantarkan makanan untukku, mengajakku bicara (meskipun aku jarang menanggapinya). Entahlah mengapa ia begitu baik padaku. Padahal ia tahu..dengan kekuatanku..aku bisa melukainya , bahkan membunuhnya kapanpun.

Kemudian aku bertemu mereka.., kedua putri itu. Sial! Lukisan kastil itu membangkitkan kenangan yang ingin kulupakan. Kenangan manis. Tidak ada gunanya bukan mengingat kenangan manis?! Karena yang kudapat pada akhirnya adalah sebuah pengkhianatan.

Aku memejamkan mataku. Sekeras apapun aku berusaha untuk tidur, aku tidak pernah bisa tidur. Ingin sekali rasanya… sejenak saja aku melarikan diri dari kenyataan dan masuk ke dunia mimpi. Selamanya berada di dunia mimpi juga rasanya pasti akan lebih menyenangkan daripada menghadapi kenyataan.

Aaah.., biarlah. Biar sekali ini saja aku mengingat kenangan itu.., memori manis itu.

*Flashback*

Aku mengurung diriku di dalam kamarku yang luas. Dikurung sebenarnya. Tapi aku lebih suka memakai istilah mengurung. Aku tidak suka orang lain seolah-olah mengatur segalanya untukku.

 

Aku tidak pernah keluar lagi dari dalam kamarku sejak … aku lupa. Mungkin sejak 5 tahun yang lalu. Ketika tanpa sengaja aku membuat pengawal istana terbunuh. Saat itu aku benar-benar marah pada ayahku karena tidak mengizinkanku ikut ke istana utara bersama Min Ho hyung. Aku marah.., kekuatanku tidak terkontrol.., lalu terjadi begitu saja. Empat orang pengawal di dekatku mati mendadak karena mereka berdiri terlalu dekat denganku. Si Pangeran aneh.

 

Mulai saat itulah.., aku hanya diam di kamarku. Berusaha menghilangkan kekuatan-kekuatan mengerikan yang mengalir di dalam darahku. Tapi percuma. Di dalam darahku akan selalu mengalir darah wanita iblis itu.

 

“Pangeran Tae Min.., kau melukis lagi?” seorang pemuda berusia lebih tua 4 tahun dariku, berpakaian biasa, rakyat biasa, datang ke kamarku sambil membawakan nampan berisi makanan untukku. “Lukisanmu sangat bagus. Bukankah itu lukisan kastil ini..? istana ini?”

 

Aku tidak memedulikan kata-kata orang itu. Aku terus melukis.

“Tapi Pangeran.., mengapa lukisan ini terkesan agak mengerikan.., dan dingin? Saya rasa.. istana ini sangat indah. Istana Blue. Istana pusat. Istana terindah di negeri Saphire.” Orang itu terus bicara.

 

Aku menatapnya dingin dan tajam. Tapi bukannya ketakutan, orang itu malah tersenyum sampai matanya menghilang. “Makanlah, Pangeran. Aku tidak ingin Pangeran sakit.”

 

Aku mendengus. Aku tidak akan pernah sakit. Karena aku monster.

 

“Saya permisi dulu, Pangeran…” pemuda itu pun keluar dari dalam kamarku. Aku menghela napas panjang. Baguslah, aku jadi bisa konsentrasi lagi dengan lukisanku.

 

Tanganku berhenti menyapukan kuas di atas kanvas. Mengerikan? Inilah yang kurasakan tentang istana ini.

 

Tok..tok..tok..

Pintu di ketuk.

Hhhh.., ada apa lagi sih?! Kenapa pemuda bernama Onew itu selalu saja menggangguku?!

 

“Masuklah!” seruku tak sabar. “Ada apa lagi?” tanyaku tanpa menoleh.

 

“Eh..?” suara seorang perempuan.

Aku langsung menoleh ke arah pintu. “Pangeran Tae Min kan?” tanya cewek itu. Dia memakai gaun pink cantik. Dan ada tiara di atas kepalanya.

 

“Siapa?” tanyaku. Aku tidak merasa mengenal gadis itu. Pasti dia bukan rakyat biasa. Putri Istana Saphire utara? Atau Saphire selatan? Saphire Timur? Atau Saphire Barat? Mengapa dia kemari? Aku menyeringai. Mungkin untuk bertemu Min Ho hyung. Perjodohan. Ya, mungkin itu yang dia lakukan.

 

Keluarga istana hanya boleh menikah dengan keluarga istana. Tidak boleh menikah dengan rakyat biasa. Hal ini dilakukan untuk mempertahankan darah murni keluarga istana. Kekuatan, umur panjang, dan awet muda. Itu yang akan mereka dapatkan dari kemurnian darah istana mereka. Tentu saja aku tidak murni. Aku setengah devil. Aku lebih kuat dari mereka semua. Dan itu membuat mereka takut sekaligus membenciku.

 

“Kau Pangeran Tae Min kan?” tanya gadis itu lagi. Dia tersenyum lebar. Matanya yang besar berbinar senang. Tanpa kuduga, gadis itu menghampiriku. “Mengapa kau tidak pernah berkunjung ke istana Selatan? Aku selalu ingin bertemu denganmu. Kakakmu sering datang, tapi kau tidak..”

 

Aku hanya terdiam dan menatap gadis itu.

“Eonni!!!” seorang gadis yang bertubuh lebih tinggi dan bermata lebih sipit memanggil gadis itu. Dia juga masuk ke kamarku. “Waaah.., lukisan yang sangat bagus!” puji gadis ber-gaun biru itu sungguh-sungguh. Di atas kepalanya juga terdapat tiara yang bentuknya sama dengan gadis satunya.

 

“Kalian siapa?” tanyaku.

 

Kedua gadis (yang sepertinya adalah seorang putri dan bersaudara) itu saling tatap, lalu tertawa.

 

“Kau tidak tahu kami?” tanya si gadis ber-gaun pink. “Kami ini sangat terkenal lho.., Negeri Saphire bagian utara, tengah, selatan, timur, dan barat semuanya mengenal kami karena kecantikan kami.” Gadis itu mengedipkan sebelah matanya. Narsis!

 

“Kami sedang melakukan kunjungan persahabatan antar istana.” Kata gadis yang satunya, yang memakai gaun biru. “Namaku Putri Min Ah. Dan ini kakakku, Putri Mi Young.”

 

“Kalian adik kakak? Tapii.., kalian tidak mirip!” kataku.

 

Mi Young tertawa. “Kau juga tidak mirip dengan Min Ho Oppa.”

 

Aku mendengus. Tentu saja! Kami hanya berbagi setengah darah yang sama.

 

“Kau tidak keberatan kan kalau kami main kemari?” tanya Mi Young. Dia duduk di tempat tidurku. Tempat tidur yang sebenarnya tidak ada gunanya sama sekali untukku. Karena aku tidak pernah tidur dari semenjak aku dilahirkan.

 

“Apa?” tanyaku. Tak mempercayai pendengaranku. Main? Ini pertama kalinya ada orang yang ingin bermain denganku.

 

“Kau tidak takut padaku?” tanyaku.

 

“Hahahahaha. Kenapa harus takut? Kau sangat tampan, Pangeran.” Putri Mi Young mengedipkan sebelah matanya lagi.

 

“Wow.., koleksi buku-mu banyak sekali, Pangeran.” Kata Putri Min Ah. “Bolehkan aku meminjam buku-buku ini?” tanya putri itu dengan mata berbinar. Sepertinya dia sangat suka buku!

 

“Ng..ng.., silahkan.” Kataku.

 

“Huwaaahhh.., terima kasiih..” putri bernama Min Ah itu menggoyang-goyangkan tanganku ke kiri dan kanan. Dia terlihat sangat gembira seolah-olah aku memberikan hadiah yang paling dia inginkan. Mau tak mau aku tersenyum. Aku tahu senyumku pasti sangat aneh. Kapan yaa terakhir kali aku tersenyum?

 

“Wow.., kau terlihat jauuuh lebih tampan saat tersenyum, Pangeran.” Kata Putri Mi Young.

 

Putri Min Ah mengangguk. “Hmm. Benar. Kau harus lebih sering tersenyum di masa depan, Pangeran. Kami akan membuatmu tersenyum! Hehehehe..”

 

Begitulah. Pertemuan yang aneh. Kedua putri aneh yang tidak takut padaku. Aku berani bertaruh, mereka pasti tahu siapa aku. Mereka pasti tahu betapa mengerikannya kekuatanku.

 

Mulai saat itu, Putri Min Ah dan Putri Mi Young sering sekali datang ke istana-ku. Saat aku bertanya, “Apakah Paman.., eh, maksudku ..Raja Yesung tidak marah karena kalian sering datang kemari?”

Min Ah dan Mi Young tampak terkejut.

“Ayah?” gumam Mi Young.

“Raja bahkan tidak tahu berapa umur kami sekarang.” Kata Min Ah. Terdengar nada kebencian dari kata-katanya. Rupanya hubungan kedua putri itu dengan ayah mereka tidak baik.

 

Suatu hari, saat pelayan istana bernama Onew itu mengantarkan makanan ke kamarku. Aku bicara padanya. Pertama kalinya aku berbicara padanya seumur hidupku. “Terima kasih.” Kataku. Onew terkejut, tapi dia tersenyum. Senyum khas yang membuat matanya yang sipit melebar dan menghilang karena tersenyum sangat lebar. Min Ah dan Mi Young membuatku semakin pandai berkata “Terima kasih.” Mi Young pernah mengomeliku panjang lebar tentang bagaimana pentingnya berterima kasih pada siapapun. Dan Min Ah membuatku sadar, betapa beruntungnya aku. Meskipun aku setengah devil, tapi aku masih bisa hidup. Aku seharusnya bersyukur. Itu katanya. Dan aku memang bersyukur. Kalau aku mati, aku tidak akan pernah bertemu mereka berdua…

 

Aku memberikan lukisan kastil yang dulu kulukis pada Onew. “Untukmu.” Kataku.

 

“Terima kasih, Pangeran.” Onew terlihat senang sekali. “Waah.., kastil ini memang terlihat menakutkan. Tapi aku akan menyimpannya baik-baik, Pangeran. Sebagai pengingat.., dulu.. inilah yang Pangeran rasakan tentang istana ini.., tapi semuanya berubah menjadi indah.., setelah kehadiran kedua putri.” Onew tersenyum. Aku ikut tersenyum. Benar. Duniaku terasa menyenangkan karena ada Min Ah dan Mi Young. Aku senang mereka selalu ada di sisiku. Aku senang mereka menyayangiku. Aku tidak ingin kehilangan mereka…

*End of Flashback*

Aku membuka mataku. Salah satu kenangan manis. Mau tak mau aku tersenyum. Meskipun banyak kenangan manis yang kualami, tapi semua itu percuma. Karena kepedihan-lah yang kudapat di akhir…..

Onew.., ternyata dia memang menyimpan lukisan itu. Kastil..istana mengerikan itu. Juga sketsa-sketsa lukisanku dulu. Ternyata dia hidup dengan bahagia. Memiliki banyak keturunan. Aku menyeringai. Mengapa Min Ah harus bereinkarnasi menjadi keturunan Onew?! Hah, dunia ini penuh kejutan, bukan?! Lukisan-lukisanku.., lukisan berumur 1000 tahun lebih.. kini berada di rumah Min Ah. Lukisan kakek buyutnya katanya? Bukan. Itu semua lukisanku. Aku ingin Min Ah mengingatnya. Aku ingin kedua putri itu mengingat semuanya. Aku ingin menuntut penjelasan. Penjelasan yang masuk akal. Sebelum aku mengirim mereka pergi selamanya. Selama-lamanya dan tidak mungkin kembali.

======= End of Tae Min POV ======

======= Min Ah POV =====

Min Ah, bagaimana kalau sabtu sore nanti kita ke toko buku? Aku sangat ingin membaca novel Pittacus Lore yang baru. Kau juga belum punya kan? Lalu kau bisa datang ke apartemenku. Aku akan memasak makanan Perancis. Bukankah kau sangat suka makanan Perancis?

Berulang kali aku menatap ponselku. Sms dari Tae Min Oppa tadi pagi. Omo ~~ apakah ini ajakan kencan??? Aku meraba pipiku yang panas.

“Mi Young, kau sakit?” tanya Kwang Min. Kwang Min asli. Si kembar sudah bertukar posisi menjadi diri mereka yang asli lagi. Aahh.., pasti wajahku merah sekarang. Seperti demam? Hahahaha.

Aku menggeleng. Mencoba menahan senyum. YES!!!! Tae Min Oppa mengajakku ke apartemennya. Dan apa dia bilang tadi? Memasak makanan Perancis untukku? Hehehehe. Senangnyaaaa… !!! >_<.. tapiii.., tunggu. Kenapa dia bisa tahu aku suka makanan Perancis? Aku pernah cerita padanya ya?

“Kwang Min.., pantas saja kau tidak punya cewek terus sampai sekarang.” Celetuk Jeong Min yang duduk di belakang Kwang Min.

“Hah?” Kwang Min tak mengerti.

Jeong Min menggeleng-gelengkan kepalanya. “Ck..ck..ck..” lalu dia menatapku. “Kau sedang gembira kaan Mi Young?” katanya. Aku tersentak. Bagaimana dia tahu? Jeong Min menjetikkan jarinya, lalu menatap Kwang Min lagi. “Kau harus pandai membaca wanita, sobat. Kau kurang pengalaman.” Ejek Jeong Min sambil nyengir jail.

Kwang Min menatap Jeong Min tajam. “Sudah-sudah! Kau lanjutkan saja tidurmu!” tukasnya sebal.

Jeong Min menguap lebar. “Hoaaaaahhhmmm., tidak usah disuruh pun aku pasti akan tidur.” Jeong Min pun kembali menempelkan pipinya ke bantal yang ada di meja.

“Kau memang kurang pengalaman.” Baro tiba-tiba ikut nimbrung. Lalu dia cepat-cepat pergi keluar kelas sebelum mendapat tatapan maut dari Kwang Min. Aku hanya mengangkat bahu. Cuek. Yang penting sekarang aku sedang bahagia. Bagaimana tidak.., cowok yang kusukai sejak dulu mengajakku kencan!! Kencan!! Senangnyaaaaa… >_<

Kwang Min berkali-kali memandang ke luar jendela kelas. Menatap lapangan. Eh? Kelasnya Young Min sedang olahraga ya? Aku ikut melihat keluar lewat kaca jendela. Lalu aku menatap Kwang Min. Menatap lapangan. Lalu menatap Kwang Min lagi. Dia sedang memperhatikan…, AKU??? Maksudku.., Mi Young yang kini berada di dalam tubuhku????

Aku berdehem. “Ehem.., Kwang Min..” kataku.

Kwang Min menoleh padaku, tampak salah tingkah. Gayanya seperti…, kepergok  melakukan hal yang seharusnya tidak dia lakukan!

Aku menatap Kwang Min lurus-lurus. “Kau.., menyukaiku?” tanyaku.

Kwang Min tampak terkejut. “Eeeh??”

“Dulu kau menyukaiku.., tapi sekarang kau menyukai Min Ah?” tanyaku lagi. Entah bagaimana, tapi aku selalu tahu kalau sejak SMP Kwang Min memang menyukai Mi Young. Dan karena sekarang aku bertukar tubuh dengan Mi Young.., Kwang Min tetap menyukai Mi Young, tapi sayangnya Mi Young kini ada di tubuh Min Ah. Tubuhku.

“Mi Young.., akuuu…” Kwang Min gelagapan.

Aku tersenyum. “Sebelum dia direbut orang lain, segeralah kau memberitahunya bagaimana perasaanmu.” Kataku. Lalu, aku pun pergi ke luar kelas dan menuju toilet.

Selama berjalan menuju toilet, aku terus tersenyum. Rasanya ingin segera lusa, sabtu. Agar aku bisa bersama Tae Min Oppa seharian. Aaah.., senang sekali Sabtu ini libur nasional dan tidak ada kegiatan klub. Aku bisa kencan seharian bersama Tae Min Oppa!

======= End of Min Ah POV ======

====== Young Min POV ======

@Ruang keluarga rumah Jo Twins

“Kau kenapa?” tanyaku pada adik kembarku, Jo Kwang Min. Sikapnya aneh sekali seharian ini.

“Eh, tidak kenapa-kenapa..” gumamnya. Dia pun kembali mengerjakan PR-nya, sementara aku main games di IPAD-ku. Aku pura-pura tidak merasakannya, tapi aku tahu Kwang Min kembali menatapku. “ADA APA??” Bentakku. Kesal juga lama-lama berhadapan dengan adik kembarku yang gagu ini.

Kwang Min menatapku takut-takut. “Hyung…” katanya.

Mataku menyipit. Hyung? Dia memanggilku hyung??? Pasti ada sesuatu! Aku tahu. Dia selalu memanggilku hyung kalau ada hal sangat sangat sangat sangaaat serius yang ingin dia katakan padaku.

“Cerita sajalah, Kwang Min.” kataku tak sabar.

Kwang Min menghela napas panjang, lalu menghembuskannya perlahan. Tampak berpikir keras memilih kata yang akan dia ucapkan. Aku menatapnya dengan semakin tak sabar.

“Ng..ng.., hyung pasti akan sangat marah kalau aku mengatakan hal ini.” Kata Kwang Min.

“Mengatakan apa? Cepatlah Kwang Min! kau hampir membuatku mati penasaran!”

Kwang Min menghela napas lagi. “Aku.., sepertinya aku menyukai Min Ah.”

Aku terdiam beberapa saat. Kaget.

“Tuh kaan.., kau marah!!!” kata Kwang Min.

Aku menggeleng. “Anehnya.. tidak. Aku tidak marah. Aku tidak tahu kenapa.”

“Kenapa? Bukankah sejak SMP kau menyukai Min Ah?” tanya Kwang Min.

Aku mengangkat bahu. “Aku tidak tahu.” Kataku. Kwang Min menatapku tak percaya. “Dulu kau menyukai Mi Young.., sekarang menyukai Min Ah. Aku dulu menyukai Min Ah.., dan sekarang malah menyukai Mi Young. Kita sudah dewasa Kwang Min. Aku tidak mau bertengkar gara-gara hal ini. Kalau kau suka Min Ah sekarang.., silahkan saja. Aku tidak akan menghalangimu. Tapi.., kau harus cepat. Karena sepertinya si Tae Min sialan itu mengajak Min Ah kencan hari minggu ini.”

“APA???” seru Kwang Min kaget. “Tapiii.., Tae Min sunbae dan Mi Young juga akan kencan sabtu ini.”

“APA???” kali ini giliranku yang berteriak kaget.

Kwang Min mengangguk. “Hmm. Aku penasaran karena tadi dia bersikap aneh. Jadi.., saat dia ke toilet.., aku..ng..ng.., aku tanpa sepengetahuannya membaca sms di handphone –nya. Ada sms dari Tae Min sunbae yang mengajaknya kencan.”

“Kita harus menggagalkan kencan mereka, Kwang Min. Min Ah dan Mi Young tidak boleh dipermainkan Tae Min sialan itu!” kataku. “Kita harus bekerja sama.” Kataku.

Kwang Min mengangguk setuju. “Oke. Tapi, Young Min…, apakah menurutmu kita perlu mengunjungi paranormal di pulau Jeju?” tanya Kwang Min.

“HAAH?? Huwahahahahaha…” aku terbahak-bahak. “Untuk apa? YAAAA!! Kwang Min~! Micheosso??!! Itu melukai harga diriku sebagai seorang lelaki. Aku tidak mau meminta bantuan dukun untuk membuat seorang cewek menyukaiku!”

Kwang Min tertawa geli. “Hehehehe. Bukan itu tujuanku. Tapi.. aku tetap merasa.. yang kusukai itu Mi Young.”

“YAAA!!! Bukannya kau bilang…”

“Dengarkan aku dulu, Young Min. Maksudku.., mungkin teorimu itu benar. Soal Min Ah dan Mi Young yang bertukar tubuh. Karena aku selalu merasa.., sekarang sifat Min Ah sama seperti Mi Young dulu. Dan semua keanehan ini dimulai sejak kita pulang dari Jeju bukan? Pasti terjadi sesuatu di sana. Aku yakin. Dan lagi.. ada legenda. Pokoknya, kita harus menyelidiki hal ini. Baro sudah janji akan membantuku. Dia dulu tinggal di sana sejak kecil.” Jelas Kwang Min panjang lebar.

“Kau memberi tahu temanmu?”

“Tidak. Aku tidak memberitahu tentang Min Ah dan Mi Young. Aku hanya ingat.., saat liburan ke Jeju..Baro pernah cerita tentang kejadian-kejadian supranatural di sana.”

Aku mendengus. “Omong kosong!”

“Bukannya kau ya yang dulu percaya soal tukar tubuh ini?” tuntut Kwang Min.

“Dulu. Tapi itu ide gila! Aku lebih suka percaya kalau sekarang ini kita bertukar yeoja yang kita cintai, karena mereka sekarang memiliki sifat yang kita sukai.” Kataku.

Kwang Min menggeleng kuat. “Bukan seperti itu. Aku akan menyelidikinya. Terserah kau.., mau ikut atau tidak.” Kwang Min menatapku cuek, lalu kembali mengerjakan PR.

Sial! Kwang Min justru sangat berbahaya di saat dia cuek seperti ini. “Hhhh.., oke-oke.., aku ikut. Tapi kenapa harus jauh-jauh ke Jeju? Bukankah ada orang aneh juga di Seoul ini?! Contohnya…, Kyu Hyun seonsangnim. Aku masih merasa aneh mengapa saat itu dia menyuruh kita kabur dari Seung Ho seonsangnim. Kau tahu.., aku juga merasa ada yang tidak beres dengan Seung Ho seonsangnim. Aaaarrgghhh.., aku mulai ketularan aneh karena kau, Kwang Min!!!”

Kwang Min tersenyum lebar. “Kita memang kembar. Itu juga yang kupikirkan. Oke. Kita temui Kyu Hyun seonsangnim besok.”

====== End of Young Min POV =====

======= Author POV ======

@Ruang Bawah Tanah

“Keadaan sepertinya mulai semakin berbahaya, Tuan.” Kata seorang namja tinggi berhidung mancung.

“Kau bimbinglah anak kembar itu. lambat laun mereka akan menyadari semua keanehan ini…” kata seorang namja yang lebih pendek.

“Si kembar sudah menyadari keanehan itu, Yesung seonsangnim.” Kata namja tinggi.

“Kyu Hyun seonsangnim.., yang kumaksud membimbing di sini adalah.., beritahukan pada mereka apa yang harus mereka lakukan.” Yesung duduk di kursi goyang-nya, lalu menunduk sambil berkata dalam-dalam. “Aku tahu ini terlambat. Tapi.., aku tidak ingin kehilangan kedua gadis itu lagi. Kedua putri-ku. Kau harus membantuku menyelamatkan kedua putri-ku. Meskipun kini mereka bukan putri-ku…” raut wajah Yesung terlihat sedih.

Kyu Hyun mengangguk. “Baik, Tuan.”

Tatapan Yesung melembut. “Terima kasih banyak, Nak.”

Sementara itu..,

@Balkon kamar Min Ah…

Seorang pemuda berambut pirang, memakai coat hitam panjang, dan sepatu boots – baru saja tiba di balkon kamar Min Ah. Karena pemuda itu memiliki waktu 24 jam non-stop, dia jadi leluasa melakukan apapun yang dia inginkan. Mengamati Min Ah dan Mi Young setiap malam adalah kegiatan favoritnya selama 17 tahun ini.

Pemuda berambut pirang itu sedikit terkejut melihat seseorang..lebih tepatnya sesosok makhluk yang sudah berada lebih dulu di depan jendela kamar itu. Makhluk berwujud sesosok pemuda tampan, berkulit putih mengkilat. Dia tersenyum melihat kedatangan pemuda pirang itu. “Akhirnya kau datang juga.” Katanya.

“Apa yang kau lakukan di sini, Il Woo hyung?” tanya pemuda pirang itu.

Makhluk berwujud manusia itu menggedikan kepalanya. “Aku hanya mengamati gadis itu.” ujarnya santai. “Kau tahu kan, aku bisa membantumu, Tae Min. Tidak seperti kau, aku bisa masuk dengan leluasa ke kamar itu dan membunuhnya.”

Beberapa detik, kobaran api membayang di mata Tae Min. “Jangan-berani-berani-mendekatinya.” Tandas Tae Min. “Hanya aku. Hanya aku yang pantas melenyapkan mereka.”

Il Woo terbahak-bahak. “Hahahaha. Ya..ya..ya. Aku percaya padamu, Dik. Tapi bagaimanapun.., kau campuran. Kau memiliki… ini.” Il Woo menyentuh dada Tae Min. “Hati.” Lanjut Il Woo, tersenyum miring.

Tiba-tiba Il Woo berubah ke sosok aslinya. Dia terbang di dekat balkon. Sayap-nya berwarna hitam dan besar. Wajahnya masih sama. Dia memang Pangeran Devil yang tampan. Tae Min mengakui itu. Kakak satu ibu-nya itu memang sangat tampan.., dan berbahaya.

“Cepatlah kau bereskan masalah kau di dunia ini, Tae Min. Setelah itu.., kami akan menyambutmu dengan senang hati. Kami akan memperlakukanmu dengan baik. Tidak seperti keluargamu di dunia Saphire itu.” ejek Il Woo. “Ibu ingin bertemu denganmu. Cepatlah kau datang, dongsaengku yang manis.” Il Woo mengedipkan sebelah matanya, lalu ia pun menghilang pergi begitu saja. Hanya menyisakan sehelai bulu hitam. Tae Min menegadahkan tangannya. Bulu hitam itu jatuh di atas telapak tangannya.

“Ya.., kau memang berbeda hyung. Kau tidak seperti keluargaku di Saphire. Seharusnya sejak dulu aku tinggal bersamamu. Kalau sejak dulu aku bersamamu, aku pasti tidak akan bertemu mereka berdua. Aku tidak perlu merasakan sakit ini.” Tae Min memegang dadanya. Dia melirik kamar Min Ah sejenak. Dengan kekuatannya, dia bisa melihat menembus tembok. Mi Young tertidur pulas. Tae Min tidak akan pernah bosan menatap sahabat-sahabatnya. Mi Young.., dan Min Ah. Kedua bidadari-nya. Pernah.

Tae Min menghela napas panjang. “Benar. Inilah kelemahanku. Aku memiliki ini .” Tae Min menyentuh dada-nya. “Hati sialan ini!”

–      TBC –