Tags

, , , , , ,

cover FF - Copy

Title                 : Secret Wish Chapter 12 B

Author              :Azumi Aozora  and Kunang-Kunang

Main Cast         : Kim Mi Young, Kim Min Ah, Jo Kwang Min, Jo Young Min, Lee Taemin

Support Cast    :Jeong Min,  Jung Jin young, Min Woo, Baro,  dll

Length             : sequel

Genre              : Family, romance, life, friendship,

Rating              : PG-15

Summary        : Kim Mi Young dan Kim Min Ah adalah 2 yeoja yang jadi idola di Anyang High School. Mereka berdua sama-sama cantik dan berprestasi, tapi dalam diri mereka, mereka tidak puas dengan keadaan diri mereka. Min Ah dan Mi Young terlihat saling membenci satu sama lain, tapi dalam lubuk hati mereka sebenarnya mereka iri dan ingin bertukar posisi. Bagaimana kalau keinginan mereka terkabul? Check out! ^,^

Note : FF ini sudah pernah dipost di FB nya Kunang ^^v

Part 12 B by : Azumi Aozora

 

==== Lee Tae Min POV ====

“Aku tak pernah menganggapnya mimpi buruk. Kenangan kami bersama pangeran, dulu dan sekarang bagi kami adalah bagian dari kenangan yang berharga.” ucap Min Ah sambil mengambil kursi dan duduk di  depan meja di hadapanku. “Jadi,, jebal… jangan buat kami melupakan pangeran, atau kami akan selalu merasakan ada yang kurang dalam hidup kami”

“Pangeran! Kalau dengan tidur aku akan lupa dengan pangeran, maka seumur hidup Mi young tidak mau tidur” rajuk Mi young sambil menggembungkan pipinya, “jebaaallll….. yaa… pangeran”

Aku tersenyum meskipun terasa perih. “ Kalian tahu, aku tetap berpendapat sebaiknya kalian lupa, tapi yah ….tentunya aku harus tetap pergi.”

 

 

Seperti janjiku. Aku pergi. Aku pergi dari kehidupan Min Ah dan Mi Young, tapi aku tidak pernah benar-benar menghilang. Bagaimana mungkin aku bisa hidup tenang sebelum melihat Mi Young dan Min Ah hidup bahagia?!

Dan saat ini…aku tahu kedua putri belum sepenuhnya mendapatkan kebahagiaan mereka. Kebahagiaan yang seharusnya sudah sejak ribuan tahun lalu mereka dapatkan.

Hari itu.., aku kembali ke dunia manusia. Memakai jas putih lengan panjang dan kacamata. Tidak ada yang mengenaliku sebagai Lee Tae Min yang dulu. Termasuk orang itu.

DUAKKK

“Ahh… jwesonghamnida”  ucap seorang namja berambut hitam dan bermata besar sambil menahan rasa sakit. Ups! Aku lupa menurunkan kekuatanku. Orang itu pasti kesakitan sekali menubruk tubuhku.

“Gwenchana…Jo Kwang Min?” tanyaku.

“Eeeehhh….?? Lee seonsaeng?” namja itu terkejut begitu melihat-ku. Tatapan matanya seperti hendak protes mengapa hanya dia yang merasa kesakitan setelah insiden “tabrakan” barusan, sementara aku baik-baik saja. Aku berusaha menahan senyumku.

“Bagaimana Mi young?” tanyaku.

“Dia.. baik-baik saja, mian seonsaeng aku harus segera ke kelas” jawab Kwang Min cepat,  lalu berbalik meninggalkanku.

“Kwang Min…. kalau hubungan kau dan Mi young terus seperti ini, aku bisa merebut Mi young loh!” kataku sambil tersenyum meremehkan.

“Eh..apa maksud—“ tepat ketika Kwang Min membalikkan badannya untuk melihat lagi ke arahku, aku segera menghilang. Kwang Min mengucek-ngucek matanya lalu menggelengkan kepalanya.

******

Ternyata kebiasaan burukku belum berubah juga. Setiap malam aku masih tetap mengawasi Min Ah dan Mi Young yang tertidur pulas.

Aku berdiri di depan balkon kamar Min Ah. Menatap gadis itu, menembus melewati jendela dan gorden yang tertutup rapat.

Hhhh.., aku menghela napas panjang.

Aku duduk di pagar balkon sambil menyilangkan kaki dan menopang dagu-ku dengan sebelah tangan. Mataku masih tidak bisa lepas dari Min Ah yang bernafas dengan ritme teratur. Tanpa sadar aku tersenyum. Bahkan dalam keadaan tidur-pun gadis itu masih bisa menularkan senyumnya padaku.

Min Ah dan si pirang Young Min terlihat biasa-biasa saja. Tidak seperti Kwang Min dan Mi Young yang saat ini sedang bersikap seperti kedua orang yang tidak saling mengenal.

Tapi feelingku mengatakan…, hubungan Kwang Min dan Mi Young akan maju lebih dulu dibanding Min Ah dan Young Min.

Dan ternyata feelingku benar.

****

“Kwang Min, saranghae…” ujar panda itu. Lebih tepatnya… Mi Young dalam kostum panda.

Aku menatap mereka dari kejauhan, lalu tersenyum. Lega. Rasanya bunga Lilly-ku sudah menemukan keberanian-nya lagi. Dan yang menantinya di depan sana adalah… kebahagiaan.

Pandanganku kini tertuju pada bunga White Rose-ku. Min Ah. Dia tersenyum melihat Mi Young dan Kwang Min di atas panggung. Ikut bahagia melihat saudara-nya bahagia. Tak lama Young Min menghampirinya sambil membawa lollipop pelangi.

Min Ah menatap Young Min, tertawa mendengar lelucon-nya. Aku tahu.., dalam hati ia mengharapkan Young Min akan melakukan hal romantis seperti yang dilakukan Mi Young untuk Kwang Min.

Tuhan memang adil ya. Memasangkan kedua manusia yang berbeda karakter untuk saling melengkapi. Seperti Kwang Min dan Mi Young. Lalu Min Ah dan Young Min. Tidak akan terbayang ributnya bila Tuhan memasangkan Young Min dengan Mi Young. Begitupula sebaliknya.

Mi Young dan Kwang Min berjalan sambil bergandengan tangan. Agak jauh di belakang mereka, Min Ah dan Young Min berjalan hati-hati mengikuti mereka.

Tanpa sadar, aku berdecak gemas melihat Min Ah dan Young Min. Sepertinya kali ini aku harus ikut membantu. Yah.., apa boleh buat. Aku ingin kedua putri merasakan kebahagiaan sepenuhnya.

==== End of Tae Min POV ====

********

=== Min Ah PoV ====

Aku ikut senang melihat Mi Young dan Kwang Min. Tapi jujur saja aku iri. Aku dan Young Min masih biasa-biasa saja seperti dulu. Kami memang tidak pernah musuhan seperti Mi Young dan Kwang Min. Tapi hubungan kami juga tidak ada kemajuan. Apa aku harus menjauhi Young Min dulu untuk sementara waktu? Agar dia menyadari keberadaanku? Agar dia merasa kehilangan diriku?

Aku tertegun dengan pikiranku barusan. Dari mana aku mendapat ide seperti itu? Aneh! Seperti ada yang membisikki-ku kata-kata itu.

Semenjak ibuku menikah dengan ayah Mi Young, kami berempat jadi tinggal serumah. Tapi tidak dengan kakak Mi Young, Jong Hyun, dan juga kakakku Jae Joong. Jae Joong Oppa tinggal di apartemennya sendiri.

Hari Minggu ini, aku sudah janji akan menginap di apartemen Jae Joong Oppa. Tiba-tiba saja Oppa memintaku menginap di apartemennya. Tidak biasanya. Biasanya sih.., Oppa yang seminggu sekali menginap di rumah.

Begitu sampai di lantai 20, di depan pintu apartemen Jae Joong Oppa, pintu langsung terbuka. Jae Joong Oppa merentangkan kedua tangannya sambil tersenyum lebar. Aku memeluknya dengan erat. “Aku kangen sekali padamu, Min Ah.., ayo … aku ingin mengenalkanmu dengan teman-temanku.” Entah kenapa, Jae Joong Oppa terlihat kebingungan. Seperti bukan dirinya yang biasanya.

Di dalam apartemen kakakku…, duduk-lah empat orang cowok keren.

“Anyeooong…, aku Byun Baek Hyun.” Seorang cowok berwajah imut langsung berdiri dan menghampiri-ku. Dia tersenyum cute sambil membentuk peace sign dengan kedua jarinya. Aku membungkukkan badanku.

“Hello. I’m Kris.” Ujar seorang cowok tinggi dengan alis mata tebal dan rahang tegas. Aku membungkuk sopan padanya. Sepertinya dia tipe cowok berdarah dingin.

“Hai Min Ah.., apa kabar? Aku Luhan.” Ternyata masih ada satu lagi cowok cute. Cowok bernama Luhan itu tersenyum ramah. Aku balas tersenyum.

“Namaku SeHun. Senang bertemu denganmu.” Ujar cowok yang terakhir. Aku tersenyum. Masih bingung dengan keadaan ini.

Oke, jadi ada 2 orang cowok ramah, dan 2 orang cowok cool. Apakah mereka benar-benar teman Oppa-ku? Oppa-ku hanya mengizinkan teman-teman baik-nya saja yang bisa masuk ke dalam apartemennya. Tapi …sepertinya ini baru pertama kalinya aku bertemu dengan mereka.

“Min Ah.., tolong belikan kue karamel dan tiramisu untukku ya.” Pinta Jae Joong Oppa. “Baek Hyun yang akan mengantarmu.”

“Eeehh???”

“Kajja!!!” cowok bernama Baek Hyun merangkul pundakku dengan sebelah tangannya. Jae Joong Oppa melemparkan kunci mobil. Baek Hyun menangkapnya dengan cekatan. “Ayo…” Baek Hyun menarikku. Aku hanya bisa menatap Jae Joong Oppa yang kebingungan. Aku merasa… ada yang tidak beres. Tapi apa???

Mobil berhenti di depan sebuah toko kue bernuansa cream dan pink. Ini kaann.., toko kue langganan Young Min. Young Min sering membeli cheese cake di toko kue ini.

“Min Ah???”  ada yang memanggilku begitu aku dan Baek Hyun memasuki toko.

“Young Min???”

Pandangan Young Min tertuju pada Baek Hyun yang merangkul pundakku.

“Sedang apa?” tanya Young Min.

“Tentu saja membeli kue.” Jawabku singkat.

“Oh..,” mata Young Min masih tetap menatap Baek Hyun.

Baek Hyun membimbingku mendekati etalase. “Kau suka greentea kan?” Baek Hyun tersenyum padaku.

“Bagaimana kau bisa tahu?”

Baek Hyun tertawa. “Tentu saja aku tahu semua hal tentangmu.” Ujar Baek Hyun sambil mengedipkan sebelah matanya.

Aku tahu Young Min masih memperhatikan kami. Padahal dia sudah memegang box kue pesanannya, tapi ia masih saja tetap berdiri di sana. Memperhatikan semua gerak-gerik kami.

“Kau sudah coba cupcakes green tea? Cobalah…” Baek Hyun mengambil sampel lalu mendekatkannya ke mulutku. “Aaaaaaa…” Baek Hyun memintaku membuka mulut. “Ayo…” Baek Hyun tersenyum lebar. Mau tak mau, karena tidak enak, akhirnya aku membuka mulutku juga.

“Bagaimana? Enak kan?” tanya Baek Hyun.

Aku tersenyum sambil mengangguk. “Hmm.”

Triiiing.

Denting bel menandakan pintu toko terbuka. YoungMin keluar dari dalam toko tanpa mengatakan apapun.

Hari ini benar-benar aneh sekali!

******

Keesokkan harinya…

Aku sudah membawa seragam sekolah dan juga buku-buku pelajaranku ke apartemen Jae Joong Oppa, jadi aku tidak perlu pulang dulu ke rumah. Seperti biasa, Jae Joong Oppa memasak sarapan yang super duper enak.

“Kris akan mengantarmu ke sekolah.” Kata Jae Joong Oppa.

“Mwo?”

Jae Joong Oppa makan dengan cepat.

“Oppa.., kenapa kau jadi aneh begini?”

“Aku? Aneh?” kata Jae Oppa sambil menghindari tatapanku.

Aku mengangguk. “Seperti bukan dirimu. Sejak kapan kau suka menjodoh-jodohkanku dengan teman-temanmu? Dan.. sejak kapan kau berteman dengan mereka? Setahuku.., teman baikmu itu Yun Ho Oppa dan Chang Min Oppa.”

Jae Joong Oppa memijit-mijit keningnya. “Entahlah.”

“Oppa.., kau baik-baik saja?” tanyaku.

“Aku hanya merasa sedikit pusing. Aahh.., Kris! Kau sudah datang?”

Tiba-tiba saja, cowok bertampang cool itu sudah berdiri di depan pintu ruang makan. Bagaimana dia bisa tahu password apartemen Oppa-ku??? Sebegitu percaya-nya kah Oppa-ku padanya sampai-sampai memberi tahu password apartemen padanya???

“Ayo.” Kris menarik tanganku. Aku menatap Jae Joong Oppa. Oppa-ku itu hanya tersenyum tipis sambil melambaikan tangannya. Sumpah! Kalau seandainya sihir itu ada.., sepertinya saat ini Oppa-ku sedang berada dibawah kendali sihir! Dia terlihat linglung…. Dan terlihat bukan seperti dirinya yang biasanya.

Kris mengantarku ke sekolah dengan motor sport merah-nya. “JANGAN KENCANG-KENCANG!!!!” teriakku. Kris mengemudikan motor-nya seperti sedang berada di arena balap. Terpaksa aku memeluk pinggangnya agar tidak terjatuh.

Motor berhenti di depan gedung sekolah.

“Min Ah????”

Entah kebetulan atau apa, tapi sepertinya aku selalu bertemu dengan Young Min saat aku sedang bersama teman Oppa-ku.

Young Min menatapku tajam, lalu beralih menatap Kris yang tidak memakai helm. Helm Kris aku yang pakai. Rambut pirang Kris berantakkan, tapi justru semakin membuatnya terlihat cool.

Cewek-cewek menatap Kris penuh minat. Young Min terlihat marah. Entah kenapa.

“Kau bisa turun sekarang.” Kris menyentuh lenganku. Kemudian aku tersadar, sejak tadi aku masih duduk di atas motor sambil memeluk pinggang Kris! Aku melepaskan tanganku dari pinggangnya sambil menunduk malu. Sial!

“Young…” ketika aku hendak memanggil Young Min, dengan cuek-nya dia pergi begitu saja.  Meninggalkanku.

“Sampai nanti.” Kris mengangkat sebelah tangannya. Aku membungkukkan badanku. “Gomawo Kris Oppa.”

Di dalam kelas….

Sudah agak lama semenjak aku memutuskan pindah dari musical class ke regular class. Pada akhirnya ibuku bisa menerima keinginanku yang sebenarnya, begitupula dengan ayah Mi Young. Aku ingin menjadi dokter yang hebat seperti ayah Mi Young. Dan Mi Young ingin menjadi musisi yang hebat seperti ibuku.

Aku tahu, ada sesuatu yang menggangguku akhir-akhir ini. Seperti ada sesuatu yang hilang. Sesuatu yang seharusnya “ada”, tapi entah apa. Aku sendiri juga tidak tahu.

“Tumben sekali.., tidak biasanya kau dan Young Min marahan.” Kata Kwang Min.

“Eh? Marahan? Tidak kok.., siapa yang marahan?” tanyaku bingung.

Kwang Min mengangkat bahu-nya. “Sejak kemarin dia uring-uringan terus. Dan hari ini pun dia murung terus. Apalagi alasannya kalau bukan karena marahan denganmu?”

Tiba-tiba aku teringat sikap aneh Young Min saat di toko kue kemarin, lalu tadi pagi saat Kris mengantarku.

“Nanti malam jadi ikut kan?” tanya Kwang Min.

“Ke mana?”

Kwang Min menaikkan sebelah alis matanya. “Tentu saja nonton di bioskop bersama aku dan Mi Young. Young Min belum memberi tahumu?”

Aku menggeleng.

Kwang Min mengusap dagunya sambil berpikir. “Aneh.”

Ketika bel sekolah berbunyi, tiba-tiba saja seorang cowok berwajah imut masuk ke dalam kelas dan menarik tanganku. “Ayo kita pulang…,”

“Eeeh?? LuHan Oppa? Kenapa kau ada di sini?”

“Siapa?” tanya Kwang Min padaku.

“Hari ini aku tidak ada acara. Bosan sekali. Temani aku jalan-jalan, ne?” LuHan tersenyum manis. Duh, bagaimana mungkin aku bisa menolak aegyo-nya?! Kenapa sih Jae Joong Oppa tiba-tiba saja punya keempat sobat cowok yang keren-keren?!

“Kita mau ke mana?” tanyaku. LuHan menggenggam tanganku, melintasi lorong sekolah. Anak-anak berbisik-bisik sambil menatapku.

“Hmmm.., makan pizza? Ice cream? Nonton di bioskop?” usul Luhan dengan mata berbinar-binar.

“Min ah.., kau hari ini pulang ke rumah kan????” tanpa sadar aku dan Luhan melewati kelas Mi Young dan Young Min. Mi Young menatap Luhan curiga. Di belakang Mi Young, berdirilah Young Min yang menatapku tanpa ekspresi.

Aku mengangguk. “Hmm.., nanti sore aku pulang.”

“Jangan.., besok saja.” Potong Luhan sambil tersenyum sweet. “Kajja! Kita nonton Breaking Dawn.” LuHan menarik tanganku.

“Jadi kau belum mengajak Min Ah?? Dasar pirang pabo!!!!” pekik Mi Young pada Young Min. “Katanya mau double date???”

“Aku pulang dulu.” Kata Young Min dingin. Dia pun hanya pergi begitu saja.

“Ck..ck..ck..” Mi Young berdecak sambil menggelengkan kepala. “Baguslah. Pulang saja! Lebih asyik juga kalau aku hanya menonton bersama Kwang Min.” Mi Young kini menatap aku dan Luhan bergantian. Lalu tersenyum lebar. “Bagaimana kalau kita nonton berlima?” Mi Young tersenyum penuh rahasia. Aku tahu dia menyembunyikan ide aneh!

Aku menggeleng. “Aku sedang tidak ingin nonton. Kita makan pizza saja Oppa.., bagaimana?”

Luhan mengangguk. “Hmm. Kajja!” Luhan berlari sambil menarik tanganku. Dari kejauhan Mi Young melambaikan tangannya sambil nyengir lebar. Ah., dia pasti berpikiran aneh-aneh!

*******

Sudah 3 hari aku tidak berbicara dengan Young Min. Aku sudah pulang kembali ke rumah. Setiap pagi, seperti biasa Kwang Min menjemput Mi Young. Tapi hari ini lagi-lagi Young Min tidak datang menjemputku. Yah..bagaimana dia mau menjemputku? bicara padaku pun saja tidak pernah!

“Bareng kami saja lagi, Min.” kata Kwang Min padaku. Kwang Min baru saja turun dari mobilnya.

Sebelum aku menjawab, tiba-tiba saja sebuah Lexus merah dengan atap terbuka menepi di depan rumah. Seorang cowok berkulit seputih susu, kacamata hitam, dan jaket kulit hitam yang sangat kontras dengan kulitnya-  turun dari mobil.

“Se Hun Oppa??” aku kaget karena tiba-tiba saja salah satu teman Jae Joong Oppa itu kini ada di depan rumahku.

Demi Tuhan! Ada apa sih dengan keempat teman Oppa-ku ini??? Kenapa tiba-tiba mereka selalu muncul tanpa terduga???

“Anyyeong.” Sapa Se Hun cool sambil tersenyum tipis.

“Omo.., neomu kyeopta…” gumam Mi Young sambil menatap Se Hun penuh kagum. Kwang Min mendelik kesal pada Mi Young.

“Ayo.., jangan sampai terlambat.” Se Hun Oppa menarik tanganku. Aku pun hanya menurut. Satu persamaan dari keempat teman Jae Joong Oppa adalah : senang sekali menarik-narik tanganku!

Aku pun duduk di samping Se Hun. Mobil mulai melaju. Dari kaca spion, aku bisa melihat sosok Young Min yang berdiri di samping motor sport-nya. Dia datang menjemputku? aku membalikkan badan, tapi Young Min sudah tidak terlihat lagi.

*******

Sudah 1 minggu berlalu. Young Min masih saja berusaha menghindariku. Aku sering mengiriminya email dan sms, tapi tak ada satupun yang dia balas.

Aku menghela napas panjang. kemudian mulai menulis short message untuk Young Min :

Hari ini aku mau main ice skatting. Kalau kau mau ikut, datang saja. Di tempat biasa.

Send.

Triing..

Ada sms masuk.

From : Jo Young Min

Sebenarnya kau punya berapa banyak cowok? Datang saja dengan salah satu dari mereka!

Aku membelalakkan mataku. Kemudian tertawa. Rupanya kau jealous, Jo Young Min? Baiklah.., aku akan membuatmu semakin jealous!

Aku menelepon Jae Joong Oppa.

“Yeoboseyo.., ada apa Min sayang?” sapa Jae Oppa lembut.

“Oppa.., diantara teman-temanmu…, hmm.. Kris Oppa, Baek Hyun Oppa, Lu Han Oppa, atau Se Hun Oppa.., siapa kira-kira yang hari ini bisa menemaniku main ice skatting ya? Boleh aku minta nomor telepon mereka?” tanyaku bersemangat. Setelah mendapat sms dari Young Min barusan,  kini akhirnya aku mengerti. Young Min bukan membenciku dan menghindariku. Dia hanya cemburu. Aku tersenyum senang.

Jeda beberapa saat. Jae Oppa hanya terdiam.

“Siapa Min? aku tidak punya teman bernama Kris, Baek Hyun, Lu Han, ataupun Se Hun.”

“MWO???? Hahahaha.., Yaaa!! Oppa! Jangan bercanda! Bukankah….” Aku menceritakan tentang kejadian-kejadian seminggu yang lalu. Mulai dari Jae Oppa yang mengenalkanku pada teman-teman barunya itu.

“Memangnya hari minggu kemarin kau menginap di apartemen-ku Min? Bagaimana bisa? Hari minggu kemarin kan aku sedang berada di Jeju untuk pemotretan. Kalau kau tidak percaya…, aku bisa mengirimi-mu video saat aku pemotretan hari minggu itu. Hahaha.., Miin Ah.., kau kangen pada Oppa-mu ini ya?” Jae Oppa tertawa renyah.

Jantungku berdegup kencang. Apa-apan ini???

Lalu tiba-tiba saja Kwang Min lewat di depanku. “Kwang Min!” panggilku. “Kau ingat kan cowok bernama LuHan yang waktu itu datang menjemputku?”

Kwang Min mengangguk. “Hmmm.., cowok bertampang baby face itu kan?”

Aku mengangguk, lalu berbicara lagi pada Jae Oppa. “Oppa.., jangan bercanda! Kau membuatku merinding.”

“Aku tidak bercanda Min sayang.., aku sungguh-sungguh belum pulang sejak satu minggu lebih ini. Dan aku tidak punya teman bernama Luhan..Kris.., siapa lagi itu yang tadi kau sebutkan? Kau bisa tanya manager-ku kalau tidak percaya, Miiin…”

Kepalaku terasa berputar. Omongan siapa yang harus kupercaya??? Jelas-jelas Kwang Min sendiri tahu Luhan. Tapii.., bagaimana mungkin Jae Oppa tidak mengenal Luhan? Kalau hari Minggu lalu Jae Oppa berada di Jeju.., lalu siapa yang kutemui di apartemennya waktu itu? Siapa yang kupeluk waktu itu? Siapa yang membuatkanku sarapan waktu itu? Jelas-jelas itu Jae Joong Oppa, kan? Aneh. Benar-benar aneh. Apakah Jae Oppa menjahiliku? Tapi.., untuk apa?

=== End of Min Ah PoV ====

****

=== Tae Min PoV ===

17.00 KST

Arena ice skatting cukup ramai. Aku berdiri di pinggir arena. Sudah siap meluncur, tapi masih saja tetap diam dan hanya berdiri menatap gadis itu.

Kim Min Ah…

Gadis berambut panjang itu meluncur ke sana kemari dengan lincah. Kedua alis matanya bertaut. Seperti memikirkan sesuatu. Aku tersenyum. Aku tahu.., ulahku beberapa hari ini memang keterlaluan. Keterlaluan sekali membuat Min Ah kebingungan.

Tapi…, seperti tujuan awalku dulu…, aku hanya ingin membuat gadis itu bahagia. Aku tidak ingin dia bahagia hanya karena Mi Young bahagia. Tapi aku ingin dia mendapatkan kebahagiaannya sendiri.

“Ah.., akhirnya kau tidak menyuruhku melakukan hal yang aneh-aneh lagi.” Tiba-tiba saja Jung Il Woo hyung berdiri di sampingku. Dia menampakkan sosok aslinya. Iblis tampan bersayap hitam. Manusia-manusia di sekeliling kami tidak ada yang bisa melihatnya. Bahkan saat mereka menembus Il Woo hyung pun, mereka tidak tahu. Tapi mereka pasti merasa bulu kuduk mereka merinding tiba-tiba.

“Gomawo hyung…” kataku tulus.

“Ne..ne…, kau tahu? Ternyata tipe-tipe cowok seperti Kris, Baek Hyun, Luhan, dan SeHun itu memang banyak diidolakan manusia ya? Cih! Aku lebih suka dengan wujud asliku.” Il Woo hyung meregangkan sayap-sayap hitamnya. “Berubah wujud dan membagi diriku dalam 4 sosok manusia membuatku lelah. Hoaaahhhhmmmm…” Il Woo hyung menguap. Aku tertawa. Sikapnya sudah seperti manusia saja. Bagaimana mungkin iblis bisa menguap dan mengantuk?!

Aku memicingkan mataku. “Kau selalu menarik-narik tangan Min Ah.”

Il Woo hyung mengangkat bahu. “Bukankah itu disukai para gadis di dunia manusia ini? Aku menonton beberapa drama sebagai referensi….”

“Huwahahahaha…hahahaha…” aku terbahak-bahak. Geli membayangkan ada iblis yang menonton drama. Hanya untuk membantuku. Kakakku yang satu ini memang benar-benar hebat!

Orang-orang menatapku aneh. Aku tertawa sendiri. Bicara sendiri. Tentu saja karena mereka tidak bisa melihat Il Woo hyung.

Il Woo hyung menepuk-nepuk pundakku. “Segera selesaikan semua masalah di sini. Lalu..kembalilah ke negeri sapphire. Kau harus menjadi raja yang baik, juga… jangan lupa mampir ke istana-ku.”

Aku mengangguk. “Hmm. Tentu. Sekali lagi.., gomawo hyung…”

Jung Il Woo hyung menghilang. Aku pun mulai meluncur di arena ice skatting….

Ya.., selama seminggu ke belakang ini…aku meminta bantuan Il Woo hyung untuk menjadi manusia. Untuk menjadi sosok bernama Kris, Baek Hyun, Luhan, dan SeHun. Sementara aku sendiri.., aku berubah menjadi Kim Jae Joong. Kakak Min Ah. Meski harus kuakui… aktingku buruk sekali. Aku tidak pandai menjadi Kim Jae Joong. Sementara Jung Il Woo hyung begitu menghayati peran-nya menjadi keempat cowok idola.

Aku menatap arena ice skatting, tersenyum simpul melihat Min Ah yang  masih berpikir keras.

Aku meluncur dari arah yang berlawanan dengan Min Ah.

Bruuukkk.

Min Ah kurang fokus, sehingga menabrak tubuhku. “Jeosonghamnida…”

“Gwenchana.” Kataku pelan, lalu memeluknya sepenuh hati. Sama seperti saat aku memeluknya seminggu lalu, ketika aku berubah wujud menjadi kakaknya.

Min Ah menatapku. Terdiam. Selama beberapa saat dia hanya menatapku. Aku tahu dia merasakan .., mengingat kejadian-kejadian buram. Seperti dalam mimpi. Baginya.., aku hanya orang di dalam mimpi. Ya, pada akhirnya aku memang memutuskan untuk menghapus ingatan semua orang di dunia manusia yang terlibat denganku. Kini beberapa dari manusia hanya mengenalku sebagai dokter Lee.

Aku melepas pelukanku, lalu memegang kedua bahu Min Ah dengan tanganku dan menatapnya lekat-lekat. “Kim Min Ah.., kebahagian itu.., kau sendiri yang menciptakannya. Bukan orang lain. Tapi kau sendiri. Kebahagiaan…tidak datang dengan sendirinya, jadi jangan menunggu ia datang. Kejarlah kebahagiaanmu, Min Ah…” aku mengelus puncak kepalanya. Min Ah hanya terdiam dan menatapku. Aku tersenyum. Memeluknya untuk yang terakhir kali, kemudian pergi.

=== End of Tae Min PoV ===

***

=== Min Ah PoV ===

Siapa dia?

Pertanyaan itu terus terngiang di otakku. Tapi..meskipun aku tidak mengenalnya.., aku merasa nyaman saat dia memelukku.

Siapa dia? Kenapa dia bisa tahu namaku? Apakah aku mengenalnya? Kapan?

Tiba-tiba saja berbagai kelebatan peristiwa muncul dalam benakku. Kenapa?

Namja itu masih memelukku dengan erat. Aneh. Meskipun otakku tidak mengenalinya, tapi aku tahu hatiku merindukannya. Siapa dia???

“Kim Min Ah.., kebahagian itu.., kau sendiri yang menciptakannya. Bukan orang lain. Tapi kau sendiri. Kebahagiaan…tidak datang dengan sendirinya, jadi jangan menunggu ia datang. Kejarlah kebahagiaanmu, Min Ah…” dia menyentuh puncak kepalaku. Rasanya nyaman. Rasanya tepat. Seolah dia sudah sering melakukan hal itu padaku.

Aku hanya bisa menatapnya. Terlalu banyak kejadian aneh dan tidak masuk akal akhir-akhir ini. Dia tersenyum, lalu pergi begitu saja.

Kebahagiaanku…, dia bilang … aku harus mengejar kebahagiaanku?

“Kau tidak datang dengan salah satu cowok bertampang idola itu?”

“Young Min???” tiba-tiba saja Young Min muncul. Dia meluncur pelan.

Young Min. salah satu kebahagiaanku.

Kejarlah kebahagiaanmu….

Aku pun meluncur di belakang Young Min, mengikutinya, perlahan pelan.., lalu mulai menambah kecepatan.

Aku memeluk punggung Young Min dari belakang. Tanpa kuduga, kami terjatuh. Tubuhku menimpa punggung Young Min.

“Hahahaha…” kami hanya terbahak-bahak. Orang-orang menatap kami sambil tersenyum.

Aku berdiri, lalu mengulurkan tanganku pada Young Min. Membantunya berdiri.

Young Min memelukku. “Saranghae…” bisiknya.

“Ara.” Kataku.

Young Min melepaskan pelukannya sambil melotot padaku.

Aku tertawa. “Ne..ne.., nado saranghae, Young Min ~ ah…” kemudian memeluknya lagi.

Aku tahu.., banyak kebahagiaan menantiku di depan sana. Dan aku harus berusaha mengejarnya…lalu meraihnya!

==== End of Min Ah PoV ====

*******

=== Tae Min PoV ==

Hari berganti minggu.

Minggu berganti bulan.

Bulan berganti tahun.

Tahun demi tahun sudah berlalu di dunia sapphire.

Aku masih menyayangi kedua putri. Sama seperti dulu. Tidak pernah berkurang sedikit-pun. Meski sekarang mereka sudah tidak se-muda dulu…, tapi bagiku…mereka tetap cantik. Bunga Lilly dan Rose-ku.

Kebiasaan burukku melihat kedua putri tertidur lewat balkon kamar mereka sudah berhenti kulakukan semenjak mereka menikah.

30 tahun.

Aku tidak percaya kini mereka sudah berumur 30 tahun di dunia manusia. Mereka seudah dewasa, tapi bagiku…mereka tetap putri-putri kecilku.

Aku berkunjung ke dunia manusia…

Tubuhku masih sama seperti dulu. Waktu tidak bisa mengubah wajah maupun tubuhku. Aku masih tetap berwujud Lee Tae Min yang berusia 18 tahun.

Suara-suara anak kecil yang bermain di taman itu membuatku tersenyum. Seorang anak laki-laki berumur 5 tahun berlarian mengejar seorang anak perempuan berumur 5 tahun. Anak laki-laki itu sangat mirip dengan Min Ah dan Young Min. Sedangkan anak perempuan itu sangat mirip dengan Kwang Min dan Mi Young. Kedua anak itu memiliki ayah kembar, jadi bisa dipastikan mereka pun mirip seperti kembar laki-laki dan perempuan. Padahal kan sebenarnya bukan.

Young Min dan Mi Young ikut berlarian bersama anak mereka masing-masing. Main kucing-kucingan.

Sementara Min Ah dan Kwang Min duduk di rerumputan di bawah pohon. Menyiapkan makanan.

Simple. Kehidupan manusia yang simple. Akhirnya mereka mendapatkannya. Tidak ada lagi ingatan-ingatan ribuan tahun lalu yang mengganggu mereka. Biar saja.., biar hanya aku saja yang mengingat semuanya.

Aku merasakan bahu-ku diremas hangat. Aku menoleh dan melihat Raja Ye Sung berdiri di sampingku sambil tersenyum.

“Kau bahagia, Nak?” tanya Raja Yesung.

Aku mengangguk. “Tentu saja.” Jawabku mantap.

“Jangan hanya bahagia karena melihat mereka bahagia.., tapi raihlah kebahagiaanmu sendiri.” Kata Raja Yesung.

Aku tersenyum. Rasanya…, itu adalah kata-kata yang pernah kuucapkan pada Min Ah 13 tahun yang lalu.

Aku menghela napas. “Aku tahu.” Terdiam sejenak sebelum akhirnya kembali bicara. “Tapi bagiku.., semua ini sudah lebih dari cukup. Aku tidak ingin berharap lebih untuk diriku sendiri. Karena yang terpenting untukku hanyalah mereka…” aku menatap Min Ah dan Mi Young penuh kerinduan.

“Kau tahu Nak.., kenapa dulu mereka bertukar tubuh?”

“Agar mereka mendapatkan kebahagiaan mereka. Kebahagiaan yang sudah seharusnya mereka dapatkan sejak ribuan tahun lalu, tapi karena dulu aku bertindak bodoh….”

“Bukan.” Potong Raja Yesung.

“Semuanya demi dirimu, Nak. Agar kau bisa terus hidup dengan bahagia.”

“Maksud Anda?” tanyaku tak mengerti.

Raja Yesung menggeleng, lalu berkata dengan suara berat. “Sebenarnya…, Min Ah dan Mi Young tidak ditakdirkan untuk bereinkarnasi kembali. Saat mereka pergi dari dunia Sapphire.., itu berarti seharusnya mereka pergi untuk selamanya. Tapi.. mereka berdua memohon pada penentu takdir …, tidak apa-apa bila mereka harus kembali merasakan penderitaan yang sama. Siklus kehdupan menyakitkan yang berulang. Karena dengan begitu.., mereka bisa melihatmu lagi, Nak. Mereka ingin kau hidup bahagia. Selamanya.”

Air mataku mengalir deras.

Raja Yesung kembali bicara. “Kau tahu Nak.., jatah hidup manusia sangatlah singkat. Hanya sekejap mata.., mungkin mereka akan segera menghilang. Saat itulah…, ketika mereka menghilang dari dunia ini.., kau akan melupakan mereka…”

“ANDWAEEE!!!” pekikku.

Raja Yesung menepuk-nepuk pundakku hangat. “Ingatlah pengorbanan mereka, Nak. Mereka harus merasakan sakitnya siklus kehidupan itu lagi. Semuanya demi dirimu. Mereka tidak akan pergi dengan tenang sebelum tahu kau hidup dengan bahagia.”

“Bagaimana…mereka bisa tahu?”

Raja Yesung menyentuh dada bidang-ku. “Dengan ini.” Katanya pelan. “Mereka bisa merasakannya di sini.”

Air mataku terus mengalir dengan deras tanpa bisa kucegah.

“Secret Wish. Harapan rahasia mereka. Kini kuberitahukan rahasia itu padamu, Nak. Hiduplah dengan bahagia, seperti apa yang mereka inginkan. Aku tahu kau pasti bisa, Raja Lee Tae Min.” Raja Yesung membungkukkan badannya sedikit.

Aku tahu. Semua ingatanku tentang mereka akan menghilang sebentar lagi. Saat mereka meninggalkan dunia ini.., saat itulah mereka akan membawa pergi semua ingatanku tentang mereka.

Kini, di waktu yang tersisa sedikit lagi ini.., aku hanya ingin terus melihat mereka dari kejauhan. Memastikan mereka hidup dengan layak dan bahagia. Kemudian.., barulah aku bisa melepaskan semua ingatanku tentang mereka, dan kemudian memulai kehidupanku seperti yang mereka inginkan.

Kebahagiaanku… adalah saat mengetahui mereka ternyata hidup bahagia untuk membuatku lebih bahagia.

Meskipun nanti otakku tidak bisa mengingat semua kejadian di masa lalu.., tapi aku yakin.., hatiku bisa merasakannya. Hatiku akan selalu mengingat kalian.., bunga Lily dan bunga Rose-ku.

Selamanya aku akan mengingat kalian dengan segenap jiwa-ku.

=== END ===

Makasih yahhhh buat semua yang udah baca apalagi RCL ^^ *deep bow* semoga suka dengan ceritanya

With <3, azumi and kunang ^^v,