Tags

, , , , , , , ,

1404853802

Title : Qualified School (QS), Chapter 4 : New Transfered Student

Author : Kunang | Main Cast : Do Kyung Soo/D.O (EXO-K), Oh Mi Young (OC), Choi Jun Hong/Zelo (B.A.P), Kang Seung Yoon (Winner)| Support Cast: Kyuhyun (SuJu)Kris (EXO-M),Sehun(EXO-K), Jongup(B.A.P), Taehyun (Winner), Mingi (OC), Chanri (OC), Shin Ae (OC), Hanbin (Team B) & the others, find by your own |  Length : Chaptered | Genre : Family, romance, school life, friendship, fantasy | Rating  : PG-15

Disclaimer       : Mi Young milik Kunang, Min Gi milik my twin sist Chea, Shin Ae milik Azumi dan Chanri milik naeui dongsaeng purplefy. sedangkan member EXO, BAP dan Winner milik mereka sendiri. Cerita ini murni milik dari weird- happy- chicken maniac– Kunang, plagiat jauh-jauh sebelum di buang sama Kyungsoo keujung dunia.

Summary         : Oh Mi Young, gadis nekat, cuek, keras kepala dan selalu memandang sesuatu dengan positif. Dia adalah gadis yang selalu berambisi kuat mencari pangeran yang minggat dari planet asalnya. Ya, tidak ada yang tahu bahwa gadis ini sebenarnya adalah alien dari planet Zallua dan memiliki kekuatan spesial yang tidak biasa. Tapi tampaknya hidup di bumi tak semudah yang ia bayangkan apalagi saat ia harus masuk di dalam sekolah khusus, Qualified School of Arts dan terlibat dengan namja ter-annoying sedunia Kang Seung Yoon, namja ter-jahil sedunia Choi Jun Hong dan namja ter-misterius sedunia Do Kyung Soo. Akan kah gadis ini mencapai tujuannya?

Resume Previous Part : Kyungsoo akhirnya mengetahui rahasia Miyoung, pada akhirnya ia pun tetap menyembunyikan rahasia itu dari Kyuhyun dan yang lainnya. Sedangkan Seungyoon yang mulai menaruh perhatian pada Miyoung, mulai mencurigai hubungan Kyungsoo dan Miyoung, dan disaat itu, kembaran Mi Young, Oh Min Gi datang dengan maksud tertentu ke Qualified School.

 

===||.: Author PoV :.||===

 

@Office Building Qualified School, 2nd floor

 

“Hyung, sebenarnya siapa yang ingin bertemu dengan ku? Rasanya aku tak membuat masalah akhir akhir ini” kata Seungyoon sambil menghentikan langkahnya tepat saat ia telah menaiki anak tangga terakhir. Karena beberapa alasan, ia tidak pernah merasa senang untuk menginjakkan kaki di lantai dua bangunan kantor Qualified School. Dan Youngjae juga terlihat aneh, tidak biasanya mantan wakil representative school seperti dia mau repot-repot memanggilnya walau diminta oleh guru sekalipun.

“…” Young jae tak berkata apapun, hanya memandang Seungyoon sekilas dengan tatapan mencela sebelum kembali berjalan ke arah ruangan VIP. Dengan tidak sabar, Seung yoon berhasil menahan keinginannya bertanya lagi dan mengikuti langkah Youngjae di depannya, toh pada akhirnya dia akan tahu juga kan?

Cklek

“Kyuhyun seonsaengnim?” Seungyoon mengerutkan kening dalam-dalam saat melihat seorang pemuda tinggi berkulit seputih batu pualam balik menatapnya dengan senyum khas yang hanya dimilikinya. Seolah ditarik oleh kekuatan gaib yang tak tampak, Seungyoon berjalan mendekati kepala sekolahnya yang masih belum melepaskan senyum yang membingkai di wajah tirusnya.

“Youngjae, kau boleh pergi” titah Kyuhyun, dan tak lama Seungyoon dapat mendengar suara pintu ditutup agak kencang dan membuatnya seolah tersadar dari pengaruh hipnotis.

“Seonsaeng apa—“suara langkah seseorang dari ruangan lain di samping ruang VIP mengalihkan perhatian Seungyoon, bahkan Kyuhyun pun memalingkan wajahnya.

Drap drap drap…

“Oppa! apa orang yang bernama—“

Oppa?

“Ah.. maksudku hyung, jadi dia yang bernama Kang Seungyoon? Hahahhaha” sosok seorang namja cute tiba-tiba muncul dari ruangan sebelah dan kemudian tertawa awkward. Namja di depannya itu berambut pendek, berkacamata bulat dan menggunakan topi hitam bermotif tengkorak, juga celana jeans hitam dengan bagian lutut yang dirobek plus jaket kulit berwarna senada. Tampilannya terlalu kontras dengan wajahnya yang imut, tipe flower boy yang sedang disukai banyak gadis. Tapi anehnya, Seungyoon merasa pernah melihat wajah itu sebelumnya.

“Kau mengenalku?” Tanya Seungyoon ragu.

“Tentu, Kyuhyun hyung banyak menceritakan tentang murid muridnya, oh ya perkenalkan namaku … Cho Seung Gi” katanya lagi sambil mengulurkan tangan mungilnya ke arah Seungyoon yang masih memasang mark face. Saat Seungyoon menjabat tangan itu, rasa dingin yang aneh seketika menjalari tubuhnya dan itu membuatnya merasa tak nyaman.

“Jadi, aku memanggil mu kemari untuk mengantar Seung Gi keliling sekolah ini, mulai besok dia akan masuk ke special class tingkat tiga” jelas Kyuhyun setelah mereka melepaskan jabatan tangan masing-masing.”Dia masih keluargaku jadi kuharap kau bisa memperlakukan dia dengan baik”

“Kau sudah tahun ketiga?” tanya Seungyoon tak percaya, ia hampir berpikir jika Seung Gi adalah siswa tahun pertama.

Seunggi menganguk, dan Kyuhyun tersenyum puas melihat ekspresi Seungyoon “Jadi kuharap kau bisa mengantarkan Seunggi berkeliling sekarang”

“Okay” kata Seungyoon tidak fokus, pikirannya tiba-tiba kembali pada Miyoung yang masuk ke dalam ruangan vocal bersama Kyungsoo. Entah mengapa dia merasa harus cepat-cepat lewat ruangan vocal untuk mengintip apa yang mereka berdua sedang lakukan.

“Seungyoon ssi, apa kau kenal dengan seseorang yang bernama Do Kyungsoo?”

“Eh… ehhhh???” Seungyoon agak terkejut karena orang di depannya itu tiba-tiba menanyakan Kyungsoo, seolah bisa membaca apa yang sedang dipikirkannya. Tapi untunglah namja itu dapat segera mengendalikan dirinya “ Ah, tentu saja aku mengenalnya, memangnya kenapa?”

Seunggi tersenyum tipis, tapi ntah mengapa senyuman itu membuat hati Seungyoon sekali lagi merasa tidak tenang. Dia yakin ada sesuatu yang disembunyikan dibalik senyuman itu.

“Aku mempunyai hutang yang belum sempat kubayar pada Kyungsoo ssi, dan untuk saat ini akan kupastikan, aku akan membayarnya lunas”

 

===||.: MIYOUNG PoV :.||===

@Ruang Vocal

Dua jam kemudian, Jam Makan siang

 

“Kalau kau punya waktu untuk mengeluh lapar, lebih baik kau gunakan waktu mu itu untuk latihan vocal!” kata Kyungsoo oppa ketus ketika aku setengah berdiri hendak meninggalkan bangku piano, aku menarik nafas panjang berusaha untuk sabar sebelum kembali duduk di sampingnya.

“Baiklah, jadi aku harus menyanyi dari mana?”

Kyungsoo oppa membolak balik sheet music di depan kami, dan kemudian menunjuk baris pertama lagu berjudul First Snow, lagu yang sejam lalu baru dinyanyikan seluruh siswa special class, dan yang gagal membawakannya hanyalah aku. Tadi tak henti-hentinya Seungri seonsaeng memanggilku ‘tone deaf’ dan paling menyebalkannya si Do Kyungsoo ini bukannya membelaku malah mengejekku dengan mengatakan kalau tikus bahkan lebih pandai menyanyi di bandingkan aku!

Hah! Memangnya tikus bisa bernyanyi? Oke… sepertinya kesalahan besar meminta Kyungsoo oppa untuk datang ke kelas vocal.

“Oh Miyoung!! Lirik mu salah! Sudah nadanya salah kau mau tambah salah lirik juga?!” baru kali ini aku melihat Kyungsoo oppa benar-benar seperti kehilangan kesabarannya. Dia menatapku kesal seolah aku membuat kesalahan besar yang patut diberi hukuman berat.

“Mian aku tidak fokus, hanya…”

“Sudah diam! tutup matamu dan dengarkan aku …”

“Tutup mata?” aku menatap Kyungsoo oppa dengan heran, tapi dia malah memelototi ku dengan mata bulat besarnya.

“Baiklah tuan D.O, kau galak sekali sih hari ini!” kata ku akhirnya mengalah dan menutup kedua mataku. Tak lama aku mendengar suara piano menggema di telingaku, satu menit, dua menit mungkin lebih berlalu, tapi aku belum mendengar bait pertama lagu First Snow, anni… ini bukan lagu First Snow melainkan Miracle in December.

Dan tiba-tiba saja suara yang terasa begitu jauh seolah perlahan mulai membisiki ku.

“Youngie ya…. Dengarkan aku bernyanyi, hanya kau lah yang bisa mendengarnya Youngie ya…”

 

Boiji anneuneun neol chajeuyeogo aesseuda

I’m struggling to find you  Who I cannot see

Deulliji anneun neol deureryeo aesseuda

I’m struggling to find you  Who I cannot hear

Boiji anteón ge boigo

I see things that I couldn’t see before

Deulliji anteón ge deullyeo

I see things that I couldn’t hear before

Neo nareul tteonan dwiro naegen eopdeon himi saenggyeosseo

After you left me, I have grown a power that I didn’t have before

 

“Kau jahat pangeran Will….” Aku menutup wajahku yang basah karena air mataku yang tiba-tiba saja menetes deras. Nyanyian Kyungsoo oppa seolah cerminan dari isi hatiku sejak ditinggal oleh pangeran Will hingga sekarang, dan itu benar-benar mengiris hatiku.

“Oh Miyoung? Kau kenapa?” Kyungsoo oppa yang telah menghentikan permainannya sekarang menarik bahuku agar menghadap ke arahnya “Yaa?! Kau kenapa? Apa kau benar-benar lapar hingga menangis seperti ini? Baiklah kita makan sekarang tapi—-“

“Apa kau pangeran Will?” aku tak tahu apa yang merasuki otakku hingga mulutku tiba-tiba saja bertanya demikian, tapi aku tak peduli, aku hanya mengikuti perasaan ku saat ini. Pangeran pernah berkata jika aku mencintainya, maka aku akan bisa mendengar lagu yang hanya aku lah yang bisa mendengarnya, dan kata-kata Kyungsoo oppa tadi…

“Kenapa kau diam saja oppa?! Jawab pertanyaan ku oppa! siapa kau sebenarnya? Apa kau.. apa kau Pangeran Will?”

Kedua tangan Kyungsoo yang menggenggam bahuku melonggar dan perlahan turun, ia pun menunduk sejenak sebelum balas menatapku dengan ekspresi datarnya.

“Oppa?!”

“Aku tak mengerti apa yang kau maksud Oh Miyoung”  Kyungsoo oppa berdecak kemudian dengan dinginnya berdiri untuk mengambil tasnya yang tergeletak di meja belakang “Pangeran Will? Maksud mu Pangeran William dari Inggris itu? Apa kau tidak tahu kalau dia sudah menikah?”

Aku menelan ludahku, merasa malu sendiri. Tapi terlebih aku kesal dengan Kyungsoo oppa yang sama sekali tak mencoba mengerti diriku.

“Sekarang bagian ku, oppa yang dengarkan!”

“Mwo?”

Aku menyingkirkan sheet music dan memainkan Chopin : Piano Concerto No. 1 in E Minor, berusaha meluapkan semua emosi ku disana. Rasa putus asa, kenangan dan harapan ku yang rasanya dianggap hal sepele oleh Kyungsoo oppa membuatku merasa seperti orang bodoh.

“trang… “

Aku tiba-tiba menghentikan permainan ku saat menyadari dua pasang mata memperhatikan ku dari balik pintu ruang vocal yang terbuka sedikit. Sekilas aku melihat sosok namja yang baru saja berbalik dan menghilang seolah menghindari tatapan ku.

“Kang Seung Yoon dan… siapa namja itu?”

“Namja?” Kyungsoo oppa mengikuti arah pandanganku, tapi sekarang hanya tingggal namja chubby  yang tak lain adalah Seungyoon, dia sekarang membuka pintu lebar lebar.

“Setengah jam lagi ruangan ini akan dipakai oleh kelas reguler” kata Seugyoon dengan nada seolah aku dan Kyungsoo oppa sudah melanggar aturan. Tapi sepertinya Kyungsoo oppa tampak tak terpengaruh.

“Kami sudah selesai” kata Kyungsoo cuek sambil melempar tas ke arahku yang untungnya bisa kutangkap “kajja tone deaf! Bukan kah kau sudah kelaparan?”

“Ah.. eh.. nee…” aku menyelempangkan tas ku, merasa sedikit bingung. Tadi itu Kyungsoo oppa benar-benar mengajakku? Padahal sebelumnya aku sudah bertanya aneh-aneh padanya. Atau..

“Tunggu!” Seungyoon tiba-tiba menahan pergelangan tangan ku, ia memalingkan wajahnya dan terlihat begitu serius “Aku harus bicara denganmu Oh Miyoung, kau harus menjelaskan kejadian  di kamar ku kemarin malam”

“Y..YAA! AKU TIDAK MELAKUKAN APAPUN KOK!” aku mendelik sebal ke arah Seungyoon, dan tidak berani menatap ke arah Kyungsoo oppa. Memang kemarin malam aku ke kamarnya karena terpaksa untuk mendapatkan sign CD yang diinginkan Chan ri, tapi dia tak perlu membicarakannya di depan Kyungsoo oppa kan?

“Mi young kau..”

“Lepas!”

“Kau habis menangis?” Seungyoon membalik tubuhku dengan mudah tepat menghadap ke arahnya. Spontan aku hendak memalingkan wajahku tapi dia tiba-tiba menyentuh kedua pipiku “Mata mu merah, apa—“

“Aku tidak menangis! Memangnya aku cengeng?!” kataku sebal sambil mendorong Seungyoon sekarang, dan bersamaan dengan itu Kyungsoo oppa tiba-tiba menyelipkan tangannya di telapak tangan ku.

“Kajja Miyoung ah!”

Kajja Miyoungie!!

Dan sepatah kata itu, membangkitkan kembali sebuah kenangan yang terkubur di masa kecilku. Saat dimana seseorang yang kutahu akan selalu ada di pihakku, mengajakku untuk bermain. Samar-samar aku bisa melihat sosoknya, dia yang memanggilku bukan lah Kyungsoo oppa ataupun Seungyoon oppa yang  sekarang berada di sampingku, melainkan namja jangkung berpipi tirus yang telah berdiri di depan ku.

“Jun Hongie….”

Dan kemudian semuanya terasa berputar dan akhirnya gelap.

 

=====Still Mi Young PoV====

 

Beberapa jam kemudian

@Klinik Sekolah

 

Perlahan aku membuka mataku yang terasa berat saat mencium aroma minyak angin yang menusuk hidung. Hal yang pertama aku lihat adalah dinding putih dan gorden berwarna senada, kemudian wajah cemas Sehun oppa.

“Oppa?”

Aku mencoba bangun dan terkejut sendiri karena sekarang aku sudah kembali menjadi Lauren! bisa kalian bayangkan?!  Sekarang aku sudah menjadi diriku yang berumur 5 tahun!!

“Bagaimana mungkin aku—-“ Aku menatap tubuh mungilku yang memakai seragam kebesaran dengan bingung, bagaimana mungkin aku bisa berubah menjadi Lauren? Apa yang sebenarnya terjadi?

“Ganti baju mu, dan setelah ini kau harus menjelaskan apa yang tadi terjadi!” kata Sehun oppa dingin sambil meleparkan tasku, dan kemudian ia meninggalkanku sendirian di ruang klinik. Ya, aku selalu membawa baju Lauren untuk jaga-jaga, karena aku bisa berubah menjadi Lauren karena dua hal. Dan yang satu sepertinya kalian sudah tahu.

Sebentar, berarti tadi ada yang …. Mencium ku? Karena rasanya tak mungkin aku menjadi Lauren karena hal kedua. Pantas saja Sehun oppa sepertinya marah sekali.

Aku memegang bibirku yang terasa hangat sambil berusaha mengingat. Terakhir aku di ruangan vocal bersama Seungyoon dan Kyungsoo oppa, lalu tiba-tiba Junhoong alias Zelo muncul, dan dia mengatakan sesuatu…. Tapi apa?

Kyungsoo oppa

Sambil mengganti baju ku dengan baju anak-anak, entah mengapa aku terus kepikiran dia. Dan gilanya aku sedikit berharap jika dialah yang mencium ku, walau aku tahu mungkin harapan ku ini sia-sia. Jelas sudah Kyungsoo oppa menganggap pertanyaanku saat menanyakan pangeran Will adalah lelucon yang tidak lucu dan dia pun selama ini terlihat membenciku.  Tapi meskipun begitu…

“Lauren, kau sudah beres?”

“Ah nee oppa…” balasku sambil hendak memakai tas, tiba-tiba aku teringat tatapan Kyungsoo oppa yang begitu lembut saat menatap  Lauren dan perbedaannya sangat kontras dengan tatapannya saat menatapku. Tapi jika Kyungsoo oppa memang yang menciumku, ada kemungkinan dia sudah bisa menebak aku dapat berubah menjadi anak kecil kan?  walau begitu tidak ada salahnya dicoba.

“Sehun oppa, mian..” aku menatap pintu klinik sambil tersenyum kecil dan melirik kaca jendela klinik yang terbuka sedikit. Baiklah memang klinik ini terletak di lantai dua, tapi dahan pohon maple yang tumbuh mendekati jendela akan membuat ku melarikan diri dengan lebih mudah bukan?

Yup! Soal memanjat, aku tidak pernah kalah dengan anak lainnya, setidaknya di Zallua.

 

====|| Author PoV ||====

 

@Skateboard area, QS of Arts

 

Duak

Sekali lagi seorang namja terjatuh dari skateboardnya ketika ia berusaha melakukan trik untuk melompati sebuah meja tipis dengan benda beroda itu. Kali ini ia tidak bangkit dan hanya terduduk,  tak mempedulikan kakinya yang terluka dan darah merah segar yang sekarang perlahan mengaliri betisnya. Wajah tirusnya terlihat kusut dan penuh penyesalan, seolah dia telah melakukan hal yang tak sepantasnya.

“Kau disini”

Akhirnya namja itu mengangkat wajahnya dan menengok ke belakang, ia mendapati namja lainnya membelakangi sinar matahari yang seharusnya sekarang menyilaukan matanya.

“Pangeran, aku—“

“Aku sudah tahu sejak dulu , jauh sebelum aku, kau sudah menyukai Youngie~ya”

“Kau… tahu? Tapi …”

“Dan kau juga tadi bergegas keluar setelah menciumnya kan? Aku melihat semuanya dan aku tak akan menyalahkan mu saat ini, anni… aku tak berhak”

“Pangeran, tapi… tapi Pri— maksudku Miyoung kemari untuk mencarimu! Mi young yang kukenal, dulu dan sekarang hanya meli—“

“Tidak jika dia menganggap Pangeran Will bukan lah aku” potong namja yang berdiri sambil menatap hampa ke depannya “Mungkin dia akan lebih bahagia jika menganggap Pangeran Will adalah orang lain atau kau…, bahkan jauh lebih baik jika dia melupakan saja semua tentangku bahkan namaku, jika saja itu mungkin”

“Memangnya kau tak bisa melakukannya?” Tanya namja yang masih terduduk, ia menatap sosok di depannya dengan sangsi.

“Kau lupa kalau Youngie istimewa? Dia memiliki kekuatan fotografis. Bahkan untuk membuatnya melupakan suara dan sosokku, itu tidak lah mudah”

“Karena kaulah yang dicintainya Pangeran. Kau bisa membuatnya melupakan sosokmu, suaramu, bahkan kenangan saat bersamamu tapi kau tak bisa semudah itu menghapus keberadaan mu di hatinya ” kata namja yang duduk, ia melemparkan skateboardnya dengan frustasi

“Dan bagi Miyoung, sejak dulu aku tak lebih dari sahabat kecilnya yang sudah mengkhianatinya” tambahnya lagi, kali ini ia tak bisa menghentikan air mata yang menggenang di pelupuk matanya untu terjun bebas.

“Kau masih memiliki kesempatan, setidaknya Miyoung tak akan membencimu, sedangkan aku… “ namja yang berdiri sekarang mulai menggigit bibirnya sendiri, berusaha menahan sesak yang sekarang membuncah di dadanya “aku kesini hanya ingin mengingatkan mu, jangan sampai kau memberi tahu Miyoung jika pangeran Will adalah aku”

“…..”

“Kau mendengarkan ku kan?”

“Nee…jika itu satu-satunya cara membuat Miyoung tidak bersedih, akan kulakukan” Namja yang duduk itu kembali mendongakkan wajahnya, ia menyadari setetes air mata telah jatuh di pipi pangeran Will.

“Gomawo….kuharap kau tetap menjaga Youngie, tapi kali ini untuk mu sendiri”

 

====||.:still autor pov:.||====

 

Beberapa menit kemudian

Lapangan bola

 

“YYAAA!!! BOCAH! APA YANG KAU LAKUKAN DI ATAS!! BAHAYA!!”  Seungyoon tak bisa menyembunyikan rasa terkejutnya saat melihat sosok seorang anak kecil perempuan yang sedang berusaha untuk menuruni pohon Maple. Tadi dia baru saja hendak bermain sepak bola, tapi saat mengambil bola di pinggir lapangan, ia menyadari ada anak kecil berusia sekitar 4 atau 5 tahun sedang bergelantungan di atas pohon.

“Seungyoon ah??? Kenapa kau tidak melempar bolanya?!!” teriak seorang anak kelas dua dari regular class, masih agak panik Seungyoon melempar bola itu kembali ke tengah lapangan tapi dia sendiri masih memperhatikan anak kecil itu.

“Mainlah duluan tanpa aku!” teriak Seungyoon setelah melempar bola, setelah itu tatapannya kembali pada bocah kecil itu.

“Aku bisa sendiri! Kau pergi saja!” suara cempreng gadis mungil itu, tapi Seungyoon tidak menghiraukannya apalagi ketika ia melihat gadis kecil itu sekarang berusaha turun dengan berpijak pada dahan yang kelihatan cukup kuat. Tapi feeling Seungyoon tetap saja merasa tidak enak. Sesekali ia menatap anak baru bersama Seunggi yang tadi bermain bola bersamanya, tapi kecurigaannya mungkin terlalu berlebihan karena namja itu masih sibuk menjaga gawang sekarang.

“HATI-HATI!”

KRAKKK

Tanpa Seungyoon sangka, dahan yang terlihat kuat itu tiba-tiba saja potong tepat saat gadis kecil itu menapakkan kedua kakinya.

“KYAAAA!!!!”

“AWASS!!!”

HUP

Seungyoon terjatuh ke belakang tepat saat ia telah menangkap gadis kecil itu. Rambut panjang gadis kecil itu menggelitik wajahnya dan samar-samar dia mengenali aroma lembut parfum yang tercium dari gadis kecil ini.

Parfum Oh Miyoung!

Aishhh ini pasti karena aku terlalu sering memikirkan yeoja aneh itu akhir akhir ini! Renggut Seungyoon setelah gadis cilik itu tidak lagi menindih tubuhnya. Ya, sejak kejadian accidental kiss beberapa waktu lalu dengan Miyoung, rasanya yeoja itu selalu stuck di kepalanya.

“Ah… aneh sekali, kok bisa patah ya?”

Seungyoon pun berusaha bangun dan duduk tepat di depan gadis kecil yang ditolongnya. Gadis itu tampak lebih tertarik pada potongan dahan yang patah. HEII… aku, Kang Seungyoon lah yang telah menolongmu bocah! Pikir Seungyoon agak kesal.

“Ya bocah, namamu siapa? Apa yang kau lakukan sampai naik pohon heoh?”

“Aku?” gadis kecil itu menunjuk dirinya sendiri, Seungyoon tersenyum tak sabar. Tiba-tiba ia teringat Oh Miyoung lagi, dan kembali mendengus berusaha melenyapkan sekilas sosok gadis itu.

“Ya, kau?”

“Namaku Oh …. Lauren”

“Lauren?” Seungyoon melipat keningnya saat mendengar nama asing itu. Dan orang yang bermarga Oh, dan dia tahu bersekolah disini hanya dua orang. “Oke Lauren, jadi apa yang kau lakukan di atas pohon? Lalu dimana keluarga mu? ”

“Daripada itu, apa kau tidak merasa ini aneh?”

Seungyoon mengambil dahan pohon yang diangkat dengan susah payah oleh Lauren. Ujung patahan dahan itu tidak membentuk serabut, tapi malah terpotong rapi seolah dipotong begitu saja oleh gergaji atau alat pemotong kayu lain.

“Ini—“

“LAUREN, Apa yang kau lakukan disini?”

“Oppa!!” Seungyoon berbalik saat Lauren berkata dengan ekspresi shock dan mendapati Oh Sehun, teman sekelasnya sekaligus kakak Miyoung sudah berdiri di belakangnya sekarang.

“Kau oppanya Lauren?” Tanya Seungyoon biasa saja, tapi entah mengapa Sehun malah menatapnya balik dengan tatapan tidak bersahabat.

“Oppa, Seungyoon oppa sudah menolongku, aku hampir saja jatuh dari pohon!” kata Lauren sambil mendekati oppanya. Seungyoon mengkerutkan kening, agak bingung karena anak ini tahu namanya padahal ia merasa belum sempat  memberitahu Lauren. Ahh.. mungkin saja dia tahu namaku dari TV, pikir Seungyoon kemudian.

“Dia adik sepupuku, terima kasih sudah menolongnya” kata Sehun sambil sedikit menunduk, dan kemudian membalikkan tubuhnya “Kajja Lauren, awas kalau kau mau mencoba kabur lagi”

“Nee.. mianhae oppa” bisik Lauren dengan wajah dimanyunkan, tanpa Seungyoon duga, gadis mungil itu sebelum mengikuti Sehun berbalik untuk memberi Seungyoon sebuah permen lolli rasa cola.

“Untukku?”

Lauren menganguk “Terima kasih Seungyoon.. hmm.. oppa” tambahnya sebelum berbalik dan menyambut genggaman tangan Sehun. Entah mengapa Seungyoon tersenyum kecil menatap pemberian Lauren.

Oh Lauren, mungkin aku harus menunggu mu dewasa untuk menyukai mu, kau tahu? kau jauh lebih menyenangkan dibanding kakak sepupu mu Oh Mi Young

“Aishhh!!! Dan gadis itu malah pingsan karena kelaparan, apa aku harus melihatnya? Anni ..anni… aku mau main bola saja!!!”

=======||.: Miyoung PoV:.||==========

 

Baru beberapa hari menjadi murid baru di tingkat tiga special class, dan kepopuleran Cho Seung Gi bahkan sudah hampir bisa disejajarkan dengan Kang Seung yoon bahkan Do Kyungsoo. Dia tidak hanya tampan dan jenius dalam memainkan alat musik dan bernyanyi, dia juga ahli dalam menirukan berbagai macam suara penyanyi terkenal hingga pelawak. Para gadis menyukainya karena sifatnya yang tak mau banyak bergaul dengan orang lain membuatnya terkesan misterius, dan para pria iri padanya karena para gadis lebih memilih untuk mengidolakannya.

“Aku jadi penasaran siapa sih Cho Seung Gi?” kataku sambil menaruh ramen yag kupesan di meja kantin, Chan ri yang sedang menyeruput green tea nya menatapku dengan tatapan berbinar, seolah dia memang sudah menunggu pertanyaan ku.

“Kenapa? Kukira kau tidak tertarik. Beberapa hari ini kau stuck terus bersama Zelo, kurasa dia benar-benar menjaga mu. Kau ingat kejadian tempo hari saat sebuah pot bunga yang jatuh dari lantai dua dan nyaris menimpamu?”

“Ah.. nee.. kalau bukan karena Zelo, mungkin aku sudah pingsan”

“YAA!! Lebih dari itu paboya! Kepalamu bisa bocor dan kau akan dilarikan ke rumah sakit, kau tahu betapa terkejutnya aku?!” protes Chan ri sambil mengacak-acak rambutku.

“Nee..mian, lain kali aku akan lebih berhati-hati” kataku setengah hati sambil mengambil sumpit dan mulai memakan ramyun ku “Kau tidak makan Chanri ya? Oh ya.. kenapa kau malah menceramahi ku tadi? Aku kan sedang bertanya mengenai pria bernama Seung Gi”

“Aahhaha aku tidak lapar, hmm Seunggi oppa ya! Kau harus memanggilnya seperti itu!” kata Chan ri, ia memajukan kursinya “Dia namja yang sangat misterius dan hanya beberapa orang yang pernah benar-benar bertemu dengannya. Aku pernah sekali melihatnya saat melewati kelas tiga, dan dia benar-benar pretty boy! Cute! Daebak!!”

Cute? Pretty Boy?

“Seperti Kang Seungyoon? Kau pernah mengatakan kalau dia cute, walau aku tak tahu dimana cute nya”

“Anni..anni…. Kang Seungyoon itu lebih cool dan manly, tapi Seunggi oppa tuh… seperti siapa ya, ah… kau tahu Lee Taemin SHINee atau Ren Nuest?”

“Molla” kataku cuek dan seperti orang aneh Chan ri mulai memukul mukulkan kepalanya ke meja. “Chan ri ya, gwenchana?”

“YAA!! Kau bersekolah di Qualified School tapi sama sekali tidak tahu alumni kita yang sangat terkenal?! Pokoknya malam ini kau harus datang ke kamarku oke?! Kau harus menghafalkan seluruh alumni sekolah ini yang tak lain adalah hampir 80% populasi idol dan aktris di Korea Selatan, arraseo?!”

“Call” kata ku cuek, lagipula dengan ingatan fotografisku aku bisa mengingat semuanya dengan begitu mudah.

“Oh ya, Hanbin dan yang lainnya merencanakan liburan musim panas nanti, dia bilang kita akan.. ya! Oh Miyoung! Apa kau mendengarkan ku?!”

Aku menyingkirkan tangan Chan ri yang menghalangi pandanganku, untuk memfokuskan tatapan ku pada seorang namja yang baru saja duduk seorang diri di pojok kursi kantin yang sepi. Ia menegak minuman mineralnya dan kemudian menidurkan kepalanya di meja.

“Chanri ya, apa kau merasa  akhir- akhir ini wajah Kyungsoo oppa semakin pucat?”

“Anni.. wae?”

Tringg

“JJamkaman Miyoung-ah, okaasan menelepon” kata Chan ri lagi sambil menunjukkan ponselnya, ia pun mengganti bahasanya menjadi bahasa Jepang dan berjalan sambil berbicara dengan ibunya “Hai, okaasan, genki?…”

Haruskah aku mendekatinya? Atau jangan?

Aku menatapnya dari jauh dan membuang nafas panjang saat teringat ia masih berusaha menjauhiku seperti biasa. Dia hanya mau berada di sekitarku, saat hari Rabu di kelas vocal, dan setelahnya aku diwajibkan menjaga jarak minimal dua meter darinya.

Memangnya aku sumber penyakit? Menyebalkan!

Dan setelah beberapa menit, belum lagi Chan ri masih menelepon, aku memutuskan untuk mendekatinya saja. Ya, asal aku menjaga jarak, tidak masalah bukan? Lagipula aku mengkhawatirkannya. Tanpa aku sadari, mungkin aku hanya ingin sedekat yang aku bisa dengan namja ini.

“Oppa” aku menatapnya khawatir saat menyadari peluh yang mengalir di dahinya yang tampak, bagaimana kalau ternyata dia terserang flu? Atau demam? Kenapa dia tidak ke klinik saja?

“Kyung soo oppa, gwenchana?” aku berjalan sedikit lagi, tanpa sadar melanggar batas dua meter ku. Keringat dingin benar-benar membanjiri tubuhnya dan aku bisa mendengar nafasnya yang agak tersengal. Kali ini aku tak bisa berpura-pura tak mau peduli, aku langsung mengambil sapu tangan ku dan menyentuh dahinya dengan punggung tangan ku.

“Kau…” gumam Kyungsoo oppa.

“OPPA!! Badan mu panas sekali!”

Aku mengangkat wajah Kyungsoo opa dan menghapus peluh yang mengucur di dahinya, ia menatapku dengan tatapan tak percaya dan kemudian kesadarannya kembali menurun.

“Oppa! Sadarlah! Bagaimana ini?? Kita harus ke klinik segera!”

Kyungsoo oppa menggeleng, dan kepalanya kembali terkulai ke meja. Dan saat itu seseorang  bertubuh jangkung berjalan cepat ke arah kami.

“Hyung!! Kau baik-baik saja?!”

“Zelo ya… Kyungsoo oppa”

“Tenang lah Mi young, Hyung kau tak bisa tidur disini! Mi young, bantu aku menaikkan Kyungsoo hyung ke punggung ku!”

“Ahh..ah nee…” meski tak begitu mengerti apa yang terjadi, aku mengikuti kata-kata Zelo. Dan apa tadi kata Zelo? Kyungsoo oppa hanya tertidur? Jelas-jelas suhu tubuhnya sangat tinggi dan peluh terus membanjiri tubuhnya.

“Zelo, kita tak membawa dia ke klinik?” aku memandang Zelo bingung, sedangkan Kyungsoo oppa masi memejamkan matanya di punggung lebar Zelo. Aku benar-benar heran saat Zelo malah menyuruhku menelepon petugas heli agar kita bisa ke asrama segera alih alih membawa Kyungsoo oppa ke klinik sekolah.

“Kyungsoo hyung tak akan mau ke klinik, yang dia butuhkan hanya istirahat” kata Zelo tegas, seolah tak menerima lagi bantahan dariku. Ia sepertinya menyadari jika aku agak tersentak dengan kata-katanya barusan, karena akhirnya Zelo tersenyum menenangkan “Tenang saja Miyoung ah, ini bukan pertama kalinya dia seperti ini, setelah tidur dia akan baik-baik saja”

“Ah… oke,  kali ini aku percaya padamu Junhongie”

Drrrrrrr……drrrrrrrrrr……. *suara angin kencang saat helikopter mendekat

“Mwo?? Kau memanggil ku apa?”

Aku tak begitu mendengar suara Zelo “Heoh??? Apa yang kau katakan Zelo ya?”

“Ahh… mungkin aku salah dengar” kata Zelo setengah berteriak, bersamaan dengan itu helikopter pun turun.

Perlu waktu kurang dari 5 menit untuk helikopter ini membawa kami bertiga (berempat dengan pilot) untuk sampai ke asrama special class, dan aku sudah mulai terbiasa. Sebenarnya aku sedikit takut ketinggian tapi selama aku tak melihat ke bawah, aku tak apa-apa.

“Mi Young-ah, gwenchana? Kau kelihatan pucat”

“Ah.. aku baik-baik saja” jawabku saat kami sudah menapakkan kaki di heli pad asrama. Zelo kembali menggendong Kyungsoo oppa yang masih tak sadarkan diri dan segera membawa ke kamarnya yang berada tepat di sebelah kamar ku.

“Wuahhhh…. Kamar ini tak kalah hebat dengan kamar Seungyoon oppa” aku menatap takjub saat baru saja membuka pintu. Ini sih sama saja seperti masuk ke dalam apartment mewah yang memiliki beberapa ruangan selayaknya rumah. Berbeda sekali dengan kamarku yang hanya sebuah kamar biasa dengan kamar mandi di dalamnya.

“Kau pernah ke kamar Seungyoon hyung?”  Zelo bertanya dengan nada tidak suka, tapi aku tak mempedulikannya karena lebih tertarik pada interior apartment maksudku kamar Kyungsoo oppa.

“Wahhh… rapi dan bersih sekali, dan lihat! Bahkan ada dapur! Eh tunggu!!!” aku pun berbalik dan mengikuti Zelo yang sekarang menendang pintu lebih keras dari seharusnya untuk membuka pintu kamar.

“Daebaakkk… bahkan tempat tidurnya ukuran King size!”

Aku masih diam di depan pintu sementara Zelo membaringkan Kyungsoo oppa di tempat tidur. Zelo menatapku dengan kesal sebelum menarik pergelangan tanganku untuk mengikutinya keluar.

“Ayo kita ke sekolah, kita masih ada kelas” kata Zelo, tapi aku tidak bergeming dan melepaskan tangannya yang melingkar di pergelangan tangan ku.

“Kau duluan saja, aku akan memasak sesuatu dulu untuk Kyungsoo oppa”

Zelo terdiam sejenak, mulutnya terbuka sedikit seolah hendak mengucapkan sesuatu, dan itu membuatku penasaran.

“Kenapa? Ada yang mau kau katakan?”

Zelo menggeleng, dan pada akhirnya dia mencubit pipiku “Jangan terlambat, atau Henry seonsaeng akan menjitak mu lagi dengan gagang biolanya”

“Hehehhe okay!”

Zelo pun akhirnya meninggalkan ku sendiri dan aku mulai sibuk mencari bahan makanan. Seperti dugaan ku, makanan yang dimiliki oleh Kyungsoo oppa disini hampir semuanya adalah makanan instan, mulai dari mie instan, kimchee, kornet, buah kaleng, sarden, minuman soda, nugget, sosis, ekkado dan sebagian besar tampak belum pernah disentuh dan hampir melewati tanggal kadaluarsa. Aku juga tak ingat Kyungsoo oppa pernah makan di kantin, biasanya dia hanya memesan minuman.

“Kau benar-benar hidup tidak sehat Kyungsoo oppa! Pantas saja kau sakit seperti itu!” aku menggelengkan kepalaku, dan kembali mencari ke lemari atas, dan untunglah aku menemukan beras yang masih bagus dan juga berbagai macam bumbu. Dengan bahan-bahan ini aku bisa membuat bubur, seandainya saja ada wortel atau brokoli segar, tapi ini sudah cukup untuk saat ini.

Aku pun mulai memasak dan menyajikan bubur di meja makan, tak lupa aku menuliskan note agar Kyungsoo oppa memanaskan bubur ini terlebih dahulu jika sudah tidak hangat lagi.

“Mungkin aku harus mengecek Kyungsoo oppa dulu” kata ku pada diriku sendiri, dan entah mengapa sekarang aku sudah mengendap endap ke kamar Kyungsoo yang agak gelap karena gorden yang menutupi jendela kamar  tertutup rapat.

“Partner… apa kau masih tidur?” kataku saat jarak kami tinggal dua meter. Aku bisa mendengar nafas Kyungsoo oppa terdengar lebih teratur sekarang dan peluh tak lagi membanjiri dahinya, mungkin Zelo benar jika Kyungsoo oppa hanya perlu istirahat.

“Ah selimutnya—“ dahiku mengkerut saat menyadari selimut di kasur tidak lagi menutupi tubuh Kyungsoo oppa yang sekarang sedang membalikkan tubuhnya menghadap ke arahku. “Baiklah, kali ini aku mendekatimu partner hanya untuk membetulkan selimut, kau tak boleh marah atau terbangu—kyaa!!”

Dakkk

“HWAA!!” entah bagaimana, ada sesuatu di lantai yang membuatku terpeleset dan terjatuh tepat di dada Kyungsoo oppa yang sedang tertidur. Jantungku benar-benar hampir copot saat menyadari apa yang sedang terjadi, apalagi ketika aku mencoba bangun dan mendapati mata bulatnya itu sedang memandang tajam ke arah ku.

“Apa yang kau lakukan di kamar ku, pervert!” kata Kyungsoo oppa datar tapi terkesan dingin “Apa kau tak ingat, aku ingin kau menjaga jarak dari ku?”

“Ah hehehe.. mian, aku bisa jelaskan, aku—-“

“KELUAR DARI KAMARKU SEKARANG OH MI YOUNG!!!”

Ternyata sakit sama sekali tak merubah temperamennya -_-“

 

=====Author PoV====

 

Sementara itu, Qualified School

Atap Bangunan kelas tahun ketiga, Qualified School

 

Semilir angin sore bertiup lembut menggoyangkan rambut pendek seseorang yang dengan nekatnya duduk di atas pagar atap. Dia sama sekali tidak merasa takut padahal sedikit dorongan dari belakang saja mungkin bisa membuatnya jatuh dari bangunan berlantai lima ini. Ya, ketinggian adalah sesuatu yang sama sekali tidak ditakutinya berbeda dengan saudara kembarnya. Perlahan ia melepas kaca mata bulatnya dan menutup matanya, saat ini adalah saat yang membuatnya merasa sedikit lebih nyaman.

“Princess Min gi, apa yang kau lakukan disini?”

“Ahh.. Hyung! Maksud ku oppa” orang yang dipanggil Min Gi itu berbalik dan kemudian berdiri  di atas pagar, membuat namja yang baru saja datang terlihat kaget karena ulah nekat gadis di depannya. “Young jae hyung, apa kau tak lihat penampilan ku? Aku.. saat ini adalah Cho Seung Gi, bukan Oh Min Gi”

“Arra… arra… Seunggi ya, sekarang cepatlah turun” Young Jae melangkah ke depan dan mengulurkan tangannya ke arah  Seung Gi. Sesaat Seung gi terlihat hendak menerima uluran tangan Youngjae, tapi tidak jadi karena gadis yang menyamar itu dengan mulusnya malah melompat dan mendarat dengan mulus di depan Youngjae.

“Ya! Chingu, apa kau lupa, aku.. Oh Min Gi, hanya akan menerima uluran tangan dari Pangeran Will”

Youngjae mendengus “Aku benar-benar tak mengerti sebenarnya kau ini membenci atau menyukai pengkhianat itu”

“Entahlah, yang jelas aku harus membayar hutang padanya” kata Seunggi cuek, dia memakai sepatunya yang sebelumnya dia lepas di pinggir pagar.

“Dengan cara mencoba menyakiti saudara kembarmu sendiri?”

Seunggi membeku sejenak sebelum sibuk kembali memakai sepatu sekolahnya. Ia terlihat tidak biasa dengan sepatu yang bertali, hingga Youngjae yang melihatnya pun akhirnya turun tangan dan menalikan kedua sepatu Seunggi.

“Ahhh… sebentar lagi liburan, apa kau merasa excited Youngjae hyung?! Aku dengar setiap liburan musim panas, seluruh siswa special class tahun pertama hingga ketiga akan liburan bersama. Dan kali ini Jepang ya!”

Youngjae yang masih berjongkok setelah menalikan sepatu, mendongakkan wajahnya untuk melihat wajah Seunggi yang kali ini dibingkai kaca mata. Ya, Mingi mungkin saja bisa mengelabui orang lain dan berperan sebagai Cho Seunggi, tapi ia tak bisa mengelabui Yoo Youngjae.

“Kau akan ikut ke Jepang?”

Seunggi menganguk “Pangeran Will akan ikut kesana, pasti, karena orang yang dia cari sekarang ada disana”

“Dan Miyoung?”

Seunggi kembali terdiam, dan tanpa sepatah kata pun dia meninggalkan Youngjae yang menatap punggungnya hingga menghilang di balik pintu.

 

/////******/////

“Bubur?”

Kyungsoo menatap panci yang baru saja dia buka, dan terdiam sejenak. Baru saja kurang dari sepuluh menit lalu dia mengusir Miyoung dari apartmentnya, dan menemukan bubur ini saat ia mencari minum.

“Apa ini?”

Kyungsoo mengambil sebuah sticky note yang tertempel di panci, ia jadi teringat kalau Miyoung memang punya kebiasaan menempelkan stick notes untuk menyampaikan pesan untuk seseorang.

 

“Oppa, jika bubur ini sudah dingin, kau panaskan dulu baru makan ya ^^//, cepat sembuh, fighting!”

 

Kyungsoo perlahan memegang panci bubur yang terasa agak dingin. Dengan agak menggerutu, ia pun membuang sticky notes itu dan berniat ke kamar untuk kembali tidur. Mungkin siang ini dia akan benar-benar membolos sekolah.

“Apa lagi ini?”

Lagi, namja bermata besar itu berdecak kesal saat menemukan sebuah sticky notes di pintu kamarnya. Sebuah tulisan kecil-kecil tertulis di dalamnya hingga Kyungsoo harus mengambilnya dan melihatnya lebih dekat agar terbaca.

 

“Partner oppa, kau sudah makan buburnya kan? Kau baru boleh tidur lagi jika sudah makan bubur sebelumnya, arraseo?! ^_^”

 

“Heoh? Partner oppa?? memangnya siapa dia memanggilku seperti itu?”  Kyungsoo berdecak tak percaya, hampir saja ia hendak meremas kertas itu dan masuk ke kamarnya ketika perut kosongnya berbunyi keroncongan.

“Huhh… kurasa aku tak ada pilihan…” Kyungsoo pun berbalik dan berjalan ke meja makan, mengambil panci bubur dan berjalan ke arah dapur. Dan dia pun langsung disambut oleh dapurnya sekarang yang sudah tidak berbentuk lagi, nyaris seperti kapal pecah. Berbagai macam bumbu dan bahan makanan tercecer, makanan instannya sudah berserakkan di luar lemari, juga cucian piring dan noda lainnya yang terciprat di permukaan kitchen set. Benar-benar cukup membuat Kyungsoo hampir meledak saat itu juga.

“Oh Miyoung! Awas saja kau!!!” geram Kyungsoo sebelum berbalik dan memutuskan memanaskan buburnya di dalam microwave saja. Sebelumnya dia merasa hampir tersentuh dengan makanan yang dibuatkan Mi young, tapi sekarang…. Mungkin jika tahu seperti ini, sebelum mengusir gadis itu, Kyungsoo harusnya menyuruh Miyoung membereskan kekacauan yang sudah gadis itu buat di dapurnya!

 

=====||.: Still Author PoV :.||====

@Special Class, keesokkan harinya

 

“Pagi….” Mi Young yang biasanya menyapa teman-temannya dengan semangat, kali ini langsung duduk lesu di kursinya yang berada tepat di belakang  Zelo dan di depan Chan ri.

“Tumben baterai mu lowbat, padahal masih pagi” sindir Han bin yang sekarang sibuk merogoh kantung sekolahnya dan kemudian dengan cueknya menaruh sebotol banana milk di meja Miyoung sebelum kembali ke mejanya yang paling depan.

“Huaaa untukku??!”  Mi Young menatap ketua kelasnya itu tak percaya, memang selama ini Han Bin terlihat dingin tapi ia kadang baik dengan teman-teman sekelasnya, tapi baru kali ini dia mau berbagi dengan Miyoung.”Gomawo Han Bin ~ahhh”

“Syukurlah Miyoung-ah.. hahaha dengan begini sepertinya Han Bin tidak membencimu” goda Jongup sambil mencubit pipiku, tapi Chan ri langsung menepis tangan usilnya “Waeee??? “

“Kau tak sadar, Zelo melihat kelakuanmu tahu?”

“Heoh?? Lalu? ”kata ku dan Jongup berbarengan, Chanri menggeleng-gelengkan kepala dan menyentil kepalaku lalu Jongup “Maka dari itu, menurutku kalian berdua adalah contoh manusia yang kurang sensitif”

“Awww! Appo!!”

“Huaaa mian Miyoungie, apa aku melakukannya terlalu keras?”

“Huhu.. gwenchana….” Mi Young kembali menidurkan kepala di meja.

“Ya!! Kau kenapa? Oya, aku dengar kalau kemarin kau diusir oleh Kyungsoo oppa dari kamarnya ya?? Dan malamnya kau bertemu dengan Kyungsoo oppa lagi kan? Memang nya ada apa?”

“Aku rasa, aku memang tidak berbakat masak” balas Mi Young lemah

Chanri menepuk nepuk kepala Miyoung, berusaha mengerti “Ceria lah Mi young!!! Bagaimana kalau kita makan es krim saat istirahat?! Oh iya… minggu depan kan sudah mulai liburan, kau tahu liburan kita ke mana?? Je—“

DRAKK

Zelo tiba-tiba mendorong mejanya dan berdiri, ia merasa tak tahan lagi melihat Miyoung yang biasanya ceria menjadi murung seperti ini. Dengan agak kasar dia menggenggam pergelangan tangan Miyoung.

“Mwo?”

“Ikut aku…” kata Zelo datar

Mi young melipat keningnya, terlihat bingung “Kemana?”

Zelo menarik nafas panjang sebelum kembali berbicara “Aku akan memberi tahu mu, orang yang kau cari, aku tahu siapa dia”

Kali ini tampaknya kata-kata Zelo bekerja, Mi Young langsung menegakkan punggungnya dan menatap mata Zelo dalam-dalam, sedangkan tiga orang lainnya menatap mereka penuh tanya.

“Apa maksud mu Zelo, kau bilang, kau tahu siapa orang yang kucari?”

 

 TBC

Jadi gimana?? lanjut ga? hehe~~ Kunang ngerasa interest ke FF ini berkurang, mungkin kalo emang pada ga minat, aku pendekkin lagi deh tiap chapternya dan coba lebih baik ke depannya ^^, so aku tunggu kripik eh kritik sarannya ^^

di chapter selanjutnya siapa Pangeran Will yang sesungguhnya bakal terungkap, dan kita bakal ke Jepang!! *eh

Last~ jadi menurut kalian siapa Pangeran Will nya?? ^^v

 

Advertisements