Tags

, , , , ,

Collage 2014-11-24 20_09_07_resizedTitle : The Criminal

Author : Kunang | Main Cast : Kim Jongin/Kai (EXO-K), Choi Jun Hee/ Juniel (Solo Singer), Xi Lu Han (EXO-M)| Support Cast: Kang SeungYoon(WINNER)| Length : One Shot | Genre : Alternative Universe, Crime, Mystery, Romance, Married Life| Rating  : PG-17

 

Warning         : Seriously this story is mine! Plagiat jauh jauh sebelum dibikin bubble tea ama hunhan

Summary        : Kim Jong In dan Choi Jun Hee adalah sepasang manusia yang sedang dilanda cinta. Mereka menikah tanpa restu keluarga Jongin dan berniat tinggal bersama di rumah di pinggir pantai pulau Jeju. Mereka harap keputusan mereka kali ini akan menghapuskan segala masa lalu yang buruk untuk selama-lamanya. Namun kenyataan tak seindah mimpi, terror demi terror berdatangan, mimpi indah tak terealisasi dan berubah menjadi kenyataan kejam yang akhirnya diwarnai ketakutan, dendam.. dan kematian.

======= Choi Jun Hee PoV=======

 

@Mokpo International Airport

Aku duduk di kursi dingin airport sambil mengingat-ngingat kembali setahun ke belakang. Bibirku melengkung tipis mengingat jika sebelumnya aku hanya ingin seperti gadis-gadis lain, menikah dengan pria yang kucintai dan tinggal bersama selamanya di rumah yang sudah lama kuimpikan. Aku tak perlu pangeran yang memiliki segalanya seperti di negeri dongeng, aku hanya perlu seseorang yang bisa memenuhi keinginan sederhanaku.

“YA! Kim Jongin! Kau masih tidak mau memberitahu kita akan pergi kemana?”sesekali aku mencuri pandang dengan ekspresi kesal pada pria di sampingku. Sejak tadi dia hanya terdiam sambil sesekali menyeruput taro bubble tea yang baru dibelinya. Tidak seperti biasanya, ia terlihat tidak menikmati minumannya.

“Aku sudah membelinya, rumah impian mu” ujar pemilik mata teduh yang baru saja menjadi suamiku seminggu yang lalu. Seketika itu juga mataku melebar dan Jongin akhirnya menengokkan wajahnya ke arahku, menatapku tajam seolah berusaha menangkap reaksiku “Kau suka Jun Hee ya?”

“Jinjja? Jadi kita akan pindah ke sana sekarang?”

Jongin akhirnya tersenyum tipis dan menganguk, dan aku langsung memeluknya erat saat itu juga.

“Gomawo Jongin oppa, aku mencintaimu!”

“Aku tahu”

Jongin tertawa kecil dan kemudian menatap mataku dalam-dalam setelah merenggangkan pelukan kami. Refleks aku langsung menunduk, ntah mengapa aku selalu merasa tidak sanggup menatap matanya lebih dari lima detik. Dia adalah orang kedua yang membuat ku seperti itu selain ayah ku sendiri. Ayahku adalah satu-satunya orang yang kurasa mengetahui jelas semua tentangku, semua rahasiaku, mimpi-mimpi burukku sehingga sering membuatku merasa begitu transparan dan sekarang aku merasa sedikit takut, Jongin sudah mulai seperti ayahku.

Bagaimana jika kemudian dia tidak lagi mencintaiku?

“Apapun alasannya, aku bahagia karena saat ini kau bersama ku” kata Jongin kemudian sebelum dia merengkuh tengkuk ku untuk mencium bibir ku dalam-dalam. Dan sebagai wanita yang berperan menjadi istri yang begitu mencintai suaminya, aku pun membalas ciumannya tak mempedulikan jika kami berada di tempat umum, hingga suara debaman suatu benda yang terjatuh membuat kami melepaskan tautan bibir kami.

“Hyung… kapan kau sampai?” Jongin mengalihkan pandangannya dariku, senyuman lebar terukir di wajah tirusnya saat ia menyapa seorang namja bertubuh sedikit lebih mungil darinya yang telah muncul di depan kami. Kuakui namja itu cukup cute dan tampan, posturnya juga ideal. Pasti tipe yang banyak disukai para gadis. Namja itu meletakkan koper kecilnya dan duduk di samping kanan Jongin, sedangkan aku masih duduk di samping kiri suamiku itu. Anehnya aku merasa sangat tidak tenang.

“Aku baru saja tiba, ahh… apa ini istri mu? Salam kenal, nama ku Xi Luhan” Namja cute itu mengulurkan tangannya, melewati Jongin yang mendengus saat aku menatap Luhan penuh tanya dan pura-pura sibuk dengan ponselku, sama sekali tidak menghiraukan uluran tangannya.

“Dia teman dekatku, seorang arsitek dan dengan bantuannya dia akan membantu merancang renovasi rumah baru kita di Jeju, jadi untuk sementara dia akan tinggal bersama dengan kita, kau tidak keberatan kan?”

“Mwo? Tapi…kita baru menikah.. dan lagi…” rasanya aku ingin membantah, tapi Jongin menggenggam kedua telapak tangan ku dan menciumnya “Tidak apa-apa kan? hanya sebulan, aku hanya ingin memberikan yang terbaik untuk rumah kita. Dan ingat saat kita pergi ke pameran? Kau ingin rumah tipe modern-minimalis dengan seluruh sisi rumah yang menghadap ke laut terbuat dari kaca. Luhan hyung lah yang akan mendesainnya untuk kita”

“Ah baiklah…. terserah padamu” kataku pada akhirnya. Aku menatap Luhan tajam, berharap dia menyadari bahwa aku tidak akan berpura-pura ramah padanya. Sebenarnya tanpa sepengetahuan Jongin aku sudah mengenal namja bernama Xi Luhan ini cukup lama. Luhan adalah teman pertama Jongin sekaligus anak dari supir keluarga Jongin yang sudah Jongin anggap sebagai kakak kandungnya sendiri.

Mungkin aku hanya merasa cemburu

“Apa berjabatan tangan saja sangat sulit agaesshi?”

Aku menghela nafas panjang dan akhirnya menjabat tangan Luhan yang terasa dingin dan agak basah, apa mungkin memang tangannya selalu dingin dan berkeringat seperti itu?

“Nama ku Choi Jun Hee, salam kenal Xi Luhan ssi”

Luhan menggenggam telapak tanganku, sedikit lebih erat dari yang kukira

“Salam kenal juga, semoga kita bisa bekerja sama”

Aku mendengus dan menahan diri untuk tidak terdengar sinis “Ya, semoga saja”

***//***

Sebelumnya aku akan bercerita sedikit bagaimana aku bisa bertemu dengan Kim Jongin. Saat itu, sekitar setahun lalu adalah liburan musim panas. Aku dan beberapa teman kampusku memutuskan untuk mengadakan perjalanan ke pulau Jeju. Sejujurnya itu bukanlah pertama kali aku menginjakkan kaki disana karena sebelumnya aku sudah menghabiskan lebih dari setengah masa kanak-kanak ku di pulau yang pantainya sangat terkenal di Korea Selatan bahkan dunia itu. Dan aku juga masih mengingat rumah ku dulu. Sebuah rumah minimalis dengan halaman cukup luas ditepi pantai. Tapi rumah itu tidaklah indah seperti dahulu, atap-atapnya sudah reyot dan cat dindingnya terlihat kusam. Pasang besar bahkan pernah melanda dan membanjiri rumah itu. Dan sekarang aku tahu rumah itu mungkin ditinggalkan oleh pemilik barunya karena tidak banyak turis yang ingin menginap disana mengingat letaknya yang jauh dari keramaian dan pantai di pinggirnya dipenuhi karang-karang besar dengan arus ombak yang seringkali bergerak ganas.

Tapi, aku menyukai rumah itu.

Dan di saat itu lah aku bertemu dengan Jongin. Masih kuingat dahinya yang melipat dalam saat menemukan ku keluar dari rumah tak berpenghuni itu. Aku bilang saja jika aku tersesat dan kemudian tak lama kami pun berkenalan. Jongin bilang jika temannya menyuruhnya mencari-cari rumah untuk investasi dan dia agak bingung karena diberi alamat rumah di lokasi terpencil seperti itu, walau ketika aku menjelaskan beberapa desain kuno dan eksentrik yang ada pada rumahku dulu, dia tampak cukup terkesan.

Hari berganti tahun, hubungan kami pun berkembang. Dan akhirnya Jongin berkata jika ia mencintai ku. Dia berkata pada awalnya dia menyukai semangat, ceria dan rasa optimis yang terpancar dalam diriku. Lalu katanya setelah mengenal diriku, ia malah kehilangan alasa-alasan klise itu karena apapun yang kulakukan dia tak bisa berhenti mencintaiku. Walau kemudian aku agak kesal ketika dia menambahkan bahwa dia akan tetap mencintaiku jika kecurigaannya selama ini benar. Memangnya dia pikir apa yang bisa kusembunyikan darinya hah?

Pernah suatu ketika aku menemukannya terlihat begitu kacau dan lingung saat bertamu ke apartmentku tengah malam. Dia berkata bahwa ia ingin menanyakan sesuatu hal penting padaku, dan setelahnya ia akan pergi. Jantungku berdetak lebih cepat, sedikit berharap jika ia menanyakan suatu hal yang berhubungan dengan hubungan kami ke depannya. Tapi ternyata aku salah, dia menanyakan suatu pertanyaan konyol mengenai ‘saudara perempuan’ dan ‘pemakaman’, ah.. aku lupa pertanyaannya. Yang jelas setelah itu Jongin oppa langsung pulang dengan raut wajah kecewa dan kudengar dari temannya jika paginya dia pulang dalam keadaan mabuk. Tapi beberapa hari kemudian, ia muncul dan kembali menjadi Jongin oppa yang biasa.

Dan minggu lalu, akhirnya kami pun menikah. Jongin sudah tak mempunyai keluarga lagi karena orang tua beserta kakak perempuannya meninggal dalam kecelakaan beberapa tahun lalu. Beberapa saudara jauhnya mengecam pernikahan kami dan menuduh jika aku hanya ingin menikah dengan Jongin karena hartanya, tapi aku tak peduli. Jika aku juga ingin menikah dengan Jongin, itu bukan urusan mereka kan?

Dan sekarang, sedikit lagi, aku pun bisa benar-benar tersenyum, menatap rumah besar –yang baru diperbaiki sedikit– di depan ku. Bersama pria yang kutahu adalah takdirku. Sebentar lagi dan semuanya akan sempurna.

****//****

Beberapa hari kemudian

“Sudah kubilang! Aku tidak menyukai ini semua! Barang-barang ini tidak cocok dengan interior rumah ini Xi Luhan ssi!”

“Mwo? Menurutku cocok sekali! Jongin juga sudah setuju” kata Luhan keras kepala, dia menyilangkan tangannya saat aku hendak memasukkan pajangan mengerikan wajah abstrak manusia ke dalam plastik sampah. Wajahnya terlihat menahan emosi, seolah jika saja aku bukan perempuan atau istri Kim Jongin dia akan membentakku.

“Di rumah ini aku lah yang memutuskan, apa kau tak pernah dengar jika wanita lah yang mengatur apa yang ada di rumah?”

“Dan nyonya Choi Jun Hee yang terhormat, apa kau lupa jika aku adalah arsitek yang dipercaya menata rumah ini oleh suami mu? Sebaiknya kau terima beres dan —“

“Ya.. yaaa… ada apa ini, kenapa pagi-pagi sudah ribut?” Jongin, dengan rambut yang masih acak-acak an turun dari tangga lalu menatap kami bergantian. “Hyung, tak bisakah kau mengalah sedikit pada istri ku? Karena jika tidak, dia bisa kesal padaku, kau tahu jika dia kesal, istriku Choi Jun Hee ini bahkan bisa membunuhku?”

Aku mengalihkan tatapanku dari Luhan saat mendengar kata terakhir dari bibir suamiku. Jongin tersenyum tipis saat mata kami bertemu dan aku pun langsung mengalihkan tatapan ku untuk menatap ombak laut yang hari ini terlihat lebih ganas dari balik kaca jendela yang transparan.

“Aishh… oppa bercandamu tidak lucu!”

“Baiklah… sepertinya setelah persahabatan kita selama lebih dari 10 tahun, kau tetap akan lebih membela Jun Hee ssi” sindir Luhan, aku tahu benar ada emosi lain yang tercampur dalam suaranya terutama saat tiba-tiba Jongin berjalan ke arahku untuk memeluk pinggangku dari belakang. Aku bisa merasakan nafas panasnya menderu di leherku saat ia menempelkan kepalanya di bahuku.

“Mian hyung, aku terlalu mencintai istriku hingga aku bisa mengorbankan apapun untuknya” kata Jongin pelan, tapi aku yakin Luhan bisa mendengarnya dengan jelas. Tanpa sadar aku bergerak, berusaha melepaskan tubuhku yang telah terperangkap oleh tubuh hangat suamiku saat melihat Luhan yang mendengus kesal dan beranjak pergi ke luar rumah. Meninggalkan suara pintu yang berdebum keras saat ia membanting pintu. Entah mengapa menimbulkan segurat rasa bersalah di hatiku.

“Lu—“

“Tidak apa, biarkan dia sendiri” bisik Jongin di telingaku, membuat ku menghentikan keinginanku lepas dari pelukan suamiku. Aku membiarkannya memutar tubuhku hingga kali ini kami berhadapan. “Kau marah yeobo?”

“Aku sebal pada Luhan ssi!”

“Tapi aku membelamu yeobo, bisakah kau tidak marah?” kata Jongin lagi, kembali ia berusaha mengadakan kontak mata dengan ku tapi aku menghindarinya. “Ahh… ternyata kau benar-benar marah”

“Aku tidak marah!” bantahku tanpa sadar agak menyentak, tapi emosi ku agak memudar saat Jongin tiba-tiba merebut ciuman dariku.

“Yakin tidak marah?”

“Ke..kenapa menatapku seperti itu? A..apa tidak puas tadi malam?” tanya ku gugup saat menyadari smirk di bibir tipis suamiku itu

“Choi Jun Hee, bisa kah kau menciumku duluan?” pinta suamiku tiba-tiba.

“Mwo?” aku mengerutkan kening dalam-dalam. Tidak biasanya Jongin oppa memanggilku dengan nama lengkapku.

“Apa kau tak sadar jika selama ini kau tidak pernah mencium ku duluan? Kau tak pernah secara terang-terangan menggodaku atau bersikap sedikit ‘nakal’, padahal kau punya suami tertampan di dunia, bukankah sungguh disayangkan sekali?” protes Jongin, membuat pipiku mendadak dipenuhi semburat kemerahan

“YAA!! KIM JONGIN!! Di kamar tadi kau bukan menonton berita, tapi malah diam-diam menonton yadong kan?!” kata ku kesal dan kembali mendorong tubuhya hingga sekarang tubuh kami terpisah. Cepat-cepat aku mengambil spatula dan bergegas ke arah dapur yang berada di pojok ruangan “Aku harus masak”

“Ciumannya? Bisakah kau tidak masak? Aku bisa lebih dari sekedar kenyang jika kau menciumku”

“Hahhaha jangan membuatku tertawa oppa!” kataku pura-pura kesal sambil mengambil celemek. Aku benar-benar hampir jatuh dalam pesonanya, padahal sekarang bukan saatnya untuk itu. Aku harus memasak.

Sepuluh menit berlalu dan selama itu sesekali aku memandang punggung Jongin yang tengah duduk dan sibuk memindah-mindahkan channel TV.

“Bisakah kita makan di luar saja?” tanya Jongin terdengar bosan

“Dalam mimpi mu saja tuan Kim, yang jelas aku mau menyelesaikan memasak.. ahh… sebaiknya aku tidak mencampur omeletnya dengan wortel karena Luhan pasti tak mau memakannya”

“Luhan….”

“Heoh? Kau bilang apa yeobo?” aku menatap punggung Jongin, sementara TV entah kapan telah dimatikan. Aku tidak benar-benar mendengar kata-kata Jongin tadi karena terlalu fokus memotong sayuran.

“Anni… bukan apa-apa” Jongin sekarang membalikkan kepalanya ke arah ku “Omong-omong Junhee ya, bukan kah aku sudah memberitahumu lebih dari tiga kali jika aku tidak menyukai brokoli? Kenapa kau memasukkannya dalam omelet?”

“Oh .. benarkah? Tapi aku sudah terlanjur memasukkannya, tapi aku akan memakannya untukmu”

Dan kemudian, Jongin tak lagi mengganggu ku memasak saat itu.

=====||=====

@Jeju Town, Sunday

“Ayolah yeobo, tak ada salahnya kita melihat peruntungan dan masa depan kita” bujuk Jongin oppa saat aku, suami ku Jongin oppa dan Luhan ssi sedang berjalan-jalan di kota untuk mencari beberapa furniture dan hiasan untuk ditempatkan di rumah kami. Sejak kecil, aku tak percaya dengan orang yang bisa meramal nasib atau peruntungan. Karena aku tahu, aku tak bisa diam saja jika ingin sesuatu dan aku cukup mengenal diriku sendiri untuk menentukan nasib ku.

“Sirrheo!” potongku cepat dan setengah berlari ke arah toko barang antik yang berada tepat di sebelah deretan kios para fortune teller. Dan seperti yang kuduga, Jongin oppa dan Luhan mengikutiku masuk.

“Yeobo~ aku benar-benar penasaran-“

“Kim Jongin, kalau kau benar-benar penasaran, bawa Luhan ssi bersama mu dan silahkan melihat peruntungan kalian berdua” umpat Junhee setengah berbisik saat ia menyadari beberapa pengunjung mulai melihat ke arah mereka bertiga.

“Nyonya Kim Jongin, kalau kau tidak mau mengabulkan keinginan ku dalam hitungan ketiga, aku akan mencium mu disini, sekarang juga”

“M..MWO?” mataku terbelalak kaget saat Jongin sudah memegang pergelangan tangan ku agar tidak kabur “Oppa”

Jongin tersenyum tipis sejenak sebelum memulai “Saaaa…tu, du…aa, ti…—–“

“Tunggu!” Luhan tiba-tiba mengiterupsi Jongin, wajahnya terlihat malu mungkin karena semakin banyak orang yang diam-diam melihat ke arah kami “Jun Hee ssi, sebaiknya kau ikut ke fortune teller bersama Jongin”

“Tapi…”

“Sudahlah..ikut saja! Atau kau takut? Hahhahaha Choi Junhee, kau takut dengan fortune teller? Memangnya apa yang kau tutupi?”

Aku merengut kesal pada Luhan, dan kemudian menarik tangan Jongin oppa “Aku tidak takut! Kajja!”

Baru saja aku dan Jongin oppa berjalan beberapa langkah, kaki ku terantuk sesuatu dan membuat tubuhku hampir kehilangan keseimbangan dan hampir menabrak seseorang yang baru saja lewat di depanku. Aku tidak jadi menabrak karena Jongin oppa telah bergerak cepat menarik tubuhku, hingga ia lah yang malah menyenggol orang itu.

PRANGGG

“A…. andwae” suara berat seorang pria menyadarkanku, dia terlihat shock sekaligus takut saat melihat pecahan-pecahan guci berserakan di tengah jalan. Kemudian matanya menatap ke arahku kemudian Jongin.

“Mian, ini salah kami, aku akan mengganti guci itu, kau tinggal sebutkan saja harganya” kata Jongin masih merangkulku. Sementara itu aku mendengar derap langkah kaki Luhan mendekati kami.

“Jongin ah, apa yang terjadi?” tanya Luhan, tapi tak ada yang menanggapinya

“Kau…” pria yang terlihat shock itu sekarang malah menatap cemas ke arah Jongin oppa. Tapi yang membuatku bingung dan takut, adalah kata-katanya selanjutnya “Lebih baik kau cepat meninggalkan Jeju, atau kau akan kehilangan nyawamu”

“Mwo?” Jongin mendengus kesal, dan aku merasa telapak tanganku dengan cepat digenggamnya “Kau siapa hah? Kenapa kau bicara macam-macam?”

“Namaku Kang SeungYoon, dan tidak penting siapa aku “ jawab pria itu tegas “Guci yang jatuh ini adalah pertanda buruk bagimu, dan aku yakin kau sudah menyadari sebelumnya. Iblis yang berada di dekatmu tidak akan pernah berubah, sekeras apapun kau mencobanya”

 TBC

I’m backkk kali ini dengan genre yang ga biasanya hehhehe, gimanaa??? aneh kah? ini gara2 kunang kebanyakan baca novel karya Agatha Christie, heheh inspired dari salah satu FF dia  yang judulnya Endless Night

soo… gimana? lanjut ga? thanks yg udah baca, ch 2 bakal lebih panjang atau kalo emang kepanjangan maksimal jadi 3 ch, thx ^^

rcl?

Advertisements