Tags

, , , , , , , ,

HiddenFates_violetkecil

Title : Hidden Fates (HF); Chapter 9 : Confession & Rejection

Author : Kunang & AzumiAozora| Main Cast : Kim Jun Hyo (OC), Cho Min Hyun (OC), Kim Jun Myeon/Suho (EXO-K), Jang Hyun Seung (Beast), Park Chan Yeol (EXO-K), Choi Min Ho (SHINee)| Support Cast: find by your own  | Length : Chaptered | Genre :Family, romance, drama, friendship, supernatural | Rating  : PG-15

Disclaimer       : Kim Jun Hyo milik Kunang dan Cho Min Hyun milik Azumi, sedangkan Suho, Hyunseung, Chanyeol dan Minho milik mereka sendiri. Cerita ini murni milik dari weird- happy- chicken maniac– Kunang and cool-stubborn-lovelyAzumi Aozora, plagiat jauh-jauh sana sebelum dikirim Kris ke Galaxy lain terus digebukkin alien disono!

Summary        : There is a past, and There is a future. Everybody couldn’t avoid both of them. How if there were persons who can tell your past and future? Wanna take a look? This is the story about Jun Hyo – a *Psychometry ice princess yet beautiful rich heiress who hates losing– and Min Hyuna *Precognitiveclumsy girl yet lovely rookie doctor who loves green tea– .. When they see the things that shouldn’t be seen, the hidden fates are revealed.

Previous Chapter : Minhyun yang masih berhubungan via e-mail dengan diva akhirnya menyadari jika Chanyeol lah anak yang diva cari, dan betapa terkejutnya Minhyun ketika mendapati kemungkinan besar Chanhee (saudara kembar Chanyeol) adalah Junhyo. Di sisi lain sepertinya hubungan Minhyun dan Suho semakin dekat, lalu bagaimana dengan Hyunseung?

9th Fate Revealed by Kunang (Takdir Kesembilan dibuka oleh Kunang)

 

=== Junhyo PoV===

 

@Sebuah Bar di kawasan Itaewon

 

Sekali lagi aku menegak minuman berwarna biru cerah di sebuah gelas wiski. Rasa panas yang menyengat seketika itu pula terasa di perutku. Aku tahu, aku tak pernah bisa apalagi terbiasa minum terlalu banyak tapi setidaknya saat ini aku ingin minum. Dengan minum aku bisa melupakan sejenak apa yang terjadi tadi siang. Kuharap.

Ya… ini menjelaskan semuanya, menjelaskan mengapa golongan darahku berbeda dengan orangtua ku.

Anni, apa yang kau pikirkan Kim Junhyo? Abeoji tetaplah orangtuaku, tapi eomma? Ini menjelaskan mengapa dia tidak pernah mencintaiku. Eomma selalu memperlakukanku seperti anak tiri dan melimpahkan kasih sayangnya hanya pada Suho oppa, tapi sekarang ku tahu itu bukan salahnya, aku memang anak tiri nya kan?

Tapi memangnya abeoji pernah benar-benar mencintaiku?

Perlahan aku memijit kepalaku yang semakin pusing, akan lebih baik jika aku bisa kembali menangis seperti tadi siang setelah melihat semua percakapan eomma dan Suho oppa. Percakapan yang lebih terlihat seperti pertengkaran yang membuka semua kepingan rahasia yang sebelumnya tersembunyi rapat, terutama rahasia jika aku adalah anak dari selingkuhan abeoji.

Dan sekarang aku merasa begitu kotor.

“Tolong tambah lagi campuran tadi” kata ku setengah mabuk pada bartender di depanku, dia tersenyum lebar mengiyakan membuatku merasa iri karena dunianya terlihat begitu cerah sedangkan duniaku terlihat suram.

Aku? Anak dari selingkuhan abeoji? Hah?

“Agaeshi? Apa kau sendiri? Lebih enak minum bersama” sapa suara setengah baya yang lebih terdengar seperti dengungan lebah menjijikan di telingaku, aku menengok ke samping dan mendapati pria paruh baya yang mendekatiku dengan wajah mesumnya. Bau pekat alkohol menguar dari mulutnya.

“Kau…sebaiknya pergi saja ajusshi!” kataku sambil menyingkirkan botol minuman keras yang bersikeras dia coba tuangkan di minumanku. Tapi pria ini keras kepala dan malah mencoba menyentuhku sampai…

“BERANI MENYENTUH SEPUPUKU SEDIKIT SAJA, AKAN KUPATAHKAN LEHERMU!”

“AH~ Hyungseung ah, mau ikut minum?” aku terkekeh pelan saat mendongak dan melihat sepupuku Jang Hyunseung yang bersiap akan memukul ajusshi di sampingku, dan sepertinya ajusshi pemabuk ini juga tidak terima karena dia mulai mencengkeram kerah baju Hyunseung. Mungkin karena pengaruh minuman atau masalahku sendiri, aku tak mempedulikan mereka.

“Bocah, kau tak tau siapa aku heoh?” ajusshi itu mengancam, mukanya begitu merah entah karena begitu marah atau hanya pengaruh terlalu banyak minum alkohol.

“KAU BERANI MENANTANGKU?!” geram Hyunseung, matanya membesar dan terlihat penuh kemurkaan.

DUAKKK

Brakk

Bogem mentah Hyunseung mendarat tepat di pipi pemabuk itu, membuat orang itu terpental kebelakang dan menabrak kursi tinggi bar yang langsung jatuh. Dan aku seperti orang gila malah menyoraki Hyungseung yang balas menatapku dengan kesal.

“KYAAAA HYUNSEUNG!!! KAU BENAR-BENAR HEBAT AHAHAHHAHAHA” kataku setengah mabuk sambil bertepuk tangan, euphoria palsu yang merupakan efek minuman keras membuatku merasa excited melihat adegan di depanku.

“Chanyeol, kau bawa Hyo keluar dari sini! Aku akan urus si pemabuk satu ini!”

Chanyeol?

Ternyata efek minuman keras belum bisa membuatku melewatkan kata tersebut, dan benar saja Chanyeol sudah berdiri di depanku. Sejak kapan dia disini? Aku memegang meja bar, berusaha agar tidak limbung saat berdiri karena kepalaku yang mulai terasa pusing.

“Hyo …” Seorang pria yang yang tak lain adalah Chanyeol membuatku terpaku saat ia menatap bola mataku dalam-dalam.

Aku berbalik untuk mengambil botol minuman keras dan menyodorkannya ke arah Chanyeol “Ahhh… kau mau minum?”

“Anni..” Aku bisa melihat kali ini Chanyeol menscan seluruh tubuhku lalu melepaskan jaket besarnya, dan kemudian ia pun telah memakaikan jaketnya ke tubuhku yang hanya dibalut dress tipis. “Ayo kita pergi Hyo…” tambahnya dingin

Sesaat aku hanya terdiam. Kata-kata Chanyeol memiliki effek padaku seperti disiram air dingin. Membuatku sesaat kembali dalam pikiran sadarku, membuatku menyadari raut wajahnya yang terlihat antara campuran marah, sedih atau… kasihan?

Memikirkan kata terakhir yang terlintas di benakku, membuatku muak seketika.

“Pergilah sendiri! Aku masih mau minum!” kataku sambil kembali berbalik dan menuang campuran Tequilla dan Gin yang baru saja disodorkan bartender ke dalam gelas, bersiap menegaknya.

SUDAH JANGAN MINUM LAGI!” teriak Chanyeol marah, dia merebut gelas itu dan menegaknya sekaligus. Tak lama ia pun memejamkan matanya saat meminum minuman itu, jelas sekali tidak terbiasa dengan sensasi minuman keras itu saat melewati kerongkongannya. Aku pun berdiri dari kursiku dan menatap Chanyeol yang sekarang terlihat seperti hendak muntah.

“Ahhh… kau —“

ZRUKK

Chanyeol tiba-tiba menarikku dengan cepat ke dalam dada bidangnya, mendekapku erat seolah ingin melindungi diriku dari apapun yang bisa menyiksaku. Dan aku sama sekali tak bisa menolaknya, aku merasa bisa menumpahkan segalanya di dada ini. Aku merasa aman dan berangsur nyaman.

“Aku mengkhawatikan mu Hyo ya” Aku bisa merasakan tangan hangat Chanyeol menepuk nepuk punggungku “Kau tahu? aku begitu khawatir karena tak menemukan mu hari ini”

“HUAAAAA HIKSSS HIKSS HIKSS……” akhirnya aku menangis keras sambil mengeratkan tanganku ke punggung Chanyeol, tak ingin dia melepaskan ku. Samar-samar aku bisa mencium bau mint dari tubuhnya yang sedikit berhasil menenangkan perasaanku, dan aku bersyukur, kali ini aku tak melihat masa lalu Chanyeol dan itu membantu.

“Menangislah…. Lepaskan semuanya Hyo, aku tak akan meninggalkanmu…” kata Chanyeol di telingaku, tangannya yang bebas kembali menepuk punggungku membuat tubuhku lebih rileks.

“Kau tak akan meninggalkanku? Apa aku begitu menyedihkan hingga kau kasihan padaku?”

“Tentu saja tidak, aku akan selalu di sisi mu Hyo”

“Kenapa?” tanyaku pelan disela-sela tangisku “Kau kasihan padaku? Aku… aku… bukanlah tuan putri, aku hanyalah anak selingkuhan abeoji.. aku—-“

“Shtttttt! Tenanglah Hyo!” Bisik Chanyeol, kemudian iapun mengendurkan sedikit pelukan kami dan kemudian aku bisa merasakan bibir Chanyeol menyentuh dahiku, menciumnya lembut

“Aku ingin disisimu bukan karena aku kasihan padamu Hyo, tak bisakah kau mengerti? Aku mencintaimu Kim Junhyo”

 

=====//=====

@Chanyeol’s Apartment

 

Sinar matahari pagi yang semakin terik perlahan mengusik mataku yang terpejam. Dengan malas aku menggeliat dan membalikkan tubuhku di kasur yang empuk, sampai tiba-tiba saja aku terbangun.

“Dimana ini?” gumamku sambil memegang kepalaku yang terasa pening. Mataku mengerjap-ngerjap mencoba mengenali kamar sederhana tapi cukup rapi. Tak jauh dari tempat tidur, sebuah gitar yang pernah kulihat bersandar di pintu lemari.

Gitar itu milik Chanyeol! Jadi apa aku tertidur di …

“MWO? A..APA INI?” aku kaget sendiri saat menyadari jika aku tak lagi memakai dress yang tadi malam aku pakai, melainkan malah menggunakan kaos kebesaran dan celana pendek yang bukan milikku. Apa mungkin ….

“Ah.. Hyo, kau sudah bangun?” Chanyeol tiba-tiba saja muncul dengan rambut basah dan kaos putih tipis dari balik pintu kamar. Air dari rambutnya menetes netes di lantai dan bajunya, membuat tubuh bagian atasnya terlihat transparan, sementara handuk kecil diletakkan dengan asal di kepalanya, refleks aku menutup seluruh tubuhku dengan selimut. Spontan aku menutup tubuhku dengan selimut.

Tidak mungkin kan aku dan Chanyeol ….

“Chanyeol ah..apa kau sudah membangunkan Junhyo? Sarapannya sudah siap!” kata suara perempuan dari balik pintu, sukses membuatku tersentak karena kaget. Chanyeol tersenyum lebar melihat ekspresiku, sepertinya dia menganggapnya menarik. Dasar menyebalkan!

“Hahhaha dia noonaku,, Yoora noona. Kau mabuk semalam, dan Hyunseung hyung pikir bukan ide bagus jika aku mengantarmu pulang atau membawamu ke apartment Suho hyung dalam keadaan mabuk, jadi aku membawamu kesini” jelas Chanyeol “Dan… kau muntah, baju mu kotor… jadi aku memanggil Yoora noona untuk menggantikan bajumu”

“Aaah….” Aku merasa malu sendiri. Seharusnya aku tidak berpikir macam-macam. Tentunya Chanyeol adalah pria baik yang tak akan memanfaatkan kesempatan dalam kesempitan kan?

“Sarapan sudah siap, sebaiknya kita cepat, kau tahu… kuliah dan lainnya” lanjut Chanyeol dengan nada gugup. Aku menganguk canggung dan tetap diam di tempat hingga Chanyeol hendak meninggalkan kamarnya. Aku baru saja teringat kata terakhir Chanyeol sebelum aku benar-benar kehilangan kesadaran tadi malam.

Kata-kata jika dia mencintaiku.

Aku memejamkan mataku sejenak dan kemudian memukul pipiku saat merasakan wajahku mulai menghangat. Jebal Kim Junhyo! ada hal yang lebih penting sekarang.

“Chanyeol, tunggu!”

“Mwo?”

“Tolong, tolong rahasiakan ini semua dari Suho oppa, termasuk apa yang kukatakan kemarin”

Chanyeol terdiam sejenak seolah berpikir, tapi akhirnya dia menganguk.

“Gomawo”

***//***

 

Beberapa hari kemudian

@Teater Club’s room, 10 am KST

 

 

“Choi Minho! Lagi-lagi dia tak bisa dihubungi!” aku merutuki handphone ku sendiri seolah benda itu sudah berbuat salah padaku. Ya, sepertinya acara pertunangan yang diancamkan oleh abeojiku tidak main-main karena besok akan dilangsungkan acara peresmian aliansi antara Sekang hotel milik keluarga Choi dengan Elite Seven Oceans (ESO) company milik abeoji, dan rumor bahwa pertunangan kami akan diumumkan besok malam telah menyebar ke kalangan atas dan seluruh kampus.

“Hyo, ini…” Chanyeol tersenyum lebar saat menyerahkan sekaleng vanilla latte dingin kesukaan ku.

“Go… gomawo” aku merasa seolah terkena sengatan listrik saat tangan kami bersentuhan, dan jantungku mulai berdetak tak beraturan saat ia duduk tepat di sampingku, sibuk melihat-lihat script yang tadi dibawa oleh Jongdae oppa saat jam istirahat.

Hmm.. bukan kah ini karya-karya Shakespeare?

“Hyo, apa kau ingin mencoba menjadi Juliet?”

“Ah… eh.. kenapa kau tiba-tiba bertanya seperti itu?” tanyaku bingung, sementara Chanyeol tersenyum ke arahku sebelum kembali membuka-buka script. Ternyata dia memang sedang melihat script yang diunggah dari karya Shakespeare itu.

“Kalau aku, aku tak ingin jadi romeo. Aku tak ingin menjadi Romeo yang membuat Juliet bunuh diri. Aku ingin tetap hidup bahagia dengan gadis yang kucintai, dengan keluarga yang sepenuhnya mendukung hubunganku ” jelas Chanyeol, kali ini dia tak menatap ke arahku. Matanya menatap kosong kearah script Romeo and Juliet yang ia buka dengan asal.

“Chanyeol, kau…”

“Tapi mungkin aku lebih menyedihkan daripada Romeo, karena setidaknya Romeo memiliki cinta Juliet” kata Chanyeol lagi, kali ini ia menatapku dengan sedih. Aku tahu arti tatapan itu, ia sedang berbicara mengenai dirinya dan juga diriku.

“Aku”

“Aku menyukaimu Hyo, dan aku yakin kau tahu perasaan sepihakku. Ah.. apa kau tahu dimana pertama kali aku melihatmu?“

Chanyeol-ah…” aku menelan ludah, lidahku kelu. Sementara Chanyeol tersenyum dan mulai bercerita mengenai dirinya dan gadis yang dia temui di taman berbulan bulan lalu. Caranya melukiskan bagaimana menariknya diriku saat itu, tertawa melihat anak-anak bermain, serius membaca buku-buku fiksi dan saat saat aku memakai kacamata hitam untuk menyamarkan diriku yang sedang menangis.

“Dan akhirnya di sini aku menemukanmu, menjadi anggota Princess Hyo’s club, tapi selama ini aku terlalu egois untuk menerima kenyataan kalau kau tak mungkin menyukaiku”

“…”

Chanyeol memejamkan matanya sesaat, sebelum dia menatap mataku lurus “ Tapi kini yang terpenting, aku bisa selalu bersamamu dan menjagamu. Kau boleh mengatakan aku stalker atau apapun, tapi selama hampir enam bulan ini aku mengenalmu, aku selalu ingin melihatmu, aku selalu ingin mengikutimu, aku selalu ingin ada di sisi mu. Tapi, aku sadar… aku tidak tuli dan juga tidak buta, aku tahu bahwa kau akan bertunangan dengan pria yang jauh lebih baik dariku. Hyo, sekarang ini adalah kesempatan terakhirmu untuk membuatku menjauh dariku. Katakan saja jika kau ingin aku pergi, dan aku akan—”

‘DRAKKK’ aku melempar bundelan script drama ke lantai dan berdiri dari tempat dudukku. Jelas Chanyeol terlihat bingung dengan tingkahku. “Pabo! Dan kau akan pergi begitu saja jika aku bilang ‘pergi?!”

“Hyo?” Chanyeol menatapku, dia terlihat speechless

“Dan memangnya siapa yang mau bertunangan heoh? Aku tak akan bertunangan!” aku berdecak kesal, benar-benar sebal dengan sikap rendah dirinya “Tadi kau bilang apa? Pria yang jauh lebih baik darimu? Jika yang kau maksud adalah Choi Minho, bagiku kau seratus kali jauh lebih baik daripada dia!”

“Mwo? Tapi Suho hyung bilang …”

“Aku tak pernah bilang jika aku menyukai Minho oppa”

“Benarkah? Lalu..”

“Chan—-“ aku menepuk bahu Chanyeol dan saat itu pun aku langsung tertarik ke masa lalu Chanyeol, seolah melihat layar terbentang luas di depanku yang menampilkan sebuah apartment yang aku kenal. Di memori Chanyeol, aku bisa melihat Suho oppa terlihat begitu kesal.

“Chanyeol, bukankah kau sudah berjanji heoh?”

“Mian hyung, aku ….aku benar-benar menyukai Junhyo”

Suho oppa mengacak rambutnya frustasi. “Aku tak akan pernah menyetujuinya! Kalian tidak mungkin bersama, lebih tepatnya kalian tidak boleh saling mencintai. Anni, itu tidak boleh sampai terjadi!” Suho oppa kali ini terlihat agak ragu, seolah menimbang sesuatu yang akan dikatakannya.

“Hyung—“

“Chanyeol-ah, Itu tidak mungkin terjadi karena Hyo mencintai orang lain, dan Hyo akan bertunangan dan segera menikah dengan namja itu”

Chanyeol hanya terdiam dengan mata membelalak seolah habis ditampar. “Hyo… akan bertunangan? Menikah?”

“Ya, dengan Choi MInho, apa kau buta? Selama ini walau terlihat Hyo dan Minho bermusuhan, tapi mereka saling perhatian satu dengan lainnya, mereka saling menyukai! Seharusnya kau sadar ketika Minho selalu ada di sisi Hyo saat Hyo sedang sakit!”

Chanyeol masih tertegun di tempatnya, menunduk. Ingin sekali jika bisa aku memarahi Suho oppa karena dengan seenaknya dia telah mengatakan hal yang sama sekali tak pernah kubayangkan. Aku mencintai Choi Minho? Lelucon apa itu? Aku memang mulai menyukainya dan menganggapnya teman, tapi yang kucintai sama sekali bukan Minho oppa!

“Hyo… Hyo? Kau baik baik saja?”

“Heoh?” kata-kata Chanyeol berhasil membuat pikiranku kembali ke dunia nyata.

“Kau tak berpikir jika apa yang dikatakan oleh Suho oppa itu benar kan?”

“Heoh? Apa maksudmu Hyo?” Chanyeol memiringkan tubuhnya untuk menatap wajahku yang menunduk lebih jelas. Dalam hati, aku merutuki Chanyeol yang berhasil membuat jantungku berdebar lebih cepat. Tak bisa kah dia mengerti perasaanku padanya juga sama? Haruskah aku mengucapkannya?

Ahh!! Cepat-cepat aku mengambil iphone di tasku, dan membuka aplikasi line. Mengetikkan kata yang ingin sekaligus sulit kuucapkan pada Chanyeol dan mengirimnya.

“tringg” terdengar notifikasi dari ponsel Chanyeol. Aku langsung buru-buru berdiri “Chanyeol ah.. aku, mau ke perpustakaan dulu mengembalikan buku!”, dan tanpa menghiraukan Chanyeol yang memanggilku. Aku sudah berlari.

Kim Junhyo! Kau pasti sudah gila!

 

***//***

1 hour later

@Atap Kampus Universitas

 

‘I think I love you’

Sent to… CHOI MINHO?

Aku menepuk nepuk dahiku, merasa begitu bodoh! Pantas saja Chanyeol tak mencariku, karena pesan line ku untuknya malah terkirim ke Minho oppa. Bagaimana ini? sepertinya Minho oppa telah membaca pesan ku, bagaimana jika dia salah paham?

Tenang Hyo, Minho oppa mungkin akan menganggapnya sebagai lelucon!

“Kau benar-benar kekanakkan sekali Kim Junhyo, apa masih jaman mengungkapkan perasaan melalui sosial media?” suara dingin dari belakangku membuatku spontan berbalik. Panjang umur benar kau Choi MInho! Aku tak perlu repot repot mencari mu untuk menjelaskan salah paham ini.

“Minho oppa! Kebetulan sekali, sebenarnya itu …” aku masih bingung memilih kata-kata untuk menjelaskan salah paham ini sementara Minho oppa berjalan mendekatiku, aku bisa merasakan tatapan matanya yang seolah menembus ke dalam diriku. Dia tidak sedang marah kan?

“Sebenarnya apa?”

“Ah itu.. line yang kukirim—“ aku terhenyak ketika Minho oppa tiba-tiba memelukku erat. Aku bisa merasakan debaran jantungnya saat ia membenamkan kepalaku dalam dadanya. Aku benar-benar bingung saat ini dan berusaha melepaskan diriku darinya, tapi pelukan Minho oppa yang begitu erat seolah tak mengijinkan.

“Hyo, biarkan aku sedikit lebih lama memelukmu seperti ini, kau tahu, ini pertama kalinya aku benar-benar merasa bahagia setelah kehilangan ibu kandungku” lirih Minho oppa di telingaku, bersamaan dengan itu aku melihat Minho oppa yang berusia sekitar 10 tahun sedang menangisi kepergian seorang wanita yang sepertinya ibunya. Jadi selama ini, Nyonya Choi yang kukenal bukan ibu kandungnya?

“Mi..Minho oppa?”

“Hyo, I think I love you too, I love you so much …”

“M..mwo?”

Dan tepat saat itu, aku menyadari jika sepasang mata telah menatap kami

 

*** Author PoV ***

 

“Suho oppa?”

“Aahhh…. Apa aku mengganggu kalian?” seorang pria berwajah tampan terlihat agak terkejut mendapati adik kesayangannya sedang berpelukan dengan orang lain, tapi anehnya dia tidak merasa terlalu kesal ataupun marah seperti ketika adiknya itu berpelukan dengan mantan kekasihnya dulu, Kang Seung Yoon.

“Mian hyung.. aku.. aku…” Minho langsung melepaskan pelukannya, walau terlihat awkward dan sedikit takut menyadari tatapan Suho padanya, ia masih memegang tangan Kim Jun Hyo dengan erat.

Namja tampan yang bernama Suho itu menimbang nimbang apakah akan membiarkan adiknya bersama Minho, dan akhirnya setelah agak lama ia menarik nafas panjang “Baiklah, aku ke kelas duluan, Hyo, kau jangan terlalu lama disini, bukan kah setengah jam lagi kau ada kuliah?”

“Ah.. nee oppa..”

“Oke, eng.. bye…” Suho membalikkan badannya tepat saat Minho maju selangkah.

“HYUNG!! JJAMKAMAN!!!”

“Mwo?” Suho mengerutkan dahinya, bingung sedangkan Minho oppa entah mengapa Hyo bisa merasakan kegugupan Choi Minho. Mungkin dari telapak tangan namja itu yang terasa basah di tangan Hyo.

“Aku menyukai Hyo, anni… aku mencintai Hyo…dan aku serius!”

“Heoh?” Junhyo membelalakan matanya, tak menyangka namja di depannya akan mengatakan hal tersebut langsung pada kakaknya. Selama ini tak ada mantan kekasihnya yang pernah mengakui langsung menyukainya di depan Suho. Hyo tidak menyadari itu karena Suho hampir selalu memberikan aura negatif pada setiap pria yang dekat dengan Hyo dengan maksud tertentu.

Suho memiringkan kepalanya, wajahnya kali ini tanpa senyuman dan matanya berubah awas memperhatikan sejauh mana kesungguhan pria yang berani menyukai adik kesayangannya.

“Lalu kau ingin apa?”

“Jadi.. aku ingin hyung merestui kami”

Tak kalah terkejutnya dengan Hyo, Suho bahkan sampai menjatuhkan modul mata kuliah histologi yang dibawanya.

“Kau serius dengan kata-kata mu Choi Minho?”

“Minho oppa tunggu! Suho oppa bukan begitu, ini—“

“Kau diam dulu Hyo!” perintah Suho oppa membuat Hyo meringis kesal. Kesal karena bukan ini yang dia pikir akan terjadi, dan kesal karena kali ini kenyataan di depannya harus tercampur dengan kenangan masa lalu minho oppa yang tak sengaja terbaca olehnya. Membuanya pusing. Sepertinya Suho oppa menyadari hal itu dan berjalan ke arah Choi Minho dan Hyo, memutuskan pegangan tangan mereka.

“Minho ya, kurasa aku perlu bicara dengan mu” kata Suho oppa, Minho oppa menganguk. Dan sebelum mereka berdua meninggalkan Hyo, Suho menepuk nepuk kepala adiknya dengan penuh sayang. Perlahan dia mendekatkan wajannya untuk berbisik di telinga Hyo.

“Beristirahatlah sejenak…”

Tapi Hyo tahu, saat ini bukanlah saat ia untuk beristirahat.

 

****Still Author PoV****

 

“Sekarang Chanyeol yang sulit dihubungi” Hyo melangkahkan kakinya dengan malas ke arah taman sekolah, akhirnya ia menyerah dan meletakkan kembali iphone nya ke dalam saku jaketnya. Mata bulatnya seketika menyipit ketika mengenali sosok seorang gadis yang sedang tertidur di bangku taman dengan headphones menempel di kedua telinganya.

“Bukan kah itu Minhyun?” pikir Hyo, dan tanpa sadar senyuman telah terukir di wajahnya. Tanpa ragu gadis jangkung itu melangkah pasti ke arah Minhyun dan duduk di samping gadis itu. Ntah mengapa setelah saling mengetahui rahasia satu sama lain, Hyo merasa nyaman berada di sekitar Minhyun.

Minhyun bisa melihat masa depan orang lain, sedangkan aku bisa melihat masa lalu orang lain.Pikir Junhyo “Lalu, bagaimana jika aku berusaha mengintip masa lalunya?”

Entah mengapa Hyo merasa ragu saat hendak menggenggam tangan Minhyun yang terkulai di meja taman, tapi rasa penasarannya menang. Dan seketika itu juga, gadis itu tertarik dalam masa lalu Minhyun …

Masa lalu yang Hyo lihat pada Minhyun lebih mirip potongan-potongan film yang berlompatan, tak teratur. Pertama Hyo melihat Minhyun membaca surat dari seseorang yang bernama diva, dan kemudian adegan selanjutnya melompat saat Minhyun bertemu dengan Yoora eonni, Minhyun berkata tentang sesuatu di dompet Yoora eonni, dan akhirnya Yoora eonni mengatakan sesuatu tentang Chanhee lalu ada email, handphone Minhyun terjatuh dan —

Minhyun menepis tangan Hyo tiba-tiba, membuatku gadis itu terkejut karena memori Minhyun yang seketika itu terputus di depannya.

“Ah.. maaf, aku hanya kaget karena saat aku bangun ada yang memegang tanganku” kata Minhyun sambil menunduk, ia mundur dari kursinya seolah menjauhi Hyo.

“hhaha..” Hyo tertawa kaku “aku yang salah, mengagetkan mu… eng.. kau masih mencari saudara kembar Park Chanyeol? Maaf.. aku tak sengaja melihat masa lalu mu”

“Kau… melihat sejauh mana?” kata Minhyun, sedikit tak tenang. Walau mungkin kecurigaannya berlebihan karena dari ekspresinya, sepertinya Hyo belum melihat masa lalu lainnya, saat ia menyadari jika Chanhee yang dia cari, anak perempuan dari Diva sekaligus saudara kembar Chanyeol kemungkinan besar adalah gadis di depannya saat ini.

Junhyo = Chanhee, mungkinkah?

“Tidak terlalu banyak, jadi apa kau sudah menemukan Chanhee? Apakah dia mirip dengan Chanyeol?” tambah Hyo lagi, dan tanpa alasan jelas wajah gadis itu seketika memerah hanya karena menyebut nama namja itu. “Kurasa tidak hanya teman mu Diva yang akan senang karena kau menemukan anaknya, Chanyeol juga pasti merasa senang, aku yakin dia pasti ingin bertemu ibu kandungnya. Seperti aku …”

“Se..seperti kau?” Minhyun menaikkan pandangannya sedikit, jelas terlihat khawatir. Pikirannya bertanya-tanya, sejauh mana Junhyo sudah mengetahui rahasia dirinya dan Chanyeol?

“Sebenarnya ibuku sekarang adalah ibu tiriku” kata Hyo, ia tersenyum sedih sebelum kemudian seolah tersadar “Ah.. mian, entah mengapa aku mengatakannya”

“Ah.. gwenchana“ jawab Minhyun singkat, gadis pendiam itu membuka mulutnya agak ragu “Junhyo ssi, apa… kau menyukai Chanyeol?”

DEG

Seketika wajah Hyo semakin merah, ia benar-benar tak pernah menyangka Minhyun akan bertanya langsung seperti itu. Dia benar-benar tak ada persiapan dan bingung untuk menanggapi seperti apa. Di saat semua orang mengira dirinya besok akan bertunangan dengan Minho, ia tak pernah mengira ada yang akan bertanya tentang perasaannya pada Chanyeol.

“Ah… Chanyeol ssi” Minhyun merubah sudut pandangnya ke arah belakang Hyo, membuat Hyo ikut berbalik dan mendapati seorang namja berkemeja biru menghampiri mereka.

“Princess, aku mencarimu dari tadi, hpku lowbatt dan mati, eh kau ada di sini. Syukurlah kau baik-baik saja” kata Chanyeol sambil menepuk nepuk kepala Hyo yang tadi refleks menunduk saat menyadari ia menatap Chanyeol. “Kau bersama Minhyun? Kurasa kalian cukup akrab sekarang, apa yang sedang kalian bicarakan?”

“….” Baik Hyo dan Minhyun tak ada yang menjawab

“Hhahahha baiklah, aku mengerti, pasti rahasia yang hanya bisa diketahui oleh wanita” kata Chanyeol ceria, berusaha memecahkan ke awkward-an diantara kami. Ia berpikir sejenak sebelum kembali bicara “Oh ya, bagaimana kalau kalian main ke rumah ku malam ini? Kami sekeluarga akan mengadakan pesta barbeque untuk merayakan kenaikkan pangkat appa. Aku juga mengajak Suho hyung! “ tambahnya sambil menatap Minhyun.

“Aku tidak—“ Minhyun hendak menolak, tapi Hyo tiba-tiba memotong ucapannya.

“Oke! Aku dan Minhyun ikut!”

“ASSA!” sorak Chanyeol, dan bersamaan itu matanya bertemu dengan mata Hyo, hanya beberapa detik kemudian mereka berdua memalingkan wajah mereka. Tapi itu cukup untuk membuat Cho Minhyun mengerti, Chanyeol dan Hyo saling menyukai dan sayangnya perasaan itu lebih dari yang seharusnya.

 

==== Hyo POV ====

 

@Dept Store 2nd Floor

 

 

Setengah hari ini kepalaku rasanya terlalu pusing karena banyak berpikir. Choi Minho yang terlanjur salah paham malah sulit dihubungi, lalu Cho Minhyun, aku merasa dia menyembunyikan sesuatu dariku. Ya, aku tahu sejak siang ini aku, Minhyun dan Chanyeol bertemu, diam-diam Minhyun seolah memperhatikanku. Tapi yang paling membuatku kepikiran adalah sikap Chanyeol yang seolah menjaga jarak denganku. Dia terus mengacuhkan ku dan memperhatikan Minhyun!

“Kau lebih suka samgyupsal atau …” tanya Chanyeol pada Minhyun

“BEEF SAJA! AKU YANG BAYAR!” aku mengambil daging steak dan melemparnya ke keranjang troli, lalu dengan cuek mendorong troli tersebut melewati Minhyun dan Chanyeol, memisahkan mereka berdua yang sedari tadi berjalan beriringan. Aku menarik nafas panjang lalu memukul dahiku sendiri, Kim Junhyo bodoh!! Kali ini kau jelas-jelas menunjukkan kalau dirimu sedang cemburu PABO!

“HYO! JJAMKAM… “ Chanyeol tiba-tiba sudah ada di depanku, kedua tangannya menahan troli yang kudorong “apa kau marah? Wae?”

“ANNI!”

Chanyeol mengerutkan keningnya, kemudian tangan kanannya mencoba memegang dahiku yang ditutupi poni “Gwenchana? Apa kau sakit?”

“ANNI!” aku menepis tangan Chanyeol dan pergi meninggalkan Chanyeol dan juga troli belanjaan. Aku sendiri tak tahu apa yang merasukiku sehingga sebal sekali melihat Chanyeol dan Minhyun, dan wajah innocent Chanyeol yang seolah tak mengerti dengan perasaanku membuatku kesal.

“Hyo! Kau mau kemana?”

Aku tak mempedulikan panggilan Chanyeol dan berpikir sebaiknya aku melihat baju atau yang lainnya untuk mengalihkan pikiran ku. Maka tanpa ragu aku keluar dari supermarket dan segera menuju lift terdekat, secepat mungkin hingga aku pikir Chanyeol sudah kehilangan jejakku.

Aku mengerenyit menatap barisan nomor, tapi sebelum aku sempat menekan salah satu tombolnya, sebuah tangan terangkat di depan ku. Menekan tombol lantai tertinggi dengan mantap. Aku bisa melihat Chanyeol yang akhirnya berhasil menemukanku hanya bisa melihat pintu lift yang membawaku menutup. Matanya membesar seolah terkejut melihat siapa yang berada di sebelahku.

“Suho oppa?”

“Hyo, ada yang harus kubicarakan dengamu”

“Heoh?”

 

=======Author PoV=====

 

Chanyeol mengetuk ngetukkan jarinya pada troli dengan tak sabar, hingga seorang gadis menghampirnya. Gadis itu terlihat tak kalah bingungnya, terutama karena telepon yang baru saja diterimanya.

“Chanyeol-ah, Suho oppa meminta kita duluan karena dia dan Hyo ada urusan yang sangat penting. Mereka akan datang nanti malam” tambah Minhyun lagi, Chanyeol hanya menganguk. Sebenarnya dia melihat Choi Minho dan Suho hyung sekilas saat mereka baru saja menginjakkan kaki di mal ini, tapi ia tak mengira pertemuan mereka terkait dengan Hyo.

“Chanyeol-ah”

“Baiklah, kita duluan saja” jawab namja itu, jelas pikirannya sedang tidak ada di tempat.

Chanyeol dan Minhyun pun membayar belanjaan mereka dan bergegas pulang ke rumah keluarga Chanyeol. Namun tidak seperti biasanya, sejak tadi namja itu seolah kehilangan virus ‘happy’ nya. Ia terus menekuk wajahnya dan sesekali merogoh handphonenya, berusaha menelpon atau sekadar mengecek apakah Junhyo membalas pesannya. Tapi sayangnya tidak ada jawaban apapun.

“Chanyeol-ah, tenanglah, Hyo kan hanya bersama oppanya, dia akan baik-baik saja”

“……..” seolah angin lalu, Chanyeol yang sebenarnya sedang menyetir mobil, tidak menanggapi kata-kata Minhyun. Hingga tiba-tiba ia melihat seorang anak kecil berusia sekitar empat tahun menyebrang jalan tiba-tiba, membuatnya mengerem mendadak.

“CHANYEOL AWASS!!!” pekik Minhyun, sesaat sebelum ia merasa tubuhnya terlempar ke depan.

CKIIIITTTTTTTTTTTTTTTTTTTTTT

“Hah hah hah…..” nafas Chanyeol memburu saat ia berhasil menghentikan mobil, kepalanya terkulai di gagang setir. Terasa berat untuk mengangkat kepalanya sendiri. Bagaimana jika dia sampai menabrak anak kecil itu?

Drakk..

Suara pintu dibuka membuat Chanyeol menegakkan punggungnya, dan ia pun bernafas lega melihat anak perempuan di depannya berada dipelukkan Minhyun, anak itu menangis keras tapi selamat.

“Syukurlah …. Syukurlah….” Chanyeol menutup wajahnya dengan kedua tangannya. Berjanji dalam hati akan lebih berhati-hati.

 

======/Still Author PoV/======

@Restaurant

 

“Junhyo ya, sebenarnya aku berhasil meyakinkan orang tua kita dan Choi Minho agar menunda pertunangan kalian” kata Suho sambil diam-diam memperhatikan reaksi adiknya. Ia pura-pura sibuk memilih milih spaghetti di hadapannya dengan garpu.

“Arra… pengacara Jung baru saja menghubungiku” kata Junhyo, sebenarnya banyak sekali yang ingin dia katakan dan tanyakan pada Suho. Terutama tentang masa lalunya, mungkinkah dia bisa menemui ibu kandungnya?

“Hyo ya, apa yang kau pikirkan? Oh ya kau yakin tak mau memesan makanan? Pasta disini enak sekali”

Hyo menggelengkan kepalanya, ia merasa sama sekali tak lapar walau belum makan dari pagi.

“Oppa… sebenarnya aku sudah tahu semuanya, aku… dimana ibu kandungku?”

Trang

Suho oppa langsung menjatuhkan garpunya, mulutnya terbuka sedikit. “Hyo.. a.. apa maksudmu?”

“Oppa tak usah menutupinya lagi, aku mendengar pembicaraan oppa dan Hyori eom—“ Hyo tiba-tiba terdiam, bibirnya membentuk senyum sedih “Pasti sulit bagi dia membesarkan anak tirinya, dan kau… pasti merepotkan memiliki adik tiri sepertiku”

“Kau pasti salah sangka Hyo, kami waktu itu—-“

“Lalu… bagaimana bisa golongan darahku berbeda dari kalian??” tembak Hyo langsung “Golongan darahku A, sedangkan oppa, Hyori eomma dan appa O, mana mungkin…

Suho akhirnya melepaskan nafas panjang, ia tahu Hyo terlalu cerdas untuk dibohongi. Ia pasti sudah yakin dengan apa yang dikatakannya. “Hyo, meskipun begitu… kau tahukan, bagiku kau adalah adik kesayanganku?”

“Oppa…. Aku ingin mencari ibu kandungku, apakah… apakah dia masih hidup? Aku hanya ingin tahu bagaimana hidupnya saat ini”

Suho terdiam sejenak kemudian menganguk “Aku akan membantumu Hyo, jangan murung seperti itu… sebenarnya oppa sudah menemukan saudara kandungmu, lebih tepatnya dia saudara kembarmu, tapi sepertimu sebelumnya dia tidak tahu jika ibu kandungnya berbeda dengan yang selama ini selalu bersamanya, dan lagi…”

“Ah… aku memiliki saudara kembar?” Aku mengerjapkan mataku, agak terkejut “Dan lagi apa?”

“Orang itu telah bahagia dengan keluarga barunya, ia tak tahu jika ia memiliki ayah yang sama dengan kita, dan juga ibu yang sama denganmu”

“….” Hyo mengigit bibirnya sendiri “Kurasa dia akan sedih, aku tak akan mengatakan apa-apa padanya jika perlu” tambahku kemudian “Bolehkah aku bertemu dengan orang itu, oppa?”

Suho oppa tersenyum kecil “Tentu saja Hyo, dan sebenarnya kau sudah mengenal dia. Kita akan ke rumahnya malam ini”

“Eh..”aku memajukan tubuhku, merasa yakin jika aku hanya salah dengar “Siapa maksud oppa?”

“Sebenarnya Park Chanyeol adalah saudara kembarmu, Hyo, bukankah seperti takdir kalian dipertemukan lagi?”

 

=======Chanyeol PoV=======

@Rumah Chanyeol, Ilsan

 

Sekali lagi aku menepuk nepuk dadaku yang terasa tak nyaman. Rasanya aku merasakan perasaan sedih dan pedih yang tak bisa kumengerti. Sesungguhnya bukan sekali ini aku merasa seperti ini. Saat Hyo diculik dan juga ketika ia terluka saat mengetahui rahasia keluarganya, hatiku seolah merasa sakit juga. Kuharap ini bukan pertanda jika terjadi sesuatu yang buruk pada Junhyo.

“CHANYEOL! Bisakah kau mengambilkan dompet ku di kamar?! “ pinta Yoora noona yang bergegas ke pintu depan, beberapa saat lalu bel pintu berbunyi dan sepertinya orang yang mengantar delivery makanan yang datang.

“NEE! Minhyun-ah, aku titip stew ini dulu ya?” pintaku, Minhyun yang sedang bersama denganku di dapur menganguk. Dan aku pun meninggalkannya, menaiki tangga dua-dua menuju kamar Yoora noona yang berada di lantai dua.

“Dimana noona meletakkan dompetnya ya?” gumamku sambil melihat ke sekeliling kamar yang terlihat rapi. Aku pun berlutut untuk membuka-buka laci meja dan memeriksa meja belajarnya, hingga tak sengaja saat aku berdiri, tanganku menyenggol sesuatu di atas rak buku.

Pluk

“Ahh… rupanya disini” aku memungut dompet Yoora noona yang terjatuh, dompet itu terbuka dan dengan segera menampilkan foto kakakku saat masih kanak-kanak sedang memeluk kedua anak kecil , laki laki dan perempuan yang pastinya tidak lebih dari lima tahun. Aku tak ingat pernah melihat foto ini, tapi aku yakin anak laki-laki itu adalah aku lalu siapa anak perempuan ini? Karena penasaran aku menarik lembar foto itu dan tak disangka ada tulisan kecil di belakangnya.

“Yoora dan si kembar Chanyeol dan Chanhee” Aku membaca kata-kata di balik foto itu dan terpaku “Chanhee? Kembar?” aku menggelengkan kepalaku, anni… tidak mungkin aku memilki saudara kembar, mungkin ini temanku saat masih kanak-kanak. Tapi kata-kata ini.. dan kenapa Yoora noona menyimpan foto ini?

Pikiranku melayang pada mimpi-mimpi masa kecilku. Aku sering bermimpi jika ada seorang gadis kecil yang sering bermain denganku, tapi gadis kecil itu bukanlah Yoora noona. Menginjak remaja, mimpi-mimpi itu semakin jarang dan kemudian menghilang.

“CHANYEOL!”

Drap drap drap…

Menyadari ada suara langkah yang mendekat, aku buru buru menaruh foto itu di dompet Yoora noona dan berbalik. Tepat saat pintu dibuka.

“Kau lama sekali Chanyeol ah!” Wajah kesal Yoora noona berubah menjadi cemas, ia dengan cepat merebut dompetnya dari tanganku “K..kau.. tidak melihatnya kan?”

“Apa yang seharusnya tidak kulihat?” aku balik bertanya. Aneh, biasanya Yoora noona tidak pernah seperti ini kecuali jika benar-benar ada yang ingin disembunyikannya dariku. Jangan bilang.. foto itu…

“Bukan apa-apa, aku akan kebawah untuk membayar tteokpokki yang kupesan”

“JJAMKAMAN!” Aku menahan pergelangan tangan Yoora noona, dan memutar tubuhnya agar menghadap ke arahku “Noona, siapa Chan hee? Apa dia… dia benar-benar kembaranku?”

“Chanyeol—-“ mata gadis di depanku membulat “darimana kau—“ dia langsung menekapkan mulutnya seolah mengatakan sesuatu yang tak seharusnya.

“Aku sama sekali tak tahu…” kataku pelan, benar-benar merasa bingung. Haruskah aku merasa senang? “Lalu dimana Chanhee sekarang? Kenapa noona merahasiakan dia dariku?”

Yoora noona menggigit bibirnya, jelas telihat bimbang.

Tok tok tok

Ah.. eh, mian, eonni, orang yang mengantarkan tteokbokki tadi sudah pergi, dia terlihat terburu-buru” Minhyun tiba-tiba memunculkan kepalanya dari balik pintu kamar, aku langsung memalingkan wajah dari Yoora noona.

“eh… tapi aku belum membayarnya—“

“Sudah kubayar” jawab Minhyun singkat, aku bisa merasakan tatapannya sekilas mengarah ke arahku. Sahabatku ini pasti bisa merasakan ketegangan antara aku dan Yoora noona.

“Maaf jika aku mengganggu, aku—-“

Aku membuang nafas dan melewati mereka berdua, mungkin ada sesuatu yang membuat Yoora noona dan mungkin juga kedua orang tuaku menyembunyikan keberadaan Chanhee dariku. Tapi sebagai saudara kembarnya, aku berhak tahu kan?

 

======||Author PoV||=======

Sejam kemudian

 

“Anneyong haseyo, namaku Kim Junhyo, aku teman Park Chanyeol” Junhyo memperkenalkan dirinya pada tuan dan nyonya Park, kedua orang tua Yoora dan Chanyeol.

“Ommo… kau cantik sekali Junhyo ssi, silahkan…silahkan masuk, oh..kau tidak bersama dengan oppa mu?” tanya Mrs Park ramah. Mrs Park adalah seorang wanita paruh baya yang masih tampak cantik. Junhyo menggelengkan kepala.

“Suho oppa akan menyusul sekitar sejam lagi” Junhyo tersenyum kecil, tapi Chanyeol dan Minhyun dapat menyadari Junhyo sedikit aneh, gadis itu seolah sedang murung.

“Ah.. jadi haruskah kita menunggu Suho dulu?”

“Anni” potong Junhyo “Jangan merepotkan, Suho oppa bilang agar kita makan duluan saja”

“Baiklah kalau begitu, ayo kita mulai saja makan, Chanyeol sudah sengaja mempersiapkan makanan kesukaanmu” ajak Mrs. Park, tangannya yang hangat merangkul Junhyo sebelum melemparkan wink kecil ke arah Chanyeol, membuat wajah namja itu memerah.

“A… apa sih eomma?”

“Hahhahha mukamu memerah”

“Sudah jangan menggodaku, kajja, Minhyunnie, Yoora noona dan appa sudah menunggu di meja makan” sela Chanyeol, ia mendorong punggung kedua wanita yang dicintainya itu. Ada di dekat Junhyo saja membuat perasaannya jauh lebih baik, padahal sebelumnya dia terus kepikiran dengan ‘Chanhee’.

Makan malam pun berlangsung dengan ramai. Entah sudah seperti di atur, tapi Junhyo duduk berhadapan dengan Chanyeol. Disamping gadis itu ada Yoora yang berhadapan dengan Mrs. Park. Sedangkan Mr. Park duduk di ujung meja. Sesekali Mr. Park akan menceritakan cerita lucu yang membuat Junhyo pun bahkan tersenyum. Chanyeol pun tak mau kalah, ia menceritakan cerita bodohnya saat ciuman pertamanya direbut oleh banci yang kelewat cantik.

“Oh ya, ngomong-ngomong senin depan adalah ulang tahun Chanyeol, bagaimana kalau kita piknik bersama, kau bisa ikut juga kan Minhyunnie dan Junhyo ssi?” tanya Mrs. Park begitu mereka selesai menghabiskan makanan mereka. Chanyeol tahu benar pasti ada yang salah dengan Junhyo, ia tidak terlihat menikmati makanannya, seolah hanya menelannya saja.

“Panggil saja saya Junhyo, Mrs. Park”

“Kalau begitu kau harus memanggilku ‘emmoni’, baru aku akan memanggilmu Junhyo, eotthe?”

Junhyo menganguk, sejujurnya dia sedang merasa resah. Senin depan jelas sekali adalah ulang tahunnya juga dan terlebih hari itu mungkin ….”Jwesonghamnida Mrs. Park maksudku eommoni, aku ada acara hari itu, aku—-“

“AHH!!! Bukankah ulang tahun kita berbarengan?” sela Chanyeol, membuat mata Junhyo melebar seketika.

“Benarkah? Kebetulan sekali!” Ucap Yoora, ia terlihat agak terkejut “Jangan bilang kalian lahir di tahun yang sama hahhahaha”

Chanyeol menganguk “Kurasa kami janjian lahir ke dunia ini, hahahha. Oh ya Hyo, tentunya kau merayakan ulang tahun mu kan?”

“Anni, hanya.. ada acara lain” Junhyo tiba-tiba berdiri “Jwesonghamnida, eommoni, Mr. Park, aku… aku harus pulang, abeonim tadi mengirim pesan kalau aku harus segera pulang”

“Hyo—“

“Sekali lagi maafkan aku, terima kasih atas makanannya” Junhyo membungkuk sekilas dan kemudian setengah berlari menuju pintu keluar. Gadis itu masih bisa mendengar kata-kata Mrs. Park pada Chanyeol untuk mengantar Junhyo.

“HYOO— KIM JUNHYO! JJAMKAMAN!” Chanyeol mengejar Hyo yang baru saja keluar rumah. Dan ketika melewati pintu, namja itu disambut dengan rintik hujan yang semakin lama semakin deras. Setelah agak bimbang, ia pun memutuskan mengambil payung yang tergantung tak jauh dari pintu keluar.

Dresss dresss *suara hujan semakin lebat*

“HYOO!!! KENAPA KAU LARI?! HYO?!” Chanyeol akhirnya berhasil menangkap tangan Hyo yang kesulitan membuka pagar rumahnya, ia pun memayungi gadis kesayangannya itu “Kenapa terburu-buru, kau mau pulang? Biar kuantar”

Hyo berbalik dan kemudian menepis genggaman tangan Chanyeol dengan kasar. “Tidak perlu, Minho oppa akan menjemputku”

Chanyeol mematung sejenak, kenyataan bahwa Hyo lebih memilih untuk diantar oleh Minho dibandingkan dirinya saja membuatnya merasa cemburu.

KRETTT

Suara derit pagar yang terbuka menyadarkan Chanyeol dari lamunannya, ia kembali mengikuti Junhyo.

“Dimana dia akan menjemputmu? Bukankah lebih baik menunggu di rumahku?” tanya Chanyeol, seluruh tubuhnya sudah basah kuyup sekarang karena ia terus setengah berlari berusaha memayungi Hyo yang masih bungkam.

“Atau setidaknya kau ambil payung ini Hyo, aku—-“ Chanyeol tidak melanjutkan kata-katanya karena sekarang Junhyo sudah menghentikan langkahnya. Gadis itu menatap kosong ke arah jalanan yang sepi, tak banyak orang yang mau repot-repot keluar apalagi saat hujan lebat seperti ini.

“Chanyeol ah… kau ingat kata-kata mu tadi pagi? Aku sudah memikirkannya, dan kurasa aku harus mengambil kesempatan yang kau tawarkan”

Chanyeol melipat keningnya, dan seketika mulutnya setengah terbuka saat teringat apa yang dia katakan…

“Hyo, sekarang ini adalah kesempatan terakhirmu untuk membuatku menjauh dariku. Katakan saja jika kau ingin aku pergi, dan aku akan—”

“Park Chanyeol, aku ingin kau pergi dari hidupku”

DEG

Tanpa sadar Chanyeol menjatuhkan payung yang sebelumnya digenggamnya erat. Dunianya seakan terasa gelap seketika. Sejujurnya dia menyesali kata-katanya tadi pagi, tapi ia tak pernah menyangka Junhyo akan memintanya benar-benar menjauhinya.

“Tapi kenapa…”

Junhyo membalikkan tubuhnya menghadap Chanyeol, ia tidak perlu terlalu mendongak karena menggunakan high heels. “Aku memilih Minho oppa, kami akan bertunangan Senin depan, kalau kau mau datang, kau bisa datang sebagai teman Suho oppa”

Chanyeol mendengus, ia mengelap wajahnya yang basah karena air mata dan air hujan. Entah mengapa Chanyeol yakin ada sesuatu hal lain, Junhyo tak menatapnya langsung jadi mungkin gadis itu berbohong kan? Maka dengan agak kasar, Chanyeol menarik tubuh Hyo yang sudah basah kuyup ke dalam pelukannya.

“PARK CHANYEOL, APA YANG KAU LAKUKAN? LEPASKAN!!!” sentak Junhyo sambil berusaha membebaskan tubuhnya yang terperangkap dalam tubuh Chanyeol.

“Hyo, detak jantungmu tak bisa berbohong” bisik Chanyeol, ia memeluk Hyo lebih erat sementara gadis itu mulai menangis di pelukan Chanyeol.

“Kenapa kau lakukan ini padaku Park Chanyeol… kenapa?”

Chanyeol memejamkan matanya, ia tahu jika ia mungkin sudah hampir gila. Tapi pikiran tidak bisa bersama Chanyeol terasa sangat menyakitkan, hingga ia tidak tahu bagaimana cara menanggungnya kelak jika Hyo ingin dirinya benar-benar pergi.

“Hyo, mian…. Beri aku kesempatan” kata Chanyeol pada akhirnya, ia sedikit meregangkan pelukan mereka dan mendongakkan wajah Hyo yang sudah terlihat kacau “Berikan aku sedikit waku lagi untuk mencintaimu, untuk menjagamu. Dan jika pada akhirnya kau lebih memilih Minho hyung, aku—“

“Tidak ada gunanya Park Chanyeol” Hyo yang sudah frustasi dengan perasaannya sendiri dan juga Chanyeol yang sulit dimengerti membuatnya semakin kesal, dengan sekuat tenaga akhirnya ia berhasil melepaskan pelukan Chanyeol.

“Wae? Kenapa tidak? Aku—-Hyo.. kenapa menatapku sepeti itu? Kenapa kau menangis?“

Untuk pertama kalinya, Junhyo menaikkan pandangannya dan benar-benar menatap mata Chanyeol. “Park Chanyeol, hubungan kita tak mungkin, kau adalah saudara kembarku, mungkin ini sulit dipercaya tapi…”

Chanyeol seketika itu juga mundur beberapa langkah, sementara matanya tak berkedip terus menatap ke arah mata Junhyo. Mencoba mendeteksi kebohongan di mata gadis itu, tapi tampaknya sia-sia.

“Anni… tidak mungkin …. Kau tidak mungkin … Park Chanhee?”

=====|| Junhyo PoV ||====

 

“Anni… tidak mungkin …. Kau tidak mungkin … Park Chanhee?”

CTARRRR… DUARRR…..

Suara petir menyambar membuatku agak mundur karena terkejut, dan aku lebih terkejut lagi saat menyadari apa yang baru saja kukatakan. Padahal aku sudah memutuskan akan merahasiakan pertalian darah kami pada Chanyeol, tapi desakannya membuatku tanpa sadar mengucapkan kata-kata itu.

“Nee.. sepertinya aku adalah Park Chanhee, saudara kembarmu, jadi sekarang lepaskan lenganku!” aku menepis lengan Chanyeol yang tak kuduga dapat dengan mudah lepas. Saat ini Chanyeol masih terdiam di tempatnya, menunduk sementara air hujan terus membasahi tubuhnya. Tanpa berkata apapun lagi, ia berbalik.

“Mian…Mian Chanyeol-ah… hik hik …..” aku menekapkan tangan ke wajahku, tak sanggup menatap lebih lama punggung Chanyeol yang seolah penuh luka. Tapi ini mungkin yang terbaik untuknya, ia tak akan lagi berharap padaku bukan?

Dingin…. Dan menyakitkan….

Entah sudah berapa lama aku berjongkok dan diam-diam menangis di bawah hujan. Tak mempedulikan orang-orang yang terkadang lewat dengan terburu-buru. Air hujan yang dingin ini mungkin setidaknya bisa mengurangi rasa sakit di hatiku, rasa sakit yang disebabkan menyakiti orang yang aku kasihi.

Ya…. Aku mencintai Park Chanyeol, dan semua itu sudah tak mungkin.

Sesaat kukira hujan sudah reda karena air hujan tak lagi menerpa tubuhku, tapi hal itu tidak mungkin karena suara hujan yang masih terdengar deras.

“Minho oppa… hiks…” tanpa sadar aku cegukan, mataku pasti sudah merah sekarang dan wajahku ku yakin sudah kacau. Aku menggigit bibirku yang bergemeletukkan karena kedinginan. Sudah sejak kapan Minho oppa diam dan memayungiku seperti ini?

“Aku tahu tempat yang bisa membuatmu merasa lebih baik Junhyo ya, mau ikut denganku?” tawar Minho oppa. Ia merentangkan tangan kanannya seolah menanti uluran tanganku. Aku bisa melihat matanya bergerak gerak gelisah melihat keadaanku sekarang. Tapi aku bersyukur dia tak menanyakan kenapa aku bisa kacau seperti ini.

Beberapa lama aku hanya terdiam menatap tangan Minho oppa yang terulur, haruskah aku menerimanya?

“Aku tak punya maksud apapun, I swear!”

Aku menatap kembali wajah Minho oppa yang menampilkan senyumannya. Senyum berbeda dari yang sering dia perlihatkan sebelumnya. Aku perhatikan lagi dia tak kalah basah dariku, sepertinya ia lebih sibuk memayungi aku dibanding dirinya sendiri. Dan sebelum aku dapat berpikir, aku telah menganguk sementara Minho oppa tersenyum puas dan menggenggam bahuku membantuku untuk berdiri.

“Peganglah sebentar” Minho oppa menyerahkan payungnya padaku dan kemudian sibuk membuka jasnya untuk memakaikannya padaku.

“Anni.. tidak perlu, aku—“

“Pakai saja, aku kan laki-laki lagipula kau sudah seperti akan mati kedinginan” jawab Minho oppa, ia pun mengambil kembali payung yang kupegang dan merangkulku. Membawa ku ke arah mobil sport merah yang terpakir tak jauh dari kami berdua.

Tanpa sepengetahuanku, Chanyeol melihat semuanya. Dengan payung yang sebelumnya dijatuhkannya.

 

========|TBC| ========

 

a/n : annyeong ^^,, adakah yang menunggu FF ini? hahhaha mian, baru berrbulan bulan (ato malah setaun *?*) ya baru update lagi^^…so..gimana nasip Hyo ama Yeol, dan miaannnn T.T minhyun ga banyak eksis, chapter depan okey *lirik azumi*

 

oya ff ini bentar lagi tamat.. 1 or 2 ch more may be

Please RCL, your comment like oxigen for me ^^

 

 

Advertisements