Tags

, , , , , , ,

Collage 2014-11-20 19_25_26_resized

 

Author : Kunang & Azumi Aozora | Main Cast : Lee Hayi/ Hi, Lee Soohyun (AKMU), Kim Hanbin/ B.I, Kim Jinhwan, Kim Jiwon/Bobby| Support Cast: YG Sajangnim, The rest of iKON members + WINNER members+ Chanhyuk, Hongseok, Jinhyeong, Bang Yedam | Length : Chaptered| Genre :Family, romance, drama, friendship, business entertainment, musical, school life| Rating  : PG-15

Disclaimer       : Hi Suhyun, iKON, and Winner members, milik mereka sendiri.. Cerita ini murni milik dari carefree- happy- chicken maniacKunang and cool-stubborn-lovely Azumi Aozoraplagiat jauh-jauh sana sebelum dilempar kedunia lain sama Hanbin.

Summary        : Lee Soohyun dan Lee Hayi adalah kedua sahabat yang sama-sama pernah menyukai Bobby, setelah dipisahkan oleh jarak, mereka seolah dipertemukan takdir dan menjadi rival dari sebuah program yang YG academy adalakan ‘Who is Next’. Apakah persahabatan mereka akan bertahan? Dan bagaimana apakah keduanya masih tetap akan menyukai Bobby walaupun ada namja lain yang menaruh perhatian pada mereka?

2nd Chapter by Azumi

=====|Hayi PoV|=====

Sebenarnya aku tidak suka tinggal di asrama, tapi kakakku bilang tiap siswa mendapat 1 kamar tidur, tidak ada sharing room. Dan katanya peraturan di asrama tidak terlalu ketat. Jam malam tentu saja berlaku. Maksimal jam 10 malam tiap murid harus sudah berada di asrama. Yah, aku tidak terlalu peduli dengan jam malam, yang penting tidak ada yang mengekangku kalau aku sedang bosan di asrama atau sekolah dan ingin keluar jalan-jalan. Kehadiran tidak menjadi tolak ukur keberhasilan di sekolah. Yang paling diutamakan adalah kemampuan.

Sebenarnya aku masih agak jet lag, meskipun sudah beristirahat di rumah selama beberapa hari. Semalam aku sudah bertemu lagi dengan sahabat sekaligus dongsaeng kesayanganku, Lee Soo Hyun. Kurasa kami sudah oke. Mungkin selama ini aku terlalu banyak berpikir, mengira Soo Hyun membenciku karena dulu aku meninggalkannya ke Paris, padahal sebenarnya dia sama sekali tidak membenciku. Hhhh, kurasa aku harus mulai berhenti berpikiran negatif terhadap semua hal!

Begitu tiba di YG Academy, aku langsung menemui kepala sekolah di ruangannya. Sudah kuduga, dia memang orang yang eksentrik, tapi tak bisa kupungkiri kalau dia memang memiliki kharisma yang sangat kuat.

Aku memandang ruangan besar yang dipenuhi oleh berbagai robot, miniature, cartoon figure yang dipajang di sekeliling ruangan, disusun dengan sangat rapi dan teratur. Ruangan ini lebih pantas disebut museum mainan dibanding ruang kerja kepala sekolah! Dan aku menebak, YG alias Yang Hyun Suk sajangnim akan tahu bila ada satu saja mainannya yang hilang. Aku bergidik ngeri membayangkan bila ada siswa sekolah ini (yang sama maniaknya seperti dia) mencuri salah satu cartoon figure miliknya!

YG menatapku dengan tatapan meneliti di balik mejanya, seolah berusaha membaca pikiranku. Aku berdiri tegap dan balas menatapnya dengan berani. Coba saja, dia tidak akan bisa membaca poker face ku!

“Ini daftar team-mu. Tiap team terdiri dari 9 orang. Ada 4 orang siswa special yang bebas memilih team. Mereka bisa memilih akan masuk team-mu atau team lawan-mu.” YG memberiku daftar siswa yang katanya akan menjadi team ku.

Aku mengerutkan keningku, masih tidak mengerti dengan semua tetek bengek mengenai “kompetisi” dimana “katanya” aku menjadi leader nya. Yang benar saja! Mana ada murid baru yang langsung jadi leader dan menentukan debut semua siswa? Oh, aku yakin semua siswa akan iri padaku dan mungkin membenciku.

  1. Lee Chan Hyuk.
  2. Song Min Ho.
  3. Nam Tae Hyun.
  4. Kim Jin Woo.
  5. Kim Dong Hyuk.
  6. Ko Jun Hoe.

Keenam orang itu sudah fix menjadi anggota team-ku. Jadi kakakku tidak akan satu team denganku? Aku harus melawannya? Tsk!

“Atas dasar apa kau menentukan mereka menjadi team-ku, Sajangnim?” tanyaku dengan berani.

“Aku mengundinya.”

“Mwo?”

“Kakak / adik / saudara tidak diperkenankan berada dalam satu team. Aku tahu Lee Seung Hoon sangat berbakat, tapi kau tidak bisa satu team dengan kakakmu sendiri.”

Aku terbatuk pelan. Sepertinya dia bisa “membaca” ku. Gawat!

“Kim Han Bin, Yang Hong Seok, Kim Jin Hwan, dan Kim Ji Won akan memilih sendiri team mereka.”

Aku mengangguk. Jinhwan sudah pasti akan bergabung dengan team-ku. Kim Ji Won alias Bobby? Hmmm, bagaimana caranya ya agar aku bisa membuat dia masuk ke team-ku?

“Kau bisa mulai masuk kelasmu setelah jam makan siang berakhir.”

Aku mengangguk lagi, membungkukkan badanku dengan sopan, lalu berjalan pergi. Aku bergidik, sepertinya mata tajam YG masih mengawasi punggungku. Aku harus berhati-hati padanya. Dia sepertinya bisa membaca pikiran-pikiran burukku.

Begitu aku keluar dari ruangan kepala sekolah, kakakku sudah menungguku. Dia menyandarkan tubuhnya di tembok. Cengiran khas nya memberiku firasat kalau dia akan melakukan sesuatu yang membuatku kesal.

“Hayi~ya…” dia langsung merangkul pundakku dan membawaku berjalan. “Aku akan mengajakmu berkeliling. Hehehehe…”

Aku mengernyitkan keningku. “Oppa, kau terdengar seperti Hayi~ya, aku akan memamerkanmu ke seluruh sekolah.”

Seung Hoon tertawa sambil mengacak-acak rambutku. “Aigoo~ tentu saja aku akan memamerkan my Hayi dan memberitahu seluruh dunia kalau kau adalah adikku.”

“Oppa, kita tidak satu team. Aku harus melawanmu. Dan aku tidak akan kalah darimu!”

“Aigoo~~ tentu, tentu. Jangan sampai kau kalah dariku, dan aku juga tidak akan kalah darimu.”

Aku tersenyum. “Bagus. Oppa, dimana kantin nya? Aku lapar.”

Kakakku tertawa. “Eeeeyyyy, save the best for the last, Hayi~ya. Kantin di sekolah ini adalah yang terbaik! Makanannya….hhhmmmm…, kau tidak akan mau makan di tempat lain selain di sini!”

Aku hanya tertawa. Baiklah, aku akan berkeliling sebentar, setelah itu makan.

“Ini ruang assessment bulanan. Sebaiknya kita jangan lama-lama berada di sini. Ini bukan ruangan favoritku…..”

Tepat ketika Seung Hoon Oppa membawaku melihat sebuah ruangan besar yang katanya disebut ruang assessment, seorang gadis tinggi berambut lurus, dan seorang pria berkacamata datang dari arah berlawanan.

“YAH! Lee Soo Hyun!”

“Hayi eonni? K-kau bersekolah di sini? Huwaaaa…., maafkan akuuuu. Aku tidak boleh memberitahu siapapun kalau aku bersekolah di sini jadi semalam aku berbohong padamu dan.., KYAAAAAA! Ternyata kau diterima di sini juga? Kita satu sekolah lagi! Kau tahu, eonni? Bobby Oppa juga ada di sini!” Soohyun berkata dengan cepat dan tanpa henti

“KYAAAAAAAA!” Aku berjingkrak-jingkrak senang sambil memeluk Soo Hyun. Aku senang kami satu sekolah lagi. Sebenarnya aku sudah agak curiga ketika melihat poster Who Is Next.

“Aku akan membuat Bobby Oppa masuk team ku!” tandasku.

“Mwoya?! Tidak boleh! Dia harus masuk team-ku!”

Kami terkikik geli. Aku bisa berubah menjadi “gila” bila sudah bersama dengan sahabatku ini.

“Kau tahu eonni? Bobby Oppa semakin tampaaaaaan! KYAAAAAA!”

“Benarkah? Kau sudah melihatnya?”

“Hmm. Tentu! Aku langsung bertemu dengannya di hari pertamaku datang ke sekolah ini.”

“KYAAAAAAA! Kau sangat beruntung, Soohyun~nie!”

“Chanhyuk~ah, apakah kau mengenal mereka?” tanya Seung Hoon.

“Tidak hyung, aku tidak mengenal mereka.” Jawab Chan Hyuk. Mereka langsung berjalan pergi meninggalkan aku dan Soo Hyun.

Aku dan Soohyun hanya terus terkikik geli. Yah, terkadang kami berdua bisa terlihat lebih memalukan dibanding kakak-kakak kami.

“Yah! Kau berhutang banyak cerita padaku, Soohyun!”

“Kau juga eonni! Hmmm, tapi kita akan menjadi lawan. Ah, padahal aku ingin kita berdua satu team.”

Aku mengangguk. “Ada-ada saja! Yah, tapi apa boleh buat. Aku tidak akan kalah darimu, Lee Soo Hyun!”

“Aigoo~ eonni, kau tahu kan aku benci kekalahaan? Terutama dalam segala hal yang menyangkut Bobby Oppa? Hihihi…”

Aku mengerang. “Tidak bisakah kita mengajukan protes pada YG?”

Soo Hyun menggeleng. “Sepertinya tidak. Kau tahu sendiri Yang Hyun Suk sajangnim itu sangat keras kepala dan tidak bisa diganggu gugat bila sudah memutuskan sesuatu.”

Aku mengangguk setuju. “Dia juga sangat aneh.”

Aku dan Soo Hyun terlonjak kaget ketika merasakan ada sebuah tangan besar yang menyentuh bahu kami. Kami menoleh dan melihat Yang Hong Seok menatap kami dengan tajam. “Siapa diantara kalian yang paling membenci YG?”

“Eeehh?”

“Haaahh?”

Aku dan Soo Hyun hanya bisa ternganga dengan pertanyaannya barusan. Apakah dia barusan mendengar percakapan kami? Apakah dia akan melaporkan kami pada YG alias ayah kandungnya itu karena kami telah membicarakannya?

“Aku akan masuk team yang paling membenci YG.” Tambah Hong Seok.

“Eeeeehhh?”

“Haaaahhh?”

Kami berdua semakin bingung. Hongseok hanya berjalan pergi dengan santai begitu saja, meninggalkan kami yang kebingungan.

“Dia sama anehnya seperti YG.” Gumamku.

Soohyun mengangguk. “Benar. Padahal dia tampan. Sayang sekali.”

~~~~~~ ****** ~~~~~~ ******* ~~~~~~

“LEE HAYIIIIIIII! AKU MERINDUKANMUUUUUU!” Teriak sebuah suara berat. Aku mengernyit, tapi tersenyum lebar begitu menyadari siapa yang memanggilku. Song Min Ho berlari mendekatiku begitu aku dan Soo Hyun memasuki kantin. Soohyun, Chan Hyuk, dan Seung Hoon Oppa langsung mengantri mengambil makan siang, sementara aku dan Mino Oppa masih tetap berdiri sambil berpelukan.

“Yah! Kau tambah cantik saja, Hayi~ya.”

“Eeewww, kau tahu sendiri kan Oppa, aku satu-satunya perempuan di dunia ini yang kebal terhadap rayuan gombalmu?”

Mino hanya tertawa, lalu menuntunku ke mejanya. “Aku mengambil banyak makanan. Kau bisa makan punyaku. Sama sekali belum kusentuh.”

Ketiga pasang mata langsung menatapku. “Lee Hayi?”

“Kang Seung Yoon?”

Pria bertopi fedora hitam itu tersenyum lebar. “Senang bisa bertemu denganmu lagi. Jadi, kau akan menjadi lawanku lagi?”

“Sepertinya begitu.”

“Kau Lee Hayi? Leader team kami?” tanya seorang pria bermata besar.

Rasanya aneh saat ada yang memanggilku leader. Aku masih belum paham dengan kompetisi aneh yang ada di sekolah ini, tapi pria itu terlihat seperti sudah sangat menantikan kehadiranku, jadi aku hanya balas tersenyum sopan sambil mengangguk.

“Ini Jinwoo hyung.” Kata Mino, memperkenalkan kami.

“Wah, sepertinya aku berada di meja yang salah.” Seung Yoon tertawa.

“YG dan ide-ide anehnya!” Taehyun mendengus. “Hayi, aku senang satu team denganmu, tapi apakah kau sudah punya rencana akan menampilkan apa minggu depan?”

“Eeehhh?”

“Kau belum tahu? YG belum memberitahumu?” Taehyun oppa mengerutkan keningnya. Aku menggeleng.

Mino merangkul pundakku dengan sebelah lengannya. “Oh, Hayi~~~ kau harus menampilkan sesuatu di depan semua murid. Tiap leader harus menunjukkan keahlian mereka. Kau hanya punya waktu satu minggu. Kau harus melawan Lee Soo Hyun. Kalau kau mendapat skor yang lebih baik darinya, team kita akan bisa memilih lagu apa yang akan kita tampilkan untuk assessment bulanan, sementara kalau kau kalah….yah….kita harus menerima lagu apapun yang diberikan oleh team lawan. Kau tahu, team lawan pasti akan memberikan kita lagu yang menurut mereka menjadi kelemahan kita.”

Kang Seung Yoon tertawa. “Mino~ya. Aku tahu apa kelemahanmu.”

Mino mengerang. “Hayi~ya.., kau harus menang! Oke?”

Aku menghembuskan nafas panjang. Apa-apaan ini?! Sepertinya aku tidak akan bisa menikmati masa sekolahku seperti yang kubayangkan!

~~~~~~ ****** ~~~~~ ****** ~~~~~~

 

“Jadi, Lee Soo Hyun adalah sahabat sekaligus dongsaeng kesayanganmu yang selalu kau ceritakan itu?” Kim Jin Hwan menggaruk belakang lehernya sambil tersenyum kikuk. Dia membantuku mengeluarkan seluruh isi koperku dan membereskan barang-barangku di kamar asramaku.

Aku mengangguk dan langsung menatapnya dengan sengit, “Kau sudah berjanji akan satu team denganku!”

“Tentu saja.” Gumam Jinhwan. Dia menyibukkan dirinya dengan membereskan novel-novel favoritku di rak buku, menyembunyikan wajahnya yang memerah.

Aku tertawa. “Aku bisa mengajak Soohyun makan bersama kita kalau kau mau.”

“Eh? Tidak! Tidak perlu!” tukas Jinhwan cepat-cepat. Wajah polosnya yang cute membuatku ingin menggodanya lebih jauh tapi kakakku keburu datang.

“Hayi~ya! Aku dan Mino akan makan diluar. Kau mau ikut?”

“Oppa! Kau bilang makanan di kantin YG yang paling enak!”

“Hahaha. Memang, tapi teman Mino dari sekolah lain hari ini ulang tahun dan akan mentraktir kita makan.”

“Aku makan disini saja.”

Seung Hoon mengangguk. “Oke. Aku juga ingin kau di sini saja. Karena sepertinya tempat makan itu terlalu dewasa bagimu.”

“Lalu kenapa barusan kau bertanya?”

Seung Hoon hanya mengangkat bahunya lalu menepuk-nepuk bahu Jinhwan. “Jaga adikku.”

“Ne, hyung.”

Setelah kakakku pergi, aku kembali menggoda Jinhwan. “Kalau begitu kita makan bersama Soohyun sekarang?”

“YAH! Lee Hayi! Aku tidak mau membantumu lagi membereskan barang-barangmu!” gerutu Jinhwan dengan kesal, tapi nyatanya dia tetap membantuku membereskan barang-barangku, menyusunnya dengan sangat rapi di tempat yang semestinya.

Teman baikku yang satu ini memang terlalu baik. Kadang aku takut akan ada orang jahat yang memanfaatkan kebaikannya.

~~~~~~ ****** ~~~~~ ******* ~~~~~~

 

Aku memang menyukai Mickey dan Minnie Mouse, tapi aku tidak se-freak Kim Han Bin yang selalu memakai barang-barang Mickey Mouse! Lagipula aku tahu sahabatku, Soohyun, tidak suka tikus, jadi sebisa mungkin aku tidak memakai koleksi Mickey dan Minnie Mouse-ku saat berada di dekat Soohyun.

Sepertinya Hanbin menyadari tatapan dinginku padanya, karena saat dia berjalan melewatiku, bibirnya menampakkan seulas seringaian penuh percaya diri. Menyebalkan!

Sepertinya dia tidak mengingatku. Tapi bagaimana mungkin aku bisa melupakan orang yang sok keren dan sangat sombong itu!

Dia frennemy Soohyun. Maksudnya, kadang menjadi teman tapi lebih sering jadi musuh, karena sikapnya yang sangat mengesalkan! Aku pernah beberapa kali bertemu dengannya saat junior high school dulu. Sejak pertama kali melihat wajahnya pun aku ingin sekali mencakarnya dan menghapus seringaian sok keren itu dari wajahnya! Hah! Dia pikir dia siapa? Oh, benar. Dia termasuk salah satu siswa istimewa di sekolah ini yang bisa memilih team mana yang akan dia masuki.

Aku mendengus. Apa sih istimewanya dia? Kuharap dia masuk team Soohyun saja. Aku tidak ingin terkena serangan darah tinggi sejak dini karena harus menghadapi orang belagu seperti Kim Han Bin!

“Darimana dia mendapatkan snapback Mickey yang limited edition itu?” gumamku pada diri sendiri.

“Hah? Kau bilang apa, eonni?” tanya Soohyun.

Aku menggeleng. “Tidak. Ayo cepat makan! Jam istirahat sebentar lagi selesai.”

Meskipun bisa dibilang kami berdua adalah “saingan”, persahabatan kami sama sekali tidak terganggu karena kompetisi konyol itu! Murid-murid lain pun sepertinya damai-damai saja.

Di YG academy, kami tidak hanya belajar menyanyi, rap, dance, akting, dan membuat lagu tapi juga belajar mata pelajaran umum seperti matematika, fisika, kimia, biologi, sejarah, ekonomi, dan lain sebagainya.

Kelas tidak ditentukan oleh sudah berapa lama kau berada di YG academy, tapi sejauh mana kemampuanmu. Kalau nilaimu jelek, ya harus mengulang tahun depan. Pelajarannya menggunakan sistem kredit. Jadi, teman-temanku dalam berbagai pelajaran tidaklah sama.

Aku tidak terlalu pintar, tapi aku juga tidak bodoh, dan aku termasuk murid yang rajin. Sebelum masuk ke YG academy, meskipun YG merekrutku, tetap saja aku diberikan berbagai test yang akan menentukan level kelasku untuk setiap pelajaran.

Rata-rata, aku berada di level 2 untuk setiap mata pelajaran, kecuali kelas fisika dan kelas vokal. Di level 3 kelas Fisika, hanya ada aku dan Kang Seung Yoon. Di level 3 kelas vokal, hanya ada aku, Nam Tae Hyun, dan Kang Seung Yoon.

Oh, aku berada di level 1 untuk kelas rap, satu kelas dengan Soohyun. Soohyun juga rata-rata berada di level 2 dan level 1, terutama untuk pelajaran umum karena dia kan memang masih freshman.

Untuk kelas lainnya, terdapat lebih dari 4 orang, jadi kelas tidak terlalu sepi. Kelas Fisika adalah kelas tersepi bagiku karena muridnya hanya ada aku dan Seung Yoon. Untungnya dia baik dan membuat suasana kelas yang menegangkan jadi terasa menyenangkan.

Apakah setelah seorang siswa menyelesaikan semua mata pelajaran level 3 nya maka berarti dia akan langsung lulus dan debut dari sekolah ini? Belum tentu.

Ya, dia bisa saja lulus, tapi belum tentu debut. Tapi aku yakin setiap siswa di sekolah ini bukan hanya mengejar kelulusan dan nilai yang memuaskan tapi juga pengalaman dan kesempatan untuk debut di industri hiburan.

Biasanya, bila seorang siswa sudah lulus level 3 dalam mata pelajaran tertentu dan dia merasa mata pelajaran itu sangat penting baginya, maka dia akan kembali mengontrak mata pelajaran itu di semester atau tahun pelajaran berikutnya. Contohnya kakakku. Dia sudah lulus level 3 kelas koreografi, tapi semester ini dia kembali mengontrak mata pelajaran itu. Atau Mino, Bobby, dan Hanbin yang sudah lulus level 3 kelas rap, tetap mengontrak mata pelajaran rap semester ini karena mereka sangat menyukai rap, dan selalu ada hal baru untuk dipelajari di setiap semester. YG academy juga biasanya mendatangkan guest mentors untuk melatih para murid. Contohnya saja, semester lalu, YG mengundang Taeyang yang merupakan penyanyi terkenal di Asia untuk mengajar di kelas vokal selama kurang lebih 2 bulan.

Dan kabarnya semester ini G-Dragon akan diundang untuk menjadi guest mentor di kelas rap dan composing. Kuharap dia mengajar kelas composing level 2 juga, bukan hanya level 3! Aku sangat ingin belajar pada composer lagu terkenal yang sudah banyak menciptakan lagu-lagu hits tersebut.

Sepertinya kesialan selalu menghampiriku. Aku sekelas dengan Kim Han Bin dalam hampir semua mata pelajaran kecuali kelas vokal, rap, koreografi, dan fisika!

Kenapa dari 17 mata pelajaran yang kukontrak semester ini, 13 diantaranya harus satu kelas dengan makhluk bernama Kim Han Bin?! Sepertinya aku memang benar-benar sial!

Oh, dan dari ketujuh hari dalam satu minggu, aku paling benci hari kamis dan jumat karena aku harus tahan berada dalam radius yang sangat dekat dengan Kim Han Bin sejak pukul 8 pagi sampai pukul setengah 6 sore!

Hari ini hari kamis. Salah satu hari paling menyebalkan dalam satu minggu.

Kelas pertama adalah kelas akting. Kurasa bila guru memintaku untuk berakting memarahi Kim Han Bin, aku akan dapat nilai A dan sama sekali tidak perlu berakting!

Hari ini Hanbin memakai sweater cokelat bergambar Mickey Mouse dan beanie kuning yang juga bergambang Mickey Mouse. Seperti biasa, dia berjalan dengan angkuh. Tatapan matanya yang dingin dan tajam langsung menyambutku begitu kami berpapasan di depan pintu masuk kelas.

Aku tidak berpura-pura menyembunyikan rasa tidak sukaku padanya. Tanpa sedikitpun tersenyum padanya apalagi menyapanya, aku langsung berjalan mendahuluinya dan duduk di samping Jinhwan.

“Tumben sekali dia duduk di kursi paling depan!” aku mendengus melihat Hanbin duduk di kursi paling depan dekat meja guru. Biasanya dia selalu duduk di kursi paling belakang.

“Hari ini ada mentor special. Dara nuna.” Bisik Jinhwan.

Aku mendengus lagi sambil memutar kedua bola mataku. “Pantas saja. Oh ya, Jinhwan Oppa, kudengar…. Kau harus segera memutuskan akan masuk team mana hari Sabtu ini. Kau sudah menulis di formulir nya kalau kau akan masuk team ku kan?”

Jinhwan tersenyum. “Tentu saja. Kau tidak usah khawatir, Hayi~ya.”

Aku mengangguk. “Baguslah. Ngomong-ngomong, apakah kau tahu bagaimana caranya agar Bobby Oppa bisa masuk ke team ku?”

Jinhwan menggaruk kepalanya. “Aku tidak tahu. Dia itu tipe yang….hmmm… sulit ditebak dan bebas. Kenapa kau tidak tanya saja langsung padanya, Hayi~ya?”

Bagaimana aku bisa bertanya padanya? Aku belum pernah bertemu dengannya! Ah, kenapa Soohyun lebih beruntung dariku? Dia satu kelas dengan Bobby Oppa hampir di semua pelajaran umum (kecuali pelajaran musik). Sepertinya Bobby Oppa sudah berada di level tinggi untuk kelas-kelas musik tapi masih berada di level rendah untuk kelas-kelas umum.

Aku menatap jadwal pelajaranku, lalu membalik-balik daftar siswa untuk tiap pelajaran. YES! Aku satu kelas dengan Bobby Oppa di kelas Sastra Korea sore ini!

Kelas-kelas seni (vokal, rap, composing, akting, dan koreografi) berlangsung selama 2 X 50 menit, sementara kelas-kelas umum (bahasa, Sains, dan Sosial) berlangsung selama 1 X 50 menit.

Kelas akting terasa sangat menyenangkan. Waktu terasa cepat sekali berlalu. Dara eonni benar-benar guru yang baik, dia mengajarkan banyak hal yang kreatif dalam hal akting. Sayang sekali dia hanya akan menjadi guest mentor selama 2 minggu!

Kurasa semua murid kagum padanya. Yah, aku tidak bisa menyalahkan mereka karena YG academy sangat kering perempuan! Aku dan Soohyun hanya satu-satunya murid perempuan di sini.

“Jinhwan Oppa, kau makan duluan saja.” Kataku sambil bergegas cepat-cepat pergi dari kelas ketika bel berbunyi.

“Kau mau kemana?”

“Rahasia! Hehehe…” Aku cepat-cepat berlari menuju lantai 7, lebih tepatnya menuju ke ruang musik.

Kurang dari 4 X 24 jam lagi aku harus menampilkan kemampuanku di depan semua siswa. Kemampuanku? Aku berencana untuk menyanyi sambil bermain piano. Aku tahu, lagu ciptaanku masih kalah jauh dibanding lagu-lagu ciptaan murid lain, tapi kurasa menampilkan lagu ciptaan sendiri akan menambah poin plus.

Terdapat banyak sekali ruang musik di YG academy. Aku memilih ruang musik yang jarang digunakan. Aku tidak mau ketika aku sedang menyanyi tiba-tiba saja ada murid lain yang memergokiku dan menggangguku. Jadi, aku pun memutuskan untuk memakai ruang musik di lantai 7.

Aku menarik nafas dalam-dalam lalu menghembuskannya perlahan sebelum jari-jariku yang pendek dan mungil mulai menekan tuts piano. Siapa bilang untuk menjadi pemain piano yang handal harus memiliki jari-jari panjang dan lentik?! Siapapun bisa bermain piano dengan baik asalkan dia rajin berlatih.

Aku mulai menyanyikan lagu ciptaanku yang berjudul “babo” / bodoh. Tapi saat di tengah-tengah lagu, tiba-tiba saja aku berhenti karena mendengar suara bersin.

“Siapa itu?” tanyaku. Aku berdiri dan melihat sekelilingku. Tidak ada siapapun. Lalu aku berlari menuju pintu dan melihat keluar. Tidak ada siapa-siapa. Tiba-tiba bulu kudukku meremang, dan tanpa pikir panjang lagi aku pun langsung berlari keluar dari ruangan musik di lantai 7 itu dan hampir bertabrakan dengan Kim Han Bin saat aku berlari menuruni tangga.

“Woah..woah…., easy girl! Kau seperti habis melihat hantu.” Hanbin menyeringai dengan seringaiannya yang menyebalkan, seperti biasa.

Aku mendorong tubuhnya menjauhiku meskipun tadi dia menahanku agar tidak terjatuh. Sepertinya aku tadi memang mendengar suara hantu. Hantu bersin. Tunggu, memangnya hantu bisa bersin?

Hanbin masih menatapku. Aku mendengus. Mana mungkin aku bilang padanya kalau aku baru saja mendengar suara hantu bersin?! Dia pasti akan menertawakanku!

“Bukan urusanmu.” Kataku dingin, lalu cepat-cepat berjalan pergi meninggalkannya.

~~~~~~ ****** ~~~~ ****** ~~~~~

Tidak seperti kelas akting, kelas ekonomi terasa membosankan dan waktu pun terasa lama sekali berlalu. Aku ingin kelas ini segera berakhir sehingga aku bisa bertemu dengan Bobby Oppa di kelas Sastra Korea.

Ada yang memperhatikanku. Aku tahu sejak aku masuk kelas ini ada yang selalu menatapku. Aku menoleh dan melihat Kim Han Bin menatapku dingin dengan tatapan matanya yang tajam. Aku balas melotot padanya, tapi dia sama sekali tak menunjukkan ekspresi apapun. Wajahnya terlihat datar dan bosan seperti biasa. Hanya saja matanya selalu tertuju padaku.

Ada apa sih dengannya? Aku menggelengkan kepalaku dan kembali mencatat pelajaran.

Ah, sepertinya aku memang selalu sial. Kenapa Bobby tidak masuk kelas sastra Korea?! Aku tidak tahu kenapa dia tidak masuk. Entah bolos, sakit, atau apa, yang jelas…. KENAPA DIA MENYIA-NYIAKAN SATU-SATUNYA KESEMPATAN UNTUK BERTEMU DENGANKU DI KELAS INI?!

Menyebalkan!

~~~~~~~ ******* ~~~~~~ ******* ~~~~~~

 

Oh, apakah aku pernah berkata kalau aku benci hari Kamis dan Jumat? Kutarik kembali kata-kataku. Aku LEBIH membenci Jumat dibanding Kamis, karena dihari Jumat Jinhwan tidak memiliki kelas yang sama denganku tapi aku harus selalu satu kelas dengan Hanbin!

Lagi-lagi Kim Han Bin menatapku seolah dia berusaha membaca isi kepalaku. Ada apa sih dengannya?

Apa karena aku memakai jepit rambut mickey mouse? Cepat-cepat aku melepaskan jepit rambut itu dari rambut cokelat ikal panjangku dan memasukkannya ke dalam tas.

Kim Hanbin masih menatapku. “Kau punya masalah denganku?” tanyaku pada akhirnya. Rasanya tidak nyaman ditatap secara terus-menerus oleh orang yang kuanggap sebagai musuh / saingan. Orang yang tidak kusukai!

“Siapa kau?” tanya Hanbin pelan.

Aku mendengus dan tertawa. Dia pasti gegar otak! Dia tanya siapa aku? Tentu saja aku Lee Hayi! Aku tidak menjawab pertanyaan konyolnya itu dan kembali memfokuskan perhatianku pada hal-hal yang lebih berguna seperti memperhatikan penjelasan guru mengenai lempeng-lempeng benua.

Setelah pelajaran Geografi selesai, dan sebelum Sosiologi dimulai, hal yang tidak pernah kubayangkan terjadi. Bobby datang ke kelasku dan berbicara padaku!

“Hai Hayi…” Bobby duduk di depanku sambil tersenyum. Matanya yang sipit jadi terlihat agak berkerut di ujung-ujungnya dan membentuk seperti bulan sabit.

“Ha….hai….Bobby Oppa.” Aku senang dia menyapaku, tapi kenapa tiba-tiba?

Dia tertawa pelan. “Aku masih bingung akan masuk team-mu atau team Soohyun.”

“Oh…”

“Jadi…mmmm…, apa yang bisa kau tawarkan padaku kalau aku masuk team-mu?”

“Apa yang bisa kau tawarkan padaku kalau kau masuk team-ku?” aku balas bertanya dengan cool, tapi dalam hati memaki dan merutuki diriku sendiri. Lee Hayi bodoh! Seharusnya kau jangan mengajukan pertanyaan seperti itu! Bagaimanapun caranya kau harus membuatnya masuk team-mu!

Bobby terkekeh pelan. “Apakah kau ingin aku berada di team-mu?”

Aku mengangguk. “Tentu.”

“Hmmm, Soohyun juga ingin aku berada di team nya.” Bobby mengangguk-anggukkan kepalanya. “Apa yang akan kau lakukan kalau aku bolos latihan?”

Aku menatapnya selama beberapa saat sebelum menjawab. “Aku akan menendang bokong mu.”

LEE HAYI! KAU BENAR-BENAR BODOH!

Bobby tertawa terbahak-bahak. Apakah jawabanku lucu? Tapi jujur saja, aku paling tidak suka orang yang membolos latihan. Apalagi ini untuk kepentingan team. Sehebat apapun dirimu, kalau kau membolos dan tidak bisa bekerja sama, maka tidak ada gunanya!

Kenapa Bobby bertanya seperti itu? Aku kan ingin dia berada di team ku! Sebenarnya kalau dipikir-pikir….tidak masalah juga sih kalau dia membolos, dia kan Bobby. Dia…

Aaarrrggghhhh! Lee Hayi, you’re so stupid!

“50 : 50. Aku masih belum bisa memutuskan akan masuk team mana. Padahal besok pagi aku harus sudah memberitahu YG sajangnim akan masuk team yang mana. Hhhmmm…, ini sulit. Kurasa aku akan memikirkan cara lain. Sampai ketemu nanti, Hayi! Mungkin nanti tiba-tiba aku akan menemuimu lagi dan mengajukan pertanyaan-pertanyaan aneh. Hahaha…” Bobby menghormat ala militer lalu berjalan pergi.

Aku menghembuskan nafas panjang. Ada – ada saja.

Bagaimana ini? Apa sebaiknya aku merekrut Yang Hong Seok saja kedalam team-ku? Dia kan anak YG sajangnim! Menjadikan dia anggota team ku mungkin akan berguna.

Aku masih punya waktu 5 menit lagi sebelum kelas Sosiologi dimulai. Apa sebaiknya aku berlari ke kelas Hong Seok dan bilang padanya kalau aku sangat membenci YG? Sehingga dia mau bergabung dengan team-ku?

Aaaarrrggghhhh! Jangan konyol, Lee Hayi!

Sudahlah! Aku tidak peduli apakah Bobby atau Hongseok akan masuk team ku atau tidak. Yang penting Jinhwan satu team denganku! Sejak dulu kami sering duet di festival-festival sekolah, dan lagi dia adalah teman baikku. Yang penting dia ada di team ku, maka semuanya akan baik-baik saja.

~~~~~~ ******* ~~~~~~ ******* ~~~~~~

Kelas composing tidak bisa dibilang gampang namun juga tidak sulit. Semuanya tergantung pada setiap murid, pada setiap kreativitas masing-masing. Tidak sama bagi semua orang dalam mendapatkan inspirasi dalam membuat lagu. Ada yang harus mengalami dulu hal-hal menyedihkan untuk bisa membuat lagu sedih, tapi ada juga yang tidak. Ada yang harus mengalami patah hati yang menyakitkan baru bisa membuat lagu-lagu romantis dan menyentuh hati, tapi ada juga yang hanya perlu mengamati kisah cinta orang lain. Ada yang mendapatkan inspirasi di tempat-tempat tak terduga seperti toilet atau dapur misalnya, ada juga yang harus berada di tempat yang nyaman / comfort zone miliknya.

Karena itulah, kelas composing tidak mewajibkan murid-muridnya hanya duduk diam di kelas dan memikirkan lagu apa yang akan mereka buat. Kami dibebaskan berada di mana saja, tapi 15 menit sebelum kelas berakhir, kami harus berkumpul kembali di kelas dan melaporkan apa yang kami dapat. Apakah itu judul lagu, nada awal / nada kunci, lirik, atau hanya gambaran kasar tentang lagu apa yang akan kami ciptakan. Intinya, kami harus menemukan inspirasi!

Minimal harus ada 1 lagu yang kami ciptakan dalam satu semester ini yang di approve / disetujui oleh YG sajangnim. Tentu saja tidak semua lagu yang kami buat akan selesai dengan sempurna. Kami bisa saja mengajukan 100 lagu kepada guru kami, Teddy seonsangnim, tapi ternyata ditolak semua oleh YG sajangnim di akhir semester, lalu apa gunanya?! Kami tidak akan naik level.

Karena itu, Teddy seonsangnim menyarankan agar kami membuat lagu dengan sungguh-sungguh. Dan lagi, bila lagu kami bagus, bisa saja kami debut sebagai composer bahkan sebelum kami lulus dari sekolah ini.

Kebanyakan murid pergi keluar dari ruang musik, tapi aku memilih diam di ruang musik lantai 3 ini dan mencoba menyelesaikan laguku. Lagu “Babo” yang kuciptakan sebenarnya belum selesai dengan sempurna. Entahlah, rasanya seperti masih ada yang kurang.

Aku tersentak kaget saat Hanbin duduk di sampingku. Dia menekan tuts piano, memainkan laguku. Tapi agak berbeda. Ada sesuatu yang berbeda.

“Bukankah seperti ini terdengar lebih indah?” tanya Hanbin. Aku hanya bisa menatapnya, tidak tahu harus berkata apa. Hanbin menyentil keningku dengan jari tengah dan ibu jarinya.

“Aduh!” aku menggosok-gosok keningku. “YAH!”

Hanbin hanya menyeringai, lalu berjalan pergi keluar kelas begitu saja.

Aiisshhh! Dasar tidak sopan!

Eh, tunggu! Kenapa dia bisa tahu laguku? Barusan dia langsung duduk dan memainkan laguku di piano tanpa melihat partitur lagu ku kan? Kenapa bisa?

Jangan-jangan… yang kemarin kudengar di ruang musik lantai 7 bukanlah suara bersin hantu tapi suara bersin Hanbin!

~~~~~ ******* ~~~~~ ****** ~~~~~

 

Ada sesuatu yang berbeda dengan Jinhwan. Dia terlihat seperti….. menghindariku. Ada apa dengannya?

Biasanya dia selalu makan malam bersamaku, tapi kali ini dia bilang kalau dia sedang tidak ingin makan. Kim Jin Hwan? Tidak mau makan? Pasti ada yang tidak beres!

Tapi kemudian…, ketika aku dan kakakku berjalan menuju kantin YG, aku melihat sosok Jinhwan yang sedang mengantri makanan bersama Soohyun!

Tsk! Dasar ya anak itu! Kenapa dia harus merasa malu sih? Tinggal bilang saja kan kalau dia akan makan bersama Soohyun dan tidak ingin aku mengganggu mereka. Apa dia takut kalau aku menggodanya dan Soohyun? Dasar!

Aku terkekeh pelan. Syukurlah kalau mereka sudah jadi akrab seperti sekarang.

“Apakah kau masih terobsesi memiliki mata seperti mata kelinci?” tiba-tiba saja sebuah suara lembut mengalun disampingku.

Aku menoleh dan melihat Nam Tae Hyun tersenyum hangat padaku. Pria berambut dibelah tengah ini jarang tersenyum. Dia hanya tersenyum pada orang-orang yang sudah dikenalnya dengan baik. Kurasa aku beruntung karena dia menganggapku teman baiknya.

“Kau masih mengingatnya, Oppa?” aku tertawa, ingat kata-kata konyolku dulu. Taehyun adalah kakak sepupu Soohyun. Dulu aku dan Soohyun pernah datang ke rumahnya saat ibunya memasak berbagai macam makanan berbahan dasar wortel dan aku berkata kalau aku sangat menyukai wortel dan terobsesi untuk memiliki mata indah seperti mata kelinci.

“Tentu saja. Ingatanku kan tajam.” Tanpa kuduga, Taehyun meletakkan banyak wortel di nampanku.

“Eeeeyyyy… Taehyun~ah, pick up line mu sangat kuno.” Seung Hoon oppa terbahak-bahak.

Taehyun mendelik kesal padanya, lalu memutar kedua bola matanya. “Apa yang kau maksud dengan pick-up line, hyung?”

Kakakku mengacak-acak rambut Taehyun. Wah.., gawat, aku tahu kalau Taehyun oppa sangat mencintai rambutnya yang sangat berharga itu. Dia pasti akan mencincang habis kakakku dalam sekejap!

Tapi tanpa kuduga, Taehyun tidak melakukan apapun. Tidak menendang kaki kakakku. Tidak memukul. Tidak membentak. Sama sekali tidak melakukan apapun selain merapikan rambutnya! Daebak! Apakah karena kakakku adalah teman baiknya? Tapi 2 hari yang lalu aku melihatnya menendang kaki Mino ketika Mino mengacak-acak rambutnya.

Taehyun masih mengambilkan sayur wortel untukku, ditambah dengan beberapa potong daging. Aku berterima kasih padanya, lalu mengikutinya duduk di meja yang masih kosong, agak jauh dari meja tempat duduk Soohyun dan Jinhwan.

“Oh, Yedam~ah!” Seung Hoon Oppa berteriak memanggil Bang Yedam, anak kecil berbakat yang sudah menjadi siswa senior di YG academy.

“Hayi~ya, aku makan bersama Yedam ya. Ada koreografi yang harus kami diskusikan. Kau tidak usah menungguku selesai makan. Taehyun~ah, jaga Hayi!”

Taehyun mengangguk.

Geeezzzzz! Dasar Seung Hoon Oppa! Dia selalu berkata “Jaga Hayi. Jaga Hayi.” Pada setiap orang yang berada di dekatku seolah-olah aku tidak bisa menjaga diriku sendiri! Aku menyuapkan makananku dengan cepat, berusaha meredam kekesalanku.

Taehyun terkekeh pelan. “Seunghoon hyung sangat menyayangimu.” Dia berkata dengan tenang. Suaranya yang lembut dan dalam terdengar seperti suara seorang DJ yang siaran di tengah malam, menyejukkan telinga orang-orang yang mengalami insomnia.

“Aku tahu.” Gumamku pelan.

“Dia sering membicarakanmu dan betapa dia merindukanmu ketika kau tinggal di Paris. Aku tidak pernah melihatnya sebahagia sekarang, saat adik kesayangannya berada di dekatnya lagi, seperti dulu….”

Aku menahan nafasku. Entah kenapa mataku terasa panas.

“Hey…hey…, aku tidak bermaksud membuatmu menangis….” Wajah Taehyun terlihat khawatir.

Aku tertawa. “Aku tidak menangis. Lee Hayi tidak pernah menangis.” Kataku sambil mengusap air di sudut-sudut mataku. Taehyun masih menatapku dengan khawatir.

“Soohyun bilang….dia membuat ikan-ikan Piranha mu mati, Oppa.” Aku mencoba mengalihkan pembicaraan.

Wajah Taehyun berubah kesal. “Aku masih belum memaafkannya!” Gerutu Taehyun sambil menusuk-nusuk daging di piring dengan menggunakan garpu.

Aku terkekeh. “Kenapa kau memelihara piranha?”

Taehyun mengangkat bahu. “Aku suka sesuatu yang unik dan anti main-stream.”

Aku berdecak sambil menggeleng-gelengkan kepalaku. “Adikmu juga memelihara landak, dan kau memelihara piranha. Apalagi yang akan kau pelihara nanti? Ular? Singa? Serigala?”

Taehyun tertawa. “Singa dan serigala cool! Tapi aku tidak akan memelihara ular. Kau takut ular.”

Aku mengangguk-anggukkan kepalaku. “Benar. Aku takut dan benci ular! Tapi… kenapa memangnya? Kan kau ini yang memelihara binatang itu, bukan aku…”

Taehyun tersenyum. Raut wajahnya yang dingin berubah 180 derajat saat dia tersenyum. Dia jadi terlihat polos seperti anak kecil. “Kalau aku memelihara ular, kau tidak akan mau datang ke rumahku lagi.”

“Aaahhh…, benar juga. Apa kabar ibumu, adikmu, dan nenekmu, Oppa?”

“Baik. Mereka bertanya kapan kau akan datang lagi. Ibuku sudah mencoba resep carrot cake yang sangat enak. Kau harus datang dan mencobanya lain kali. Hmmm…, bagaimana kalau minggu depan?”

Aku mengangguk. “Hmmm, tentu. Hari minggu? Bukankah hari minggu kita bebas dari pagi sampai malam?”

“Yup. Aku akan memberitahu ibuku. Dia pasti sangat senang.”

Aku suka keluarga Taehyun Oppa. Mereka sangat hangat dan baik. Mungkin karena ayah dan ibu Taehyun oppa sudah bercerai, sama seperti ayah dan ibuku, aku jadi merasa kami berdua lebih saling memahami.

Sisa makan malam itu kami habiskan sambil mengobrol banyak hal. Rasanya menyenangkan bisa bertemu lagi dengan teman lama yang masih ingat semua detail tentangku. Ingatan Taehyun Oppa benar-benar tajam!

Soohyun tiba-tiba saja datang ke meja kami, menggandeng lenganku dan menyeretku agar berjalan pergi. “Aku pinjam Hayi eonni sebentar! Hehehe…”

“Ada apa Soohyun~nie?” setelah agak jauh dari meja kami, Soohyun akhirnya melepaskan lenganku.

“Hayi eonni, tadi siang Bobby Oppa datang ke kelasmu?”

Aku mengangguk. “Hmmm.”

“Ah, mollaaaaa~~~ Aku tidak yakin lagi apakah dia akan masuk team ku atau tidak.”

Aku mendesah. “Aku juga tidak yakin. Sudahlah. Tidak peduli dia masuk teamku atau team-mu, kita masih bisa bertemu dengannya kan?”

“KYAAAAAA! Benar-benar! Eh, kau sudah lihat belum saat dia main basket? Kau harus melihatnya karena dia terlihat sangat hot!”

“Ugh! Aku membencimu, Soohyun~nie! Kau selalu beruntung! Aku hanya baru bertemu dengannya satu kali.”

“Eeeeyyyy, eonnie, kalau dia tidak menemuimu, kau yang harus menemuinya! Apa gunanya aku mengajarimu stalking? Hahahaha….”

“Ah, benar juga. Aku bertaruh kau pasti sudah tahu dimana kamar asramanya dan jadwal pelajaran yang dia ambil setiap hari!” Aku menyipitkan mataku, menatap Soohyun penuh selidik.

Soohyun terbahak-bahak. “Tentu saja, eonni. Informasi-informasi itu hanyalah informasi-informasi dasar. Tentu saja aku harus tahu! Oh, eonni, kau tahu tidak?” Soohyun mendekatkan wajahnya ke telingaku lalu berbisik. “Bobby Oppa sudah putus dan sekarang dia tidak punya pacar.”

“KYAAAAAAAAAA!” Aku dan Soohyun menjerit heboh sambil berjingkrak-jingkrak seperti anak kecil yang sangat bahagia mendapatkan mainan impian mereka.

Dari kejauhan, murid-murid dan staff YG academy mengamati kami dengan pandangan mencela. Oooops! Sepertinya kami terlalu heboh.

Aku dan Soohyun masih terkekeh pelan. “Ngomong-ngomong, ada apa antara kau dan Jinhwan Oppa?”

“Hah? Tidak ada apa-apa. Ada apa antara kau dan kakak sepupuku?”

“Hah? Tidak ada apa-apa.” Aku meniru cara bicara Soohyun, lalu kami pun tertawa.

“Sudah-sudah. Kasihan Jinhwan Oppa dan Taehyun Oppa sendirian. Sampai ketemu besok pagi, eonni!”

“Sampai besok, Soohyun~nie.” Aku memeluk Soohyun lalu kami berjalan bergandengan tangan sampai aku tiba di tempat dudukku. Soohyun mengedipkan sebelah matanya pada Taehyun, lalu berlari sambil tertawa.

“Apa yang kalian bicarakan?” tanya Taehyun.

“Hmmmm….,hanya masalah cewek.”

Taehyun mengangguk. “Kau terlihat berbeda bila sedang bersama Soohyun. Berbeda yang baik. Kuharap kau bisa mempercayaiku seperti kau mempercayai adik sepupuku yang bawel itu.”

Aku tersenyum. “Tentu saja aku mempercayaimu, Oppa.”

Tak lama kemudian ponselku bergetar. Ada pesan singkat dari Soohyun di kakaotalk.

Eonni, tolong beritahu sepupuku yang galak itu agar jangan lupa mengembalikan komik one piece ku! Dasar Taehyun Oppa pelupa!

Aku mengerutkan keningku. Taehyun? Pelupa? Tapi kalau memang benar dia pelupa, bagaimana dia bisa mengingat setiap detail tentangku, termasuk hal-hal tidak penting seperti nama-nama kelinci peliharaanku yang sudah mati?!

~~~~~ ***** ~~~~~ ****** ~~~~~~

Sabtu pagi….

Kelas olahraga merupakan kelas gabungan. Semua murid YG academy, tidak peduli senior atau junior, tidak peduli level apa, mengikuti kelas olahraga pada hari Sabtu pagi. Kelas olahraga adalah satu-satunya mata pelajaran yang tidak memiliki level.

Hwangsabu meminta kami lari berkeliling ruangan gymnassium indoor sebanyak 10 keliling. Di saat semua murid pria sudah menyelesaikan 10 keliling mereka, aku dan Soohyun masih harus menyelesaikan 3 keliling lagi. Sekilas, aku melihat kakakku dan Mino oppa bersorak sorai seperti cheerleader sambil berteriak-teriak “Go Hayi! Go Hayi!”

Ugh! Memalukan.

Aku terduduk di lantai dengan nafas terengah-engah setelah menyelesaikan putaran terakhirku. Taehyun Oppa memberiku sebotol air mineral yang langsung kuteguk habis.

Tanpa kami duga, bukannya segera membagi team untuk bermain dodgeball, YG sajangnim datang diikuti oleh sekretarisnya. Hwangsabu menjabat tangannya sambil membungkukkan badan. Seketika suasana menjadi tegang.

Hwangsabu menggeser whiteboard dan menyerahkan spidol pada YG. “Bagaimana kalau kalian bermain dodgeball sesuai dengan team kalian dalam Who is Next?” YG terkekeh. Tapi kami semua hanya terdiam. Tegang.

Aku melirik Soohyun. Dia menggigit bibir bawahnya. Dalam hati aku mengutuki YG yang sangat senang dengan kompetisi dan survival show!

YG mulai menulis Black Team vs White team di papan tulis. Sangat mengejutkan karena ternyata tulisannya terlihat rapi. Kupikir tulisannya akan terlihat lebih jelek dari ceker ayam.

YG mulai menuliskan nama-nama :

 

Black Team

  1. Lee Hayi
  2. Song Min Ho
  3. Nam Tae Hyun
  4. Kim Jin Woo
  5. Kim Dong Hyuk
  6. Ko Jun Hoe
  7. Lee Chan Hyuk
  8. …………..
  9. ……………

 

White Team

  1. Lee Soo Hyun
  2. Kang Seung Yoon
  3. Lee Seung Hoon
  4. Bang Yedam
  5. Song Yun Hyeong
  6. Jung Chang Woo
  7. Jung Jin Hyeong
  8. …………..
  9. …………..

 

YG berbalik menatap kami, lalu berkata lambat-lambat tapi tegas. “Kim Han Bin, Kim Jin Hwan, Kim Ji Won, Yang Hong Seok. Tulis nama kalian di sini. Kalian sudah memilih akan masuk team mana bukan?”

Bobby mengacungkan sebelah tangannya. “Sajangnim, bagaimana kalau banyaknya anggota team berat sebelah?”

“Maka kau harus menyeimbangkannya.” Jawabnya simple.

Hanbin, Jinhwan, Bobby, dan Hongseok pun maju ke depan kelas. Hwangsabu memberi mereka masing-masing satu buah spidol.

Aku penasaran siapa diantara Hongseok dan Bobby yang akan masuk team-ku. Kalau Jinhwan sih sudah pasti…. WHAT?

Mataku membelalak lebar dan mulutku menganga, tak percaya dengan apa yang kulihat tepat di depan mataku saat ini. Kim Jin Hwan, teman baikku, yang sudah berjanji akan satu team denganku ternyata mengkhianatiku dengan menuliskan namanya di ‘White team’!

Dan kalian ingin tahu apa yang lebih membuatku syok? Kim Han Bin menuliskan namanya di ‘Black Team’!

Setelah menuliskan namanya, Hanbin menghampiriku sambil menyeringai. “Aku suka suaramu, dan juga lagumu. Sayang sekali sifatmu menyebalkan, Lee Hayi. Kuharap kau bisa memimpin team kita dengan baik.”

Aku tidak tahu siapa diantara Hongseok dan Bobby yang menuliskan namanya di deretan team-ku karena pandangan mataku terfokus pada pria menyebalkan yang memakai snapback Mickey Mouse di sampingku ini. Kenapa dia harus berada di team-ku?! Aku sudah berusaha sabar berada satu kelas dengannya, dan sekarang….? Aaaarrrgggghhhh!

  • TBC –

 

From Azumi : Hello! Gimana ceritanya? Please jangan jadi silent reader! Kasih kita komentar, masukan, kritikan, atau apapun, karena komentar kalian sangat berharga dan bisa memotivasi kita untuk menulis lanjutan cerita ini. Hehehe. Thank you for reading. ^_^.

Advertisements