Tags

,

Collage 2014-11-20 19_25_26_resized

Author : Kunang & Azumi Aozora | Main Cast : Lee Hayi/ Hi, Lee Soohyun (AKMU), Kim Hanbin/ B.I, Kim Jinhwan, Kim Jiwon/Bobby| Support Cast: YG Sajangnim, The rest of iKON members + WINNER members + Chanhyuk, Hongseok, Jinhyeong, Bang Yedam | Length : Chaptered| Genre :Family, romance, drama, friendship, business entertainment, musical, school life| Rating  : PG-15

Disclaimer       : Hi Suhyun, iKON, and Winner members, milik mereka sendiri.. Cerita ini murni milik dari carefree- happy- chicken maniacKunang and cool-stubborn-lovely Azumi Aozoraplagiat jauh-jauh sana sebelum dilempar kedunia lain sama Hanbin.

Summary        : Lee Soohyun dan Lee Hayi adalah kedua sahabat yang sama-sama pernah menyukai Bobby, setelah dipisahkan oleh jarak, mereka seolah dipertemukan takdir dan menjadi rival dari sebuah program yang YG academy adakan ‘Who is Next’. Apakah persahabatan mereka akan bertahan? Dan bagaimana apakah keduanya masih tetap akan menyukai Bobby walaupun ada namja lain yang menaruh perhatian pada mereka?

4th Chapter by Azumi

=====|Hayi PoV|=====

Kim Han Bin benar-benar tahu bagaimana caranya membuatku menderita darah tinggi dan serangan jantung dini! Selalu saja ada tingkahnya yang membuatku tak habis pikir, kenapa di dunia ini ada orang “ajaib” seperti dirinya?! Ajaib dalam arti kata negatif!

Aku sudah tahu bahwa hari-hariku akan terasa seperti di “neraka” karena Hanbin satu team denganku. Setiap kali aku membuka mata di pagi hari, aku tahu kesialan sudah menantiku. Rasanya mimpi buruk jauh lebih baik dibanding kehidupan nyata di mana ada Kim Han Bin di dalamnya!

Ponselku bergetar. Aku mengabaikannya. Siapa juga sih yang menelepon di pagi buta seperti ini?! Aku membalikkan badanku dan menutup telingaku diantara tumpukkan bantal. Ponselku terus saja bergetar. Ugh! Seharusnya aku mematikan saja ponselku sejak semalam!

Ponselku terus bergetar. AAAARRRGGGHHH!

Aku duduk, mengacak-acak rambutku, lalu segera mengangkat panggilan di ponselku tanpa melihat caller-id nya terlebih dulu. “Hallo…” aku berkata dengan lemas, mataku setengah terpejam.

“Aku sudah di depan kamar mu.” Ujar suara yang sebenarnya tidak asing, tapi saat ini terasa asing karena nyawaku masih ada di alam mimpi.

“YAH! Lee Ha Yi! Kubilang aku sudah berada di depan kamarmu! Cepat keluar!” orang itu membentakku dengan galak.

Aku terkejut dan langsung membuka mataku. “Siapa kau? Mengganggu tidurku saja!” Aku balas membentaknya.

Orang itu menghela nafas panjang. “Kim Han Bin.”

“Oh,,, Kim Han Bin. Oke, Bye!” Aku langsung menutup ponselku dan kembali berbaring terlentang di atas tempat tidur empuk ber-seprai mickey mouse.

Rasanya baru satu menit aku memejamkan mataku, sudah terdengar suara berisik di pintu kamarku. Hanbin menggedor pintu kamarku dengan keras. “YAH! LEE HAYI! CEPAT BANGUN! KAU LUPA APA JANJIMU KEMARIN? YAH! LEE HAYI!” Hanbin berteriak sekuat tenaga, tapi aku hanya terkekeh sambil tetap memejamkan mataku. Biarkan saja dia berteriak sampai suaranya serak! Aku yakin tak lama lagi Bang Yedam (yang kamar asrama nya terletak tepat di sebrang kamarku) akan keluar dan mengamuk pada Hanbin. Jangan menyepelekan Bang Yedam! Anak kecil itu bisa berubah jadi sangat mengerikan ketika ia marah!

“LEE HAYI! KAU HARUS CEPAT BANGUN DAN OLAHRAGA PAGI! BAGAIMANA KAU BISA DANCE DENGAN BAIK BILA STAMINA MU SANGAT PAYAH! CEPAT BANGUN! KAU SUDAH JANJI PADAKU KEMARIN! YAH! LEE HAYI!”

Aku memakai earphone di kedua telingaku. Mendengarkan lagu-lagu G-Dragon, sehingga teriakan Hanbin hanya terdengar sayup-sayup. Bagus! Sekarang aku bisa tidur lagi dengan nyenyak selama 2 jam ke depan!

~~~~~ **** ~~~~~

Ketika aku masuk kelas, wajah pertama yang kulihat adalah wajah Hanbin. Aku sudah siap mendengar omelannya, tapi aku terkejut karena dia hanya menatapku sekilas dengan tatapan dingin nya yang biasa, lalu kembali menulis sesuatu di bukunya. Aku mengangkat bahu, lalu berjalan melewatinya dan duduk di bangku belakang, agak jauh dari Jin Hwan Oppa. Aku masih agak kesal padanya, sehingga aku tidak mau duduk di sampingnya.

Jinhwan tersenyum kikuk padaku, mungkin merasa bersalah karena dia mengkhianatiku dengan masuk ke white team! Sampai sekarang aku belum tahu apa alasan dia memilih white team, tapi kurasa aku bisa menebaknya. Lee Soo Hyun! Siapa lagi?! Hhhhh, aku senang dan sedih sebenarnya. Senang karena kedua sahabatku bisa menjadi akrab, tapi sedih karena aku tahu aku akan menjadi lawan mereka di kompetisi konyol yang diadakan oleh YG ini! Dan ditambah lagi dengan teman satu team-ku yang super menyebalkan, Kim Han Bin! Bagus sekali! Kurasa hari-hariku akan dipenuhi dengan penderitaan.

Aku mengamati sosok belakang Hanbin dari tempat dudukku. Punggungnya sedikit membungkuk. Tangannya masih menulis sesuatu di bukunya. Entah apa yang dia tulis. Lagu, mungkin? Kepalanya sedikit mengangguk-angguk, mengikuti irama yang ia pikirkan di dalam kepalanya.

Oke, harus kuakui (dengan berat hati) bahwa Kim Han Bin memang sangat berbakat! Meski aku tidak suka mengakuinya, tapi aku harus mengakuinya. Dia jenius!

Kemarin adalah hari pertama kami berlatih untuk evaluation day. Meskipun aku adalah leader black team, rasanya bukan aku yang menjadi leader, tapi Hanbin. Aku tidak protes, karena jujur saja aku tidak tahu bagaimana caranya memimpin orang lain, terlebih lagi orang-orang itu adalah seniorku, yang sudah jauh memiliki lebih banyak pengalaman dariku.

Tapi tetap saja, aku tidak suka sikap Hanbin yang bossy dan seenaknya, seolah ia menganggap bahwa dirinya adalah orang terhebat di seluruh jagad raya ini! Aku benci orang yang sombong! Oh, ditambah lagi dengan keras kepala! Hanbin tidak suka orang lain menentangnya, dan bila ia sudah memutuskan sesuatu, maka semua orang harus mengikuti keputusan dan keinginannya.

Seperti keputusan sepihaknya kemarin, saat ia menyuruhku untuk rutin melakukan olahraga setiap pagi. Dia bilang staminaku benar-benar payah, dan aku tidak bisa mengikuti ritme dance nya. Helloooo, apakah dia lupa kalau aku perempuan sedangkan ia laki-laki?! Tentu saja stamina kami akan berbeda dan aku tidak mungkin bisa menyamai ritme nya!

Kemarin aku mengangguk-angguk saja, seolah menyetujui ide-nya. Padahal sebenarnya aku mengangguk agar dia berhenti mengomel. Sungguh, awalnya kupikir dia tidak cerewet. Siapa yang mengira dia sanggup berbicara (mengomel lebih tepatnya) non-stop selama 2 jam?!

Aku menyilangkan kedua lenganku di depan dada, sambil masih mengamati punggung Hanbin dengan tajam. Aneh. Kenapa dia tidak mengomel padaku sekarang? Mataku menyipit, curiga. Jangan-jangan….dia sedang merencanakan sesuatu yang mengerikan? Aku harus lebih berhati-hati!

~~~~~~~ ******** ~~~~~~~~

Sepertinya aku benar-benar sial. Setelah pelajaran Matematika berakhir, selanjutnya adalah pelajaran koreografi! Seharusnya aku tahu apa yang ada di dalam otak Hanbin! Inilah yang ia lakukan sekarang. Balas dendam padaku di kelas koreografi!

Aku masih berada di level 1 kelas koreografi, sementara Hanbin sudah berada di level 3. Entah dewa kesialan sedang mengikutiku atau apa, tiba-tiba saja guru koreografi kami tidak bisa datang dan ia meminta Hanbin menggantikannya mengajar di kelasku.

Pasti inilah alasan mengapa tadi pagi Hanbin tidak mengomel padaku! Dia akan membunuhku sekarang!

“Yah! Lee Hayi! Ulangi sekali lagi! Gerakanmu kaku sekali seperti robot!” sentak Hanbin.

Aku berdecak kesal, lalu mengulangi gerakan yang ia ajarkan barusan sekali lagi. Soo Hyun menatapku dari jauh dengan penuh simpatik. Sementara Yedam menggeleng-gelengkan kepalanya padaku.

“Sekali lagi.”

“Sekali lagi.”

“Yah! Lakukan dengan benar!”

Gggggrrrrr! Rasanya aku ingin mencakar wajah Hanbin saat ini juga! Aku kembali melakukan gerakan yang sama berulang kali sampai rasanya kakiku mau patah.

“Oke. Lumayan.” Hanbin menganggukkan kepalanya satu kali, kemudian berjalan pergi menjauhiku. Aku bersumpah barusan aku melihatnya menyeringai! Dasar devil menyebalkan!

Aku terduduk lemas di lantai studio yang keras dan dingin. Soohyun cepat-cepat menghampiriku dan memberiku handuk kecil. “Eonni, kau harus kuat. Semangat!”

“Lee Soohyun! Apa yang kau lakukan di sana?” Bentak Hanbin.

“Neeee….seonsangnim.” Soohyun berkata dengan sangat sopan, tapi kedua bola matanya berputar, seolah mengejek Hanbin. Aku terkekeh pelan melihat tingkah sahabatku itu, membuat Hanbin melotot tajam padaku.

“Lee Hayi! Kalau kau tidak cepat bangun, kau akan sangat jauh tertinggal dari yang lain!” Bentak Hanbin.

“Neee…seonsangnim.” Aku berkata super sopan, seperti cara Soohyun berkata barusan. Soohyun terkikik, merangkul pundakku dengan mudah (dia jauh lebih tinggi dariku) lalu kami berjalan berdampingan. Soohyun berbisik, “Kuharap Kwon twins seonsangnim cepat pulang dari China, kalau tidak…minggu depan kita akan habis oleh Hanbin. Tsk!”

Aku balas berbisik. “YAH! Sebelum dia menghabisimu, aku sudah menjadi abu! Kau lupa kalau dia satu team denganku?!” Aku mendelik tajam pada Soohyun. Coba saja seandainya Hanbin satu team dengan Soohyun! Aku kan jadi tidak perlu menderita seperti ini. Soohyun menepuk-nepuk punggungku pelan, mengangguk-anggukkan kepalanya. “Terima kasih karena kau sudah membuat Hanbin masuk ke team-mu, Hayi eonni!”

“YAH! LEE SOO HYUN!” Sebelum aku sempat mencubit lengannya, ia sudah keburu lari dan bersembunyi di balik punggung Hanbin. Hanbin menatap kami berdua bergantian dengan garang sambil melipat kedua lengannya.

Bang Yedam mendekatiku lalu menatapku dengan kesal. “Nuna, lain kali kalau kau tidak bisa menepati janjimu, jangan pernah membuat janji! Hanbin hyung mengganggu tidurku pagi ini, tapi itu semua salahmu kan?!”

Aku hanya bisa menganga. Ya Tuhan…., bahkan Yedam pun mengomel padaku!

~~~~~~ ********** ~~~~~~

Rasanya tubuhku berubah menjadi agar-agar. Aku tidak ingin berjalan! Aku hanya ingin berbaring di atas kasur ku yang empuk! Tapi perutku berbunyi nyaring, memintaku agar segera memenuhi hak-nya, makanan! Aku tidak boleh melewatkan makan siang! Terlebih lagi setelah ini pelajaran sejarah. Aku harus makan sekarang, atau kalau tidak otakku tidak akan berfungsi di saat guruku menjelaskan tentang peristiwa-peristiwa sejarah Korea dan dunia.

Setelah kelas koreografi berakhir, aku mengganti pakaianku yang basah, lalu berjalan terseok-seok menuju kantin sambil sesekali berhenti dan memijit-mijit kakiku yang terasa sangat pegal.

“Hayi~ya!”

“Oh, Taehyun Oppa!”

Nam Tae Hyun berlari menghampiriku. Dahinya berkerut dalam-dalam, membuat alis matanya yang unik terlihat lucu. Aku terkekeh pelan. Tae Hyun menatapku dengan bingung.

“Alis matamu terlihat lucu sekali, Oppa!”

“Maksudmu seperti ini? Atau seperti ini?” Taehyun menggerak-gerakkan kedua alis matanya, membentuk liukkan-liukkan lucu, membuatku tertawa terpingkal-pingkal.

Taehyun ikut tertawa, lalu mengulurkan lengannya padaku. “Kalau kau jatuh, aku akan menahanmu.”

Aku berhenti tertawa. Taehyun meraih lengan kiri-ku dan melingkarkannya di sekitar pundaknya. Tangan kanan Taehyun melingkari pinggangku dari belakang. Dia kemudian membantuku berjalan. “Kau ingin makan di taman? Kau bisa duduk berselonjor di atas rumput. Melipat kaki di saat kakimu terasa kram bukanlah ide yang baik. Aku akan membawakan makan siangmu.”

Aku hanya mengangguk. “Oke. Thanks, Taehyun Oppa.”

Taehyun menjawabku dengan seulas senyum. Wajah dinginnya berubah saat ia tersenyum menampakkan gummy smile-nya. Ia benar-benar terlihat seperti kucing yang menggemaskan!

~~~~~~ ****** ~~~~~~~

Setelah pelajaran sejarah berakhir, Hanbin mendekati kursiku lalu meletakan kantung plastik hitam di atas mejaku.

Aku mengangkat wajahku, menatap wajah Hanbin yang terlihat dingin dan tanpa ekspresi. “Sebelum pergi berlatih, oleskan obat ini di kakimu. Hari ini aku akan membebaskanmu dari latihan dance. Sebaiknya kita fokus pada lagu saja untuk sore ini.”

Aku mendengus, menyambar kantung plastik itu lalu berdiri. Tapi ketika aku melangkahkan kakiku, otot-ototku terasa sangat sakit. Aku meringis, memejamkan mataku.

“Kau baik-baik saja?” Hanbin memegang kedua lenganku. Aku membuka mataku dan terkejut menatap matanya yang berjarak beberapa cm dari mataku, dan anehnya sorot matanya terlihat seolah ia memang mengkhawatirkanku. Aku menggelengkan kepalaku. Pasti tadi hanyalah ilusi!

Benar saja! Sekarang, saat aku menatap kedua bola mata cokelat bening Hanbin dengan lebih teliti, ekspresi matanya tetap dingin, seperti biasa, sama sekali tidak ada sorot khawatir seperti yang kubayangkan beberapa detik lalu.

Aku menyentakkan tangan Hanbin dari pundak-ku, lalu berjalan perlahan menuju pintu kelas. “Hayi~ya!” Panggil Hanbin, tapi aku sama sekali tidak memedulikannya, aku terus berjalan. “Hayi~ya! Kau harus segera sembuh! Sebaik dan sehebat apapun sebuah istana, tidak akan ada gunanya bila sang ratu sakit dan tidak bisa memimpin istana!”

Aku mendengus. Ratu apanya?! Ratu boneka yang digerakkan oleh sang pengawal sadis?! Tidak penting ada ratu atau tidak, karena sang pengawal selalu menjadi raja, bahkan ketika sang ratu sedang sehat, apalagi sekarang di saat ratu itu kesakitan!

~~~~~ ****** ~~~~~

Pukul 6 sore, setelah mandi dan berganti pakaian, siap untuk berlatih bersama team-ku, aku hampir terkena serangan jantung karena di saat aku membuka pintu kamarku, Hanbin sudah berdiri tepat di depan pintu kamarku. Diam seperti patung. Terlebih lagi dia memakai hoodie hitam!

“Astaga! Kupikir kau hantu!” Aku masih memegang dadaku yang berdebar kencang.

Hanbin menyeringai. “Sepertinya kau sangat takut pada hantu.”

Aku berdecak, mengabaikannya. Aku sudah belajar untuk lebih “bersabar” menghadapi Hanbin. Berdebat dengannya sama sekali tidak ada gunanya! Bisa-bisa kami berdebat sampai kiamat! Dia tidak pernah kehabisan kata-kata, dan selalu membalas perkataan pedasku dengan lebih sengit. Sejujurnya aku bukanlah orang yang senang mengalah, tapi bila menghadapi Kim Hanbin….sepertinya akulah yang harus mengalah. Aku tidak ingin menyia-nyiakan waktuku yang berharga hanya demi meladeni orang bernama Kim Han Bin!

Aku berjalan perlahan. Hanbin mengikutiku perlahan, mengikuti iramaku. Aku bisa merasakan kehadirannya di belakangku, menatap punggungku dengan tajam. Aku berhenti dan membalikkan badanku. “Yah! Jangan berjalan di belakangku tanpa mengatakan apapun! Rasanya seperti ada stalker yang mengikutiku!”

Hanbin tidak mengatakan apapun, dia mempercepat langkahnya dan kini berjalan di sampingku. Kami terus berjalan beriringan tanpa mengatakan apapun.

Aku menatap langit. Mendung. Awan-awan hitam berarak di langit, menutupi bintang. Kilasan cahaya petir sesekali terlihat membelah angkasa yang hitam. Suara petir yang menggelegar membuatku sedikit terlonjak. Beberapa lampu di lorong sudah rusak dan belum diganti dengan yang baru, membuat suasana yang sudah mencekam jadi semakin mencekam. Aku bergidik ngeri. Aku bukan takut pada hantu, tapi….manusia jahat. Aku pernah memiliki kenangan buruk dengan manusia jahat yang senang menguntit dan membuatku ketakutan karena tingkah-tingkah anehnya! Stalker! Dan bukankah di film-film thriller, stalker sebenarnya adalah psikopat yang sedang memata-mataimu?

Hanbin masih berjalan dengan perlahan. Aku tahu dia bisa berjalan dengan cepat, tapi kenapa dia memilih untuk berjalan lambat? Dan kenapa pula dia harus menungguku di depan pintu kamarku? Apakah dia curiga aku akan bolos latihan? Aku memutar kedua bola mataku. Yah, terserahlah apapun alasannya! Aku memang tidak mungkin mengakuinya, tapi…. sejujurnya aku merasa sedikit lebih tenang berjalan bersama dengannya di suasana mengerikan seperti saat ini.

~~~~~ ***** ~~~~~

“Hayi~ya….” Taehyun Oppa langsung berlari menghampiriku begitu aku tiba di studio. “Gwenchana?”

Aku tersenyum dan mengangguk pada Taehyun oppa. Hanbin berjalan menuju sudut ruangan, menyalakan komputer. Mino oppa berjalan menghampiriku sambil mengerutkan keningnya. “Sebaiknya hari ini kita tidak usah berlatih dance.” Ujar Mino oppa dengan suara berat nya. Nada bicaranya sedikit mengingatkanku pada kakakku bila kakakku sedang bersikap terlalu over protected. Ah, mereka memang sahabat sejati!

Aku melirik Taehyun, berharap dia tidak memberitahu apapun pada Mino tentang mengapa kakiku terasa sakit. Karena bila Mino tahu, maka kakakku akan tahu. Sebenci apapun aku pada Hanbin, aku tidak ingin membuat kakakku yang baik hati berubah menjadi monster pemarah. Kalian tidak akan bisa membayangkan betapa mengerikannya kakakku bila sedang marah! Aku adalah salah satu kelemahannya, dan aku benci menjadi demikian. Kurasa ini salahku juga, karena dulu….aku sempat membuatnya mengira bahwa aku diculik oleh penguntit yang biasa menguntitku. Dia bahkan mengira penguntit itu telah membunuhku, karena ponselku tidak aktif selama 24 jam! Padahal yang sebenarnya saat itu aku sedang menginap di rumah Soohyun, dan aku lupa meninggalkan ponselku yang kehabisan baterai di dalam laci kamarku. Yah, itu hanya kesalahpamahan. Tapi kejadian itu merubah banyak hal, termasuk ketakutanku akan penguntit dan suasana gelap. Mulanya aku tidak begitu peduli di saat ada orang-orang yang membututiku, tapi karena kejadian itu, karena saat itu kakakku menangis meraung-raung seperti orang gila dan mulai mengatakan ketakutan-ketakutannya padaku, aku jadi sangat takut bila ada orang yang mengikutiku diam-diam di tempat gelap. Aku tidak menyalahkan kakakku, sungguh! Tapi apa yang dia katakan dan dia khawatirkan memang benar. Pernah ada suatu kejadian yang tidak mungkin bisa kulupakan seumur hidupku…..

“Hayi~ya? Hayi~ya?” suara lembut Taehyun oppa membuyarkan lamunanku akan masa lalu.

Aku mengerjap-ngerjapkan mataku. Taehyun oppa memegang pundakku, terlihat cemas.

Mino oppa meletakkan tangannya di keningku. “Apakah kau sakit? Aku akan memberitahu Seung…”

“Jangan!” tukasku dengan cepat. “Aku baik-baik saja.”

Mino oppa menatapku tak yakin. Aku balas menatapnya dengan tegas. “Aku baik-baik saja. Sekarang, bisakah kita berlatih?”

Mino menghembuskan nafas panjang. “Hhhhh, oke.”

Aku berjalan mendekati Hanbin, Junhoe, dan Donghyuk.

“Nuna, kau oke?” tanya Junhoe.

Aku memukul lengannya dengan keras. Junhoe mengaduh kesakitan. “Aku bisa memukulmu seperti ini, itu tandanya aku oke, sassy Junhwe!”

Donghyuk nyengir lebar padaku sambil mengacungkan kedua ibu jari tangannya, seolah mendukungku dalam membully Junhoe. Hanya aku (dan Hanbin) yang bisa membully nya.

Beberapa saat kemudian Jinwoo oppa, Hongseok oppa, dan Chanhyuk datang. Latihan kami pun dimulai. Kami menyiapkan beberapa buah lagu. Saat evaluation test nanti, akan ada 2 sesi yaitu representative mission test dan complete mission test. Untuk test yang pertama, hanya perwakilan dari masing-masing team yang tampil. Dan untuk test kedua, semua anggota team harus tampil.

Untuk test pertama, aku-Hanbin-Hongseok-Donghyuk akan menyanyikan salah satu OST Frozen yang terkenal yaitu “Let It Go”. Sedangkan untuk test ke-2, kami semua akan tampil membawakan sebuah drama musical, dimana aku dan Taehyun oppa menjadi pemeran utamanya.

Hanbin, Taehyun oppa, dan Mino oppa menjadi composer, penulis lirik + rap, koreografer, dan produser lagu-lagu kami. Hanbin mengaransemen “Let it Go” dan menulis lirik rap nya. Taehyun oppa, Mino oppa, dan Chanhyuk berkolaborasi membuat lagu-lagu baru untuk drama musical kami nanti. Jinwoo oppa, Junhoe, dan Donghyuk mengarang plot drama, disesuaikan dengan lagu yang dibuat oleh Taehyun oppa, Mino oppa, dan Chanhyuk. Hongseok bertanggung jawab atas kostum dan make-up kami. Sementara aku….entahlah. Aku merasa tidak berguna. Maksudku, aku seorang leader. Seharusnya aku bisa mengatur, mengorganisasikan team ku dengan baik. Tapi selama ini Hanbin lah yang mengatur segalanya. Kurasa…dia melakukan hal itu bukan hanya karena ia sok tahu, tapi ia memang tahu aku tidak cukup handal untuk menjadi seorang leader.

Aku duduk berselonjor di lantai studio, agak menyudut dan menjauh dari yang lain, sambil menatap partitur lagu di tanganku dengan tatapan kosong. Aku tidak menyadari saat ada sepasang kaki mendekatiku. Melihat sepatunya, aku tahu siapa yang kini berdiri di sampingku.

“Hey Hayi, mungkin sebaiknya kita menghilangkan adegan kau menari dan menggantinya dengan adegan kau bermain piano. Sepertinya…. memasukkan lagu-mu ke dalam drama musical kita adalah ide yang bagus.”

Aku hanya bisa menegadahkan wajahku dan menatap Kim Han Bin dengan bingung. Aku tidak tahu harus berkata apa. Tapi yang kutahu, saat itu aku merasa sangat senang.

~~~~ ******* ~~~~~ ******** ~~~~~

H-5 menuju Evaluation Test Day……

“Wooaaaahhhh, nuna! Suaramu dan suara Taehyun hyung menyatu dengan sangat baik!” Junhoe menepuk-nepuk punggungku dengan pelan. Aku menonjok lengannya. “Tapi suaramu dan suaraku masih belum menyatu dengan baik!” sentakku.

Junhoe mengerang. “Itu karena dalam drama ini aku berperan sebagai musuhmu, tentu saja….”

“Berusahalah lebih keras lagi, Go Jun Hoe!” Tiba-tiba Hanbin ikut berbicara. Suara tegas dan dinginnya langsung membuat Junhoe terdiam. Donghyuk hanya tertawa melihat adu mulut kami. Dia selalu merasa senang kapanpun Junhoe “tertindas”, karena itu berarti dia terbebas dari tindasan Junhoe!

Drama musical kami, yang akan berlangsung selama kurang lebih 30 menit, bercerita tentang seorang putri (aku) yang belum bisa melupakan pangerannya (Taehyun) yang telah mati. Setiap hari sang putri menyanyikan lagu-lagu sedih dan menyayat hati, meratapi kepergian sang pangeran. Lalu suatu hari datang seorang assassin (Junhoe) yang berniat jahat pada sang putri. Assassin ini sebenarnya dulu adalah seorang pangeran, tapi ia berubah menjadi assassin untuk membalaskan dendamnya pada ayah pangeran (ayah Taehyun, yaitu Mino), tapi alih-alih membunuh Mino, Junhoe malah membunuh Taehyun, dan saat ini berusaha untuk membunuhku juga. Mino sudah menganggapku sebagai anak kandungnya sendiri, dan misi Junhoe adalah membuat Mino menderita. Ia menganggap kematian Mino terlalu indah bagi Mino. Ia ingin membuat Mino hidup dengan sangat menderita. Mino memang dulunya adalah raja yang kejam, tapi dia telah berubah. Sayang sekali Junhoe tidak percaya bahwa bukan gara-gara Minolah ayahnya dulu terbunuh di medan perang.

Suatu hari aku bertemu dengan seorang angel (Hongseok) yang memberiku kekuatan untuk bisa bertemu dan berbicara dengan orang-orang yang sudah mati, termasuk Taehyun dan ayah Junhoe (Hanbin). Aku menyanyikan banyak lagu bersama Taehyun, yang sudah mati, mengingat masa-masa kami bersama saat ia hidup. Aku juga berbicara (menyanyi) bersama Hanbin, di saat aku memastikan penyebab ia mati.

Jinwoo berperan sebagai kelinci raksasa istana. Chanhyuk sebagai panda istana. Dan Donghyuk sebagai kuda poni istana. Mereka adalah teman-teman baikku dan selalu menemaniku bernyayi lagu-lagu ceria, untuk melupakan kesedihanku. Yah, pada intinya, drama musical kami sedikit berhubungan dengan lagu “Let It Go”. Drama musical ini seperti flashback dari inti lagu let it go. Bagaimana orang-orang masih “terperangkap” di dalam masa lalu mereka dan belum bisa move on, belum bisa memaafkan, belum bisa merelakan.

Hongseok sudah menyiapkan kostum untuk kami semua. Sungguh, kurasa dia benar-benar berbakat sebagai costum designer, stage planner, dan sutradara! Taehyun oppa bernyayi dengan amat sangat baik, membuatku ingin berusaha lebih keras lagi untuk mengimbangi kemampuannya. Chanhyuk bermain gitar dengan amat lincah dan kapapnpun aku bernyanyi dengannya dan juga Donghyuk + Jinwoo oppa….perasaanku menjadi ringan. Hanbin dan Mino sangat cocok berperan menjadi raja, dan rap-battle mereka amat sangat luar biasa! Membuatku merinding! Mereka memiliki warna suara yang jauh berbeda, tapi mereka sama-sama berbakat dengan ciri khas masing-masing. Junhoe sepertinya menghayati perannya dengan baik, mungkin dia memang benar-benar membenciku karena aku sering menindasnya! Hahaha.

Aku benar-benar sudah tidak sabar menantikan hari H segera tiba!

~~~~~ ***** ~~~~

H-4 menuju Evaluation Test Day……

Aku merasa permainan piano ku masih kurang oke, karena itulah selepas latihan usai, aku tetap tinggal di dalam studio. Aku tahu sekarang sudah pukul 11.30 malam, dan aku sendirian di dalam studio. Aku tidak takut berada sendirian di sini, karena lampu-lampu di dalam studio bersinar terang benderang. Yang kutakutkan adalah….saat nanti aku harus berjalan keluar dari sini dan menuju asramaku!

Yah, aku hanya punya 2 pilihan nanti. Tetap tinggal di dalam studio sampai besok pagi, atau meminta Seunghoon oppa menjemputku kemari. Aku tidak mungkin mau berjalan sendirian di luar sana!

Aku menekan tuts-tuts piano dengan agak frustrasi. Entahlah. Rasanya ada yang kurang pas dengan permainan piano tunggalku, dalam adegan di saat aku menyanyi seorang diri meratapi kepergian pangeran.

Aku mencoba memainkan piano lagi sambil bernyanyi, tapi baru setengah jalan, aku berhenti karena tiba-tiba mendengar suara kunci diputar. Ada yang membuka kunci pintu studio dari luar!

Seketika, jantungku berdegup kencang. Siapa?

Tenang…Lee Hayi…tenanglah! Tidak mungkin ada orang jahat yang bisa membuka….tunggu! Bukankah penjahat (pencuri) bisa membuka kunci menggunakan kawat?! Bagaimana kalau ada pencuri (terlebih lagi pembunuh) yang sekarang sedang berusaha mencuri barang-barang di studio ini?! Hey! Studio ini punya banyak barang mahal. Gitar listrik nya saja berharga lebih mahal dari sebuah mobil biasa.

Cepat-cepat aku berdiri lalu berlari ke balik bilik kecil tempat berganti pakaian. Aku memejamkan mataku sambil mengatur nafas. Siapapun orang yang telah membuka kunci pintu, pastilah sekarang telah masuk ke dalam. Aku bisa mendengar suara langkah kakinya semakin mendekat!

Aku menutup mulutku dengan kedua tangan. Takut kalau-kalau aku kelepasan menjerit karena ketakutan. Aku tidak ingin orang itu mengetahui keberadaanku!

Drap…drap…drap…

Suara langkah kaki itu semakin mendekat. Tubuhku menggigil. Berbagai pikiran buruk mulai memenuhi kepalaku. Adegan-adegan sadis mulai berkelebat di dalam benakku. Bagaimana kalau orang itu membawa pisau atau pistol? Dia pasti membawanya!

SREEEKKK….

“AAARRRRGGGGHHHHH!” Aku menjerit keras ketika orang itu membuka tirai bilik.

“Hayi?”

“AAARRRRGGGHHHH!” Aku masih memejamkan mataku sambil berteriak.

Orang itu mengguncang-guncang bahuku. “Hayi! Ini Hanbin! Yah! Hayi!”

Hanbin? Perlahan aku mulai membuka mataku. Hanbin menatapku dengan cemas. Air mataku mulai mengalir.

“YAH! SEHARUSNYA KAU BERBICARA! KAU MEMBUATKU KETAKUTAN!” Aku berteriak sambil mengusap air mataku. Aku merasa sangat konyol. Aku benci Kim Han Bin! Seharusnya dia datang sambil mengomel, atau setidaknya memanggil namaku! Aku memang benci saat dia mengomel padaku, tapi aku lebih benci lagi saat dia datang tiba-tiba dalam diam. Aku jadi berpikir yang seram-seram!

Kurasa aku sudah agak tenang. Tapi lututku masih terasa lemas. Aku terduduk ambruk di lantai, menyenderkan punggungku di tembok. Aku menekuk dan memeluk kakiku, membenamkan wajahku diantara lututku.

“Hayi~ya…, maafkan aku. Aku tidak tahu kalau….”

Aku langsung mengangkat wajahku dan menatap Hanbin dengan tajam. Aku tahu saat ini pasti mataku terlihat merah dan sembab, tapi aku tidak peduli!

“Aku benci gelap! Aku juga benci bila ada orang yang mengikutiku diam-diam! Jangan pernah datang secara diam-diam tanpa mengatakan apapun, Kim Han Bin!”

Hanbin mengangguk tanpa mengatakan apapun. Dia menatapku dengan cemas. Tidak, kali ini aku tidak berkhayal. Dia memang menatapku dengan sorot mata cemas! Cih! Mungkin dia merasa kasihan padaku! Mungkin dia mengira aku sakit jiwa!

Aku membenamkan wajahku lagi diantara kedua lututku. “Kenapa kau tiba-tiba datang lagi kemari?” tanyaku.

“Aku membawakanmu makanan.”

Oke, jawaban Hanbin sama sekali tidak pernah kutebak sebelumnya. Kim Hanbin membawakanku makanan? Bahkan pertanyaan barusan saja terdengar sangat aneh dan tidak masuk akal! Sejak kapan Kim Hanbin bersikap baik padaku?

“Hayi~ya…, apakah…kau ingin tetap berada di sini? Atau…kembali ke kamarmu? Aku akan mengantarmu.”

Oke, perkataan Hanbin barusan jauh lebih aneh lagi! Aku menatap Hanbin dengan bingung. Selama beberapa saat kami hanya saling menatap dalam diam. Aku tidak tahu apa yang dia pikirkan. Dan sepertinya dia juga tidak bisa menebak apa yang sedang kupikirkan.

“Aku akan terus di sini sampai aku merasa puas dengan laguku.” Jawabku pelan.

Hanbin mengangguk. “Oke. Apakah kau ingin aku pergi?” tanyanya lagi. Entahlah, tapi nada suara Hanbin seolah bukan berkata ‘Apakah aku harus pergi’ tapi ‘Aku akan menemanimu di sini’.

Aku tidak ingin berada di sini sendirian lagi. “Aku ingin kau tetap di sini.”

Hanbin tersenyum lebar. Selama beberapa saat, aku hanya bisa menatapnya dengan bingung. Ini pertama kalinya aku melihat Hanbin tersenyum dengan tulus. Bukan seringaian sok keren nya yang biasa. Bukan pula senyuman angkuh nya. Senyumannya kali ini terlihat…hangat.

Aneh. Senyumannya terasa akrab. Seolah jauh-jauh hari sebelum hari ini…aku pernah melihat senyuman itu. Tapi kapan? Aku yakin inilah pertama kalinya aku melihat Hanbin tersenyum seperti ini. Aku menyipitkan mataku, mengamati wajah Hanbin lekat-lekat. Kalau dipikir-pikir lagi…, wajah Hanbin pun terasa tidak asing. Maksudku…, rasanya seperti aku pernah “mengenal” nya dengan baik di masa lalu? Bukan hanya pernah melihatnya saat di junior high school dulu karena ia adalah frenemy Soohyun! Apakah mungkin aku pernah bertemu dengannya di kehidupan kami yang sebelumnya? Aku tertawa sengit di dalam hatiku. Jangan konyol, Lee Hayi! Kau terlalu banyak membaca cerita-cerita fantasi akhir-akhir ini! Ditambah lagi dengan musical drama yang juga berbau fantasi!

~~~~~~ ****** ~~~~~

H-3 menuju Evaluation Test Day……

Persiapan team kami sudah semakin matang. Kami hanya perlu memperbaiki hal-hal minor. Secara keseluruhan, menurutku kami sudah cukup baik.

Kemarin Hanbin menemaniku sampai pukul 2 dini hari, kemudian mengantarku sampai asrama. Karena kurang tidur, aku merasa agak pusing. Tapi aku merasa puas dengan hasil kerja kerasku. Apalah artinya mengorbankan beberapa jam waktu tidurku bila aku bisa mengasah kemampuanku lebih baik lagi?! Malam ini pun…aku berencana untuk berlatih lagi sampai aku merasa lebih puas dengan kemampuanku. Tapi…aku tidak ingin berlatih sendirian.

Aku mendekati Hanbin yang duduk di depan layar komputer. Mengedit lagu. “Hanbin…, apakah kau mau berlatih sampai pagi?” tanyaku. Aku terlalu gengsi untuk berkata : Hanbin, apakah kau mau menemaniku berlatih sampai pagi?!

Hanbin mengangkat wajahnya. Menatapku dengan tatapan tanpa ekspresi nya yang biasa selama beberapa detik, lalu ia pun mengangguk. Aku balas mengangguk, lalu membalikkan badanku, berjalan cepat menjauhinya sambil tersenyum senang.

Meskipun Hanbin menyebalkan, tapi dia membuatku merasa aman. Sepertinya dia jago berkelahi. Aku mengamati Hanbin dari kejauhan, menatap otot-otot lengannya yang cukup kekar. Pandangan matanya mengintimidasi. Kata-katanya tajam dan pedas. Mungkin aku harus memintanya menjadi bodyguard ku? Hahahaha. Jangan konyol, Lee Hayi! Aku memukul-mukul kepalaku. Merasa sangat idiot karena memikirkan hal yang aneh-aneh. Lagipula…siapa sih yang akan membuntutimu, Hayi? Semua itu hanya ada di dalam kepalamu! Semua itu tidaklah nyata!

“Hayi, sebaiknya kita makan dulu. Kau mau diam di sini dan menungguku membawa makanan? Atau kau mau ikut denganku?”

“Aku ikut denganmu!” Jawabku dengan cepat.

Ingatlah, Lee Hayi, berada di dekat Kim Hanbin jauh lebih aman dibanding berada di sini sendirian! Dalam hati aku berdoa semoga aku bisa tahan dengan omelan / kata-kata pedas Hanbin selama kami membeli makanan nanti!

Setelah mengunci pintu studio, kami pun berjalan beriringan. Aku sudah siap mendengar ocehan Hanbin. Dia pasti akan mengkritik caraku bernyanyi lagi! Atau mengatakan kata-kata pedas tentang bagaimana tidak “lady-like” nya aku dalam drama kami!

“Hey Hayi…” Hanbin terdiam sesaat.

Oke, aku sudah siap. Silakan mengomel, Kim Han Bin! Aku akan tahan dengan omelanmu karena kau sudah mau menemaniku berlatih sampai larut pagi!

“Hari Minggu nanti…apakah kau mau menemaniku membeli kado untuk ulang tahun adik perempuanku?”

“Haaah?”

Hanbin mengacak-acak rambutnya. “Hanbyul sudah mengerti barang seperti apa yang cantik, sedangkan aku….tidak mengerti barang seperti apa yang menurut perempuan dibilang cantik.”

Aku tertawa. “Oke.”

Hanbin tersenyum. “Oke. Thanks, Hayi!”

Aku mengerjapkan mataku. Lagi-lagi senyuman itu!

“Hey Hanbin…” aku diam selama beberapa saat. Kami terus berjalan berdampingan menuju mini market yang ada di lingkungan YG Academy. Mini market ini buka 24 jam!

Sebenarnya aku ingin bertanya : Apakah dulu kita pernah bertemu dan saling mengenal? Jauh sebelum aku melihatmu bermain bersama Chanhyuk dan Soohyun saat kelas 1 junior high? Karena anehnya, senyumanmu terasa sangat tidak asing!

Oke, aku memutuskan untuk tidak mengatakan kalimat itu! Hanbin pasti akan menertawakanku!

Jadi, aku hanya berkata, “Apakah kau merasa nervous dengan evaluation test hari Sabtu ini?”

Hanbin mengangguk. “Hmmm. Tentu.”

“Sungguh?” Aku membelalakkan mataku, tak percaya.

“Yah! Kau pikir aku tidak punya perasaan?”

“Hmmm.” Aku mengangguk.

Hanbin berdecak kesal. “Tentu saja aku merasa nervous dan…. takut.”

“Takut kau tidak akan bisa segera debut?”

Hanbin berhenti berjalan. Matanya yang tajam menatapku lekat-lekat. “Aku takut bila aku tidak bisa menampilkan yang terbaik dari yang sebenarnya mampu kulakukan. Karena itulah aku harus terus berlatih sampai aku dapat berkata : aaaahhh…, inilah yang terbaik yang bisa kulakukan. Apapun hasilnya, aku tidak peduli. Aku hanya merasa senang karena telah menunjukkan segenap kemampuanku. Aku tidak ingin memiliki penyesalan karena tidak berusaha semaksimal mungkin.”

Aku hanya balas menatap Hanbin dalam diam. Lagi-lagi aku tidak tahu harus berkata apa. Yang aku tahu…, aku merasa termotivasi karena kata-katanya barusan.

~~~~~~ ******* ~~~~~ ***** ~~~~~

H-2 menuju Evaluation Test Day……

Aku dan Hanbin tidak pulang ke asrama kami semalam. Kami terus berada di dalam studio, berlatih. Aku hanya tidur selama 3 jam. Dan sepertinya Hanbin baru tidur beberapa saat yang lalu, karena posisi tidurnya masih sama seperti posisi duduknya saat aku melihatnya sebelum aku tidur di mejaku.

Aku melirik jam dinding. Pukul 6 pagi. Hanbin harus bangun setidaknya pukul 7 pagi. Kalau tidak…dia pasti akan datang terlambat ke kelas!

Aku mencari-cari ponsel Hanbin. Apakah dia sudah menyetel alarm? Di mana ponselnya? Di dalam sakunya? Tsk!

Baiklah, karena Kim Han Bin sudah bersikap baik padaku, aku akan bersikap baik padanya. Aku mengeluarkan ponselku, menyetel alarm agar berbunyi pukul 7 pagi, lalu meletakkannya di atas meja komputer, di dekat Hanbin.

Aku menggeliat, perlahan melihat ke luar lewat jendela. Sepertinya sudah tidak gelap. Aku lapar. Makanan yang kami beli semalam tentu saja sudah habis! Mungkin sebaiknya aku pergi ke kantin sekarang.

Aku merapatkan jaketku. Menggigil kedinginan. Oke, sekarang aku mulai menyesali keputusanku karena keluar sendirian. Mungkin karena cuaca mendung, suasana sekitarku jadi agak berkabut, dan tentu saja lebih gelap dari yang mulanya kuperkirakan.

Aku berjalan dengan cepat. Berharap segera tiba di kantin. Ketika aku berbelok di lorong yang akan membawaku menuju gedung selatan, tiba-tiba saja bulu kudukku meremang. Aku bisa merasakan kehadiran seseorang di belakangku. Aku terus berjalan tanpa menoleh.

“HAYI!”

Aku berhenti berjalan, kemudian membalikkan badanku. Ya ampun, syukurlah, orang itu memanggil namaku sehingga aku berhenti berpikiran yang bukan-bukan.

“Bobby Oppa?”

Bobby berlari menghampiriku sambil tersenyum lebar. Sudut-sudut matanya berkerut. Aku selalu merasa senyuman Bobby terlihat unik dan sangat manis.

“Apa yang kau lakukan sepagi ini?” tanyaku.

“Olahraga. Kau sendiri?”

“Latihan.”

“Sendirian?”

Aku menggeleng. “Bersama Hanbin.”

Bobby mengangkat alis matanya. “Benarkah? Lalu di mana….”

Sebelum Bobby sempat menyelesaikan kata-katanya, terdengar seruan Hanbin dari jauh. “Hayi~ya? Lee Hayi?”

“Sepertinya Hanbin mencarimu.” Kata Bobby. Aku mengangguk.

Beberapa saat kemudian, kami melihat Hanbin berlari menghampiri kami. Wajahnya terlihat panik. “YAH! LEE HAYI! Kupikir kau diculik! Pabo!” Hanbin menghembuskan nafas panjang.

Tiba-tiba saja jantungku berdegup kencang. De ja vu. Aneh. Kejadian ini mengingatkanku pada kejadian yang pernah kualami dulu. Tapi saat itu…kakakku lah yang berkata demikian.

“Hey Hayi, lain kali bawa ponselmu! Jangan membuatku berpikir yang aneh-aneh!” Hanbin berkata sambil terbatuk-batuk. Nafasnya masih terengah-engah karena tadi dia berlari.

Aku dan Bobby menatap Hanbin dengan heran. Kemudian aku menatap Bobby. Dia hanya mengangkat kedua bahunya. Sama tidak mengertinya denganku.

Sejak kapan Kim Han Bin mengkhawatirkan orang lain?

~~~~~ ***** ~~~~

H-1 menuju Evaluation Test Day……

Hanbin melarangku begadang sampai pagi!

“Kau akan pingsan kalau kau tidak tidur malam ini!”

“Tapi…, kau sendiri akan begadang kan?”

“Aku jauh lebih kuat darimu. Sudah! Pergi sana! Jangan ganggu aku~” Hanbin mendorong keningku menjauh darinya. Ia mengedit beberapa bagian dari aransemen lagu let it go lagi. Aku mendengus. Dasar Mr.Perfectionist!

“Oke…oke.., Tuan Mickey!” Aku mengatakan Mickey dengan nada mengejek. Sebenarnya aku kesal karena Hanbin punya banyak koleksi Mickey Mouse jauh lebih banyak dariku!

Ketika aku membereskan barang-barangku, Hanbin berkata…

“Hey Hayi…, kenapa kau suka Mickey Mouse?”

Aku tertawa karena pertanyaannya. “Tentu saja karena Mickey Mouse sangat lucu dan menggemaskan! Kau sendiri? Mengapa kau suka Mickey Mouse?”

Hanbin menatapku agak lama. Kemudian dia menggeleng. “Aku tidak tahu. Yang pasti…, setelah aku terbangun dari koma, saat usiaku 11 tahun, aku langsung meminta ibuku membelikanku semua barang bergambar Mickey Mouse. Mungkin saat aku tertidur selama 30 hari…, jiwaku bertemu dengan Mickey Mouse yang asli?” Hanbin menyeringai.

Aku masih menatap Hanbin lekat-lekat. Hanbin pernah mengalami koma selama 30 hari? Kenapa?

Dan dia berkata…saat usianya 11 tahun? Saat usiaku 11 tahun, aku juga mengalami kejadian yang tidak mengenakkan. Mungkin umur 11 adalah titik balik masa kanak-kanak bagi beberapa orang. Oke, setidaknya bagi aku dan Hanbin. Kami sama-sama mengalami kejadian yang bisa dibilang…. “mengerikan” bagi seorang anak berusia 11 tahun!

~~~~ ****** ~~~~~

Evaluation Test Day……

Sepertinya kakiku tidak “menginjak” bumi dengan sempurna. Entahlah, rasanya seperti separuh jiwaku berada entah di mana. Aku terlalu gugup!

Bahkan ketika kakakku menggodaku, meski aku menjawabnya dengan sengit, rasanya seperti bukan aku. Maksudku…, karena terlalu bercabangnya pikiranku, rasanya aku tidak “benar-benar ada di sini”.

“Hey Hayi, bukan hanya kau yang gugup. Aku juga.” Bisik Hanbin saat kami berada di balik panggung. White team sedang tampil test pertama. Mino Oppa dan Taehyun Oppa menonton penampilan mereka lewat layar TV yang disediakan di balik panggung, tapi aku memilih untuk tidak menontonnya. Aku tidak ingin semakin gugup.

Bukan berarti aku takut berdiri di atas panggung. Sama sekali tidak!

Tapi sama seperti yang pernah Hanbin katakan waktu itu, aku juga takut tidak bisa menampilkan yang terbaik dari yang sebenarnya mampu kutampilkan.

“Semuanya akan baik-baik saja. Kau sudah berlatih dengan keras,” Hanbin berkata dengan nada datar.

“Kau juga.” Tukasku.

Hanbin menganggukkan kepalanya. “Tidak peduli apa hasilnya, yang penting kita tahu…kita sudah berusaha sebaik mungkin.”

Aku mengangguk. “Hmmm.”

Aneh. Rasanya tidak seperti berbicara pada Hanbin, tapi pada diriku sendiri. Inner talk. Mungkin pada dasarnya kami memang mirip. Pemikiran kami, sikap keras kepala kami. Mungkin di mata Hanbin, aku pun sama bossy nya dan sama menyebalkannya seperti Hanbin di mataku.

“Hey Hayi…”

Hanbin terdiam. Rasanya sudah menjadi semacam trademark diantara kami untuk memanggil nama masing-masing, kemudian diselingi jeda selama beberapa detik.

Aku menunggu Hanbin mengatakan kata-kata selanjutnya, tapi selama hampir 2 menit, ia hanya terus terdiam, maka aku pun menoleh padanya dan melihat sorot matanya yang terlihat berbeda, menatapku seolah berusaha menembus jiwaku, membaca pikiranku, membaca masa laluku.

“Apakah kita pernah bertemu sebelumnya? Aku tahu, aku pernah melihatmu bermain bersama Soohyun di rumahnya saat kita masih sekolah dasar.”

“Bukan sekolah dasar, tapi junior high school, sekolah menengah pertama, di taman. Itu pertama kalinya aku melihatmu dan kita tidak pernah bertemu lagi setelah itu, sampai kemudian aku masuk YG. Benar kan?” Koreksi ku, tapi di akhir aku merasa tidak yakin.

Hanbin mengerutkan dahinya. “Taman? Tidak…, aku yakin aku pernah bertemu denganmu di rumah Soohyun saat umurku 11 tahun.”

“Tidak. Aku yakin 13.”

“Benarkah? Lalu.., kenapa aku merasa pernah jauh mengenalmu sebelum itu? Kau yakin kita hanya pernah bertemu 1 kali?”

Aku tidak mengatakan apapun, karena jujur saja aku juga penasaran, tapi aku sama sekali tidak tahu apa jawaban dari semua pertanyaan Hanbin, dan juga pertanyaanku.

Selama beberapa menit, kami hanya saling terdiam, meneliti garis wajah satu sama lain, seolah mengingat-ingat apakah saat kami kecil dulu….kami memang pernah saling mengenal lebih dari yang kami sadari?

White Team sudah selesai tampil, dan kini mereka mulai memasuki back stage, bergabung dengan member white team lainnya.

“Hanbin hyung! Hayi nuna! Ayo!” Ajak Junhoe. Dia pun keluar dari backstage lebih dulu.

Aku mendengar keributan dari arah white team. Seungyoon terlihat panik saat berbicara di telepon.

“MWO? KAMI TIDAK BISA MELAKUKAN FLASH MOB DI HONGDAE?”

Ya, suara teriakan Seungyoon yang terdengar panik saat itu memang terdengar sangat jelas di telingaku, tapi yang kudengar di dalam otak dan hatiku saat ini adalah suara lain. Suara dari masa laluku….atau mungkin hanya dari mimpiku…

“Karena kau tidak ingat siapa namamu, bagaimana kalau aku menamaimu Tuan Mickey Mouse? Aku sangat suka Mickey Mouse! Tuan Mickey, terima kasih sudah menolongku. Aku akan memberikan topi mickey mouse ini padamu. Kau pasti akan terlihat tampan memakai topi. Rambutmu…kenapa seperti itu? Sepertinya kau telah menjalani operasi di bagian kepalamu.” Aku mengamati anak laki-laki tampan di hadapanku.

“Thanks, Hayi~ya….” Anak itu hanya tersenyum lebar. Senyumannya terasa hangat di dadaku.

Aku balas tersenyum padanya. “Hmmm, tapi sayang sekali kau tidak bisa memakainya. Tuan Mickey, kau hantu paling baik yang pernah kutemui!”

~~ TBC ~~

Advertisements