Tags

, , , , ,

PaperArtist_2015-08-14_01-22-21

Alternative Title : A girl who can see a ghost

Author : Kunang | Main Cast : Juniel/ Xi Junhee (covered by Park Boyoung), Kai/ Kim Jongin (EXO), Yook Sungjae (BtoB), [still unreveal]| Support Cast: Xi Luhan (EXO), Jeon Hyoseong, Park Chanrin, Oh Sehun, another cast you will be find it | Length : multichapter | Genre : romance, drama, friendship, fantasy, business entertainment| Rating  : PG-15

Disclaimer       :  Juniel, Kai, dan Sungjae milik mereka sendiri.. Cerita ini murni milik dari carefree- happy- chicken maniacKunang plagiat jauh-jauh sana sebelum dilempar pake standing mic sama Kai.

2nd  part –Friend or Enemy

 

Resume Part 1 : Juniel yang terbangun dari komanya mendapatkan dirinya bisa melihat hantu dan bertemu dengan Sungjae—hantu spesial yang mengatakan tubuhnya tertidur di suatu tempat. Untuk mengetahui apa yang sebenarnya terjadi pada dirinya dan Sungjae, ia memutuskan pergi ke Korea Selatan selama beberapa bulan tanpa sepengetahuan kakaknya, Xi Luhan. Tapi baru saja Juniel menginjakkan kaki di sana, karena “suara”-nya, seseorang telah memutuskan untuk mengingat wajahnya, belum lagi sepertinya ia akan mendapat masalah dengan idol pertama yang ia temui di Cube Ent…

 

== Juniel PoV ==

 

“Jjamkaman… kau bicara dengan siapa? Dan… “Pria di depanku diam sesaat, seolah berusaha mencerna apa yang jelas-jelas telah aku katakan “jadi kau bukan fansku?”

Kurasa aku akan mendapat banyak masalah gara-gara pria ini!

“A… aku berbicara dengan diriku sendiri ha.. ha…” aku tertawa kaku, muka pria berhoodie ini sudah ditekuk dan seperti siap meledak kapan saja “Dan aku bahkan tidak mengenalmu, jadi tidak mungkin aku menjadi fans mu, hmmm mian? Hhaha maksudku jwesongham—”

“Kenapa kau yang minta maaf?” Sungjae berkata dengan nada sebal, aku meliriknya sekilas tanpa menengoknya memberi peringatan agar dia diam, tapi percuma. “Seharusnya dia yang meminta maaf karena seenaknya memelukmu! Bahkan seharusnya kau bisa menuntutnya!”

“SHTTTT!!! Bisa diam tidak sih!” tanpa sadar aku menengok ke arah Sungjae, tapi cepat-cepat aku berpaling lagi “Ahhahahha abaikan saja….”

“Kurasa aku harus memanggil petugas keamanan!” pria berhoodie itu melewatiku, tapi dengan cepat aku tangkap pergelangan tangannya.

“Mian, aku akan jadi fans mu saja kalau begitu, aku akan keluar sendiri, ok? Kurasa aku salah tempat. Sebenarnya aku…”

“Jelaskan saja di ruang security, disana kau—“

“Woah…. Kau benar-benar di sini Xi Juniel? Pantas saja aku menunggu mu dari tadi” entah sejak kapan seorang pria berumur tiga puluhan awal masuk dan melihatku dengan ekspresi lega “Resepsionist itu pasti lupa mengatakan jika kantorku ada di ruangan 502 gedung bagian barat, bukan gedung bagian utara ini, untuk kesana kau harus melewati sky lift dari gedung ini. Hmm.. sepertinya kau sudah bertemu dengan Yang Yoseob-gun, kau tahu, vokalis BEAST?”

“AH.. mian, aku hanya tahu jika mereka adalah sunbae nya BTOB” kataku jujur, tak menyangka jika Yoseob akan kesal dengan kata-kataku “annyeong haseyo, namaku Juniel, dan ahjusshi pasti Manager Kim”

“Ya, aku Manager Kim Choosan dari divisi training, hmm.. jadi sepertinya kau seorang Melody?” tanya nya lagi, aku tersenyum sebelum menganguk, teringat jika aku berencana menjadi trainee yang nge fans dengan member BTOB agar bisa bertemu dengan para membernya. Aku sudah menghafalkan seluruh profile member, lagu dan fanchant mereka.

“Nee.. aku seorang Melody, just Melody, jadi aku tak tahu banyak idol lain”

Aku sudah merasa hampir lega ketika pria berhoodie yang ternyata member Beast yang bernama Yang Yoseob dengan gaya sok cueknya hendak meninggalkan ruangan hingga…

“Yoseob ah.. kau sedang free kan?”

“Eh?” Yoseob berpaling, dahinya berkerut “Aku…”

“Aku akan ada meeting sepuluh menit lagi, aku minta tolong agar kau mengajak Juniel berkeliling lalu setelahnya antarkan dia ke ruang instrumen utama di lantai 12”

“Ta..tapi hyung…”

“Aku mengandalkan mu ya Yoseob-ah” Manager Kim menepuk bahu Yoseob, jelas tak menerima penolakan “Juniel, aku akan menemuimu di ruang instrumen 45 menit lagi”

“Ah… baiklah….”

Aku menatap mata Yoseob yang kelihatan kesal setengah hidup, dan mendapati diriku sendiri mengipasi wajahku. Terlalu speechless dengan semua kejadian ini.

“YAA! Kau siapa pun namamu itu, sebelum aku berubah pikiran, cepat ikuti aku! Aku ini orang sibuk!” dengan seenaknya pria bernama Yoseob ini ngeloyor pergi setelah manager Kim meninggalkan ruangan.

“J..JAMKAMAN!! YAAA! TUNGGU AKU!!”

 

====|Author Pov|====

Beberapa hari kemudian

@Coffee shop

 

“Kau yakin dengan keputusan mu Kai?” Taemin mengetuk ngetukan jemarinya di meja. Raut mukanya ditekuk dan aura sekitarnya terasa tak bersahabat seolah dia baru saja menerima kabar yang membuatnya marah dan kesal secara bersamaan.

“Aku yakin hyung, aku tak akan bisa menunggu seratus tahun lagi untuk bertemu dengan  Hanhee” Kai menghindari tatapan Taemin yang seolah bisa menscan pikirannya dengan mudah ‘dan aku tak bisa membiarkan diriku mengkhianatinya’

“Apa hanya itu alasan mu Kai?” Taemin yang duduk tepat di depannya masih tidak percaya, pasti ada sesuatu yang disembunyikan oleh Kai sehingga Kai memproteksi kuat pikirannya agar tak bisa dibaca olehnya. “Kau ingin menjadi manusia biasa? Apa kau sadar konsekuensinya? Selain kau kehilangan kekuatan angle mu, umurmu bahkan akan lebih pendek dari manusia biasa”

Kai tersenyum lemah “Itu lebih baik, biarkan aku cepat mati dan hanya hidup ketika Hanhee dilahirkan kembali”

“Kau … hanya karena gadis itu, bisa sangat keras kepala” dengus Taemin, ia mengambil minuman didepannya dengan mata yang masih tertancap kuat ke saudara tirinya itu.

‘Menyedihkan sekali Kai, memangnya aku tak tahu jika kekuatan Angel mu ‘terisolasi’ karena kondisi mu sekarang?  Dan kau tak tahu apa-apa’ pikirnya.

Wujud Taemin dan Kai yang sebenarnya adalah pangeran dunia Angel, dan untuk Kai sendiri dia jatuh cinta dengan seorang manusia berkekuatan spesial bernama Park Hanhee atau Honey Lau. Tapi itu masa lalu, karena gadis itu telah meninggalkannya. Kai mengira ia bisa melewati lorong waktu sepanjang 100 tahun untuk bertemu dengan Hanhee. Menjadi angel membuatnya lama sekali menua, dari luar ia akan bertambah tua beberapa tahun saja saat kemudian bertemu kekasihnya 100 tahun yang akan datang.

Tapi jangankan 100 tahun, satu tahun ini saja semuanya berjalan lambat dan waktu semakin lama makin terasa menertawakannya. Hanya saat-saat ia bersama ibu dan sahabatnya saja, -Chanrin, Sehun, Chanyeol, ia merasa sedikit lebih baik, tapi kemudian saat ia sendiri semua kembali menyakitkan. Tapi Kai merasa lebih buruk akhir akhir ini.

Semua karena Xi Junhee atau Juniel.

Suara. Hanya karena suara gadis itu mirip dengan Hanhee-nya, ia mulai memperhatikan gadis itu. Dan itu bukan sepenuhnya salahnya, dalih Kai, siapa suruh dari sekian banyak apartment di Korea ini dia adalah tetangga apartment ibu angkatnya? Siapa suruh dia memiliki ‘suara’ yang sangat mirip dengan kekasinya? Juniel.. gadis yang ternyata adalah adik sepupu Jeon Hyoseong yang memberi cheesecake pada ibunya.

‘Aku merasa, tak akan bisa memaafkan diriku sendiri jika aku tertarik pada Juniel’ pikir Kai, kembali ia membayangkan paras gadis itu, mungil dan manis seperti Hanhee-nya, cepat cepat Kai menepis bayangan Juniel.

“Kai…kurasa akan lebih baik jika kau mempertimbangkannya lagi, aku akan memberi waktu satu bulan, karena kurasa kau akan membutuhkan kekuatanmu” walau sekarang kau kesulitan menggunakan kekuatan itu, tambah Taemin dalam hati.

“Tapi hyung—“

Taemin menggeleng, mengisyaratkan jika dia tak menerima penolakan “Kau akan berterima kasih padaku kelak”

“…” Kai hanya terdiam walau pandangannya mengisyaratka ia sangsi, Taemin mengangap ‘diamnya’ Kai adalah ‘Ya’

“Dan jangan berpikir meminta tolong Kris untuk hal konyol ini, dia memang memiliki kekuatan yang luar biasa, tapi meminta dia membuatmu jadi makhluk selevel manusia—“

“Terserah kau saja, aku ada schedule…” tanpa melihat sekalipun ke arah Taemin, Kai melempar uang 100.000 won ke atas meja, meninggalkan kakak tirinya yang mengawasi punggung adiknya yang semakin menjauh.

Taemin menarik nafas, lelah “Maafkan aku Kai, aku telah berjanji, janji tak terlanggar dengan orang itu…”

 

===|Juniel PoV|===

@09.00 PM

#Vocal room

 

Aku pikir harus menunggu member BTOB dahulu untuk mendapat info mengenai  Yook Sungjae, tapi ternyata dunia ini sempit sekali karena Yoseob oppa selain sunbae nya ternyata adalah saudara jauh Sungjae oppa!

“Jadi begini, kakek ku dari pihak ayah dan nenek Sungjae dari pihak ibu tirinya adalah kakak adik, otomatis ayahku dan ibu tiri Sungjae itu adalah sepupu, jadi aku dan dia adalah sepupu jauh”

Aku hanya menggaruk garukkan kepala, tidak sempat berpikir karena Yoseob oppa menjelaskan dengan cara yang rumit dan terlalu cepat. Sungjae yang duduk di kursi kosong tepat di sampingku mendengus keras seolah menyindir ku karena telmi, langsung saja aku sikut perutnya hingga ia mengaduh kesakitan. Akting bagus! Aku tahu jadi hantu dia tak bisa merasakan sakit fisik. Kadang aku pikir Sungjae akan lebih baik menjadi aktor dibandingkan jadi penyanyi.

“Kau mengerti?”

Aku menggeleng “Jelaskan sekali lagi, pelan-pelan…”

“hmm… baiklah kali ini saja.. dengarkan baik-baik” Yoseob oppa pun mulai menggambar ‘tree family’ keluarganya mulai dari kakek neneknya dan aku pun mendengarkan penjelasannya dengan cermat. Oya setelah beberapa hari ini aku di Cube Ent, aku dan Yoseob oppa menjadi ‘sedikit’ akur sejak tanpa sengaja kami saling tahu jika kami sama-sama menyukai anime, manga dan manhwa. Aku merasa seolah mendapatkan sahabat baikku sekaligus orang yang bisa kuanggap kakakku dalam diri Yoseob oppa.

Luhan gege memang kakakku, tapi ia lebih seperti kakak sekaligus ayahku. Aku sangat menghormati dan menyayanginya itu benar, tapi sebesar itu pula aku merasa segan padanya.

“Bagaimana? Kau mengerti?”

“Ehem…” kataku sambil menganguk.”Lalu apa yang sebenarnya terjadi pada Sungjae, apakah aku bisa menemuinya?”

“Dia berpindah pindah rumah sakit, aku akan coba menghubungi Sohyun lewat saudara ku untuk mencari tahu” kata Yoseob oppa lagi “Rumah mu di Yeouido kan? Sudah malam sebaiknya kau pulang, kuantar sampai halte karena mood ku sedang bagus”

‘Mood ku sedang bagus? Alasan apa itu?’ cibir Sungjae. Aku memelototinya sekilas, tidak ketahuan Yoseob oppa, kurasa.

“Okay … oppa tidak pulang?”

Yoseob oppa tertawa “Beast akan segera comeback, kurasa aku tidak akan punya waktu untuk tidur”

Kami berjalan beriringan, tenggelam dalam pikiran masing-masing kecuali Sungjae yang terus mengoceh tidak jelas. Dia semakin cerewet sejak aku menjadi trainee di sini dan seolah menghindari upaya ku untuk mencari tahu tentang tubuhnya.

“Oh ya oppa, tadi kau bilang mau menghubungi Sohyun, siapa Sohyun?”

Yoseob oppa mengangkat bahunya, tapi aku tak melewatkan ekspresi wajahnya yang mengeras selama beberapa detik “Kekasihnya mungkin, aku tak tahu…”

‘Kekasih?’ aku menatap Sungjae cengengesan, tak menyadari jika Yoseob oppa memperhatikan ekspresi ku sekarang. Aku tak pernah tahu jika dia adalah tipe observer yang peka dan penasaran terhadap sesuatu yang ‘tidak wajar’ di sekelilingnya.

“Tidak mungkin! Maksudku, aku adalah idol walau banyak yang naksir padaku, aku pasti memilih semua melody menjadi kekasihku!” bela Sungjae dengan suara nyaring.

“Cih…”

Yoseob oppa tertawa “kau cemburu? Hahaha wajar sih karena kau ‘melody’ tapi apa benar kau itu adalah teman masa kecil Sungjae? Atau jangan jangan, kau memiliki ‘maksud lain’?”

“Enak saja! Aku benar-benar temannya kok, dan aku hanya ingin menengoknya” jelasku dengan akting terbaik yang diajarkan Sungjae, ya aku sengaja mengarang cerita ini agar Yoseob oppa tidak curiga “Oppa, tolong cepat beritahu aku jika kau sudah tahu dimana Sungjae, atau setidaknya beri tahu aku nomor Sohyun”

“Oke.. kau bisa mengandalkanku..” jawab Yoseob bertepatan dengan bus terakhir yang baru saja menepi “Kau beruntung Xi Juniel, kau tidak ketinggalan bus”

“Yups… bye bye oppa…” aku melambai ke arah Yoseob dan langsung masuk ke dalam bis, setelah duduk pun aku masih bisa melihat Yoseob oppa memberiku isyarat agar menghubungi nya jika sudah sampai rumah.

See! Bukankah dia sunbae yang baik?

“Juniel…” kata Sungjae ketika bus sudah mulai berjalan, ia terlihat serius.

“Hmm?”

“Sebaiknya kau berhati-hati dengan Yang Yoseob ssi, karena kurasa ada sesuatu yang ia sembunyikan”

Aku menutup mulutku, menahan tawa dengan kata katanya yang kupikir tidak masuk akal “Jangan bercanda Yook Sungjae! Dia mau membantu kita!”

“Aku tidak bercanda!” Sungjae menjulurkan lidahnya “sebaiknya kau lebih waspada dengan sekelilingmu, karena bukan hanya Yang Yoseob ssi saja yang mencurigakan”

“Hahhh??” hampir aku mau bertanya lagi hingga mataku menatap seorang pria tengah baya yang menatapku sambil terbengong. Ekspresi nya campuran antara rasa iba dan khawatir, dia pasti mengira aku ‘sakit’ atau mabuk karena bicara sendiri. Aku hanya tertawa kecil dan kembali menatap ke depan.

‘Semua nya tampak wajar kan? Mungkin Sungjae hanya terlalu melebih lebihkan”

 

====|Still Juniel POV|====

-Midnight, Beberapa jam kemudian

 

“Berhanti melihatku seperti itu! Aku tidak bisa tidur!” aku mengumpat pada sosok yang duduk di pojok kamarku, sosok berbaju putih dengan rambut panjang yang menutupi hampir seluruh wajahnya yang rusak. Menyebalkannya ia hanya terkekeh senang, sepertinya ia memang menunggu saat-saat seperti ini. Biasanya gara-gara ‘aura’ yang Sungjae miliki, hantu satu ini terdepak dari kamar ini.

‘Juniel, aku akan pergi sebentar, kau tak apa-apa kan tanpaku malam ini?’

Jika Sungjae tahu kalau aku tidak nyaman (note : aku sama sekali tidak takut hantu) dengan hantu di sekitarku saat ia pergi, ia pasti menertawakanku.

“Baiklah, kau bisa memiliki kamar ini malam ini” kataku kesal sambil mengambil coat dan syal, memutuskan untuk mencari udara segar di atap apartment ini. Kurasa di sana tidak ada hantu yang jahat atau menakutkan, semoga.

Dengan agak berjingkat-jingkat melewati ruang tengah dan menuju pintu keluar. Hyoseong eonni dan suaminya pasti sudah tidur karena kamar mereka sudah gelap, jadi aku tak mau membangunkan mereka. Dalam waktu kurang dari lima menit saja aku sudah berada dalam lift untuk menuju lantai teratas apartment ini, lalu aku menaiki tangga untuk menuju atap. Untunglah tak ada hantu menyeramkan yang mencegatku.

Splash

Angin malam menerpaku dan menerbangkan rambut lurusku tepat setelah aku membuka pintu, dan detik itu juga aku tercengang. Yang pertama muncul di pikiranku adalah apakah aku benar-benar melihat angel?

Sosok bersayap putih yang membentang luas di balik langit bertabur cahaya bintang terasa begitu menyilaukan, membuatku harus mengedipkan mata untuk melihatnya lebih jelas. Sosok  berbaju putih dengan sayap dipunggungnya itu berdiri membelakangiku di ujung pojok pagar pengaman. Aku merasa seolah-olah ditarik ke sebuah negeri asing yang familiar dimana para angel, devil dan vampire bukanlah karangan semata.

“Eh? Eh? Eeehhhhhhhhhhhhhh?”

Aku menurunkan tanganku saat cahaya menyilaukan itu lenyap dan sosok itu … aku mengucek mataku beberapa kali ‘kemana sayap di punggungnya? Dan kemana baju putihnya?’

“Jogiyo….?” Aku tidak mungkin berhalusinasi kan? Dia benar-benar seorang angel kan? Tapi bukan itu masalahnya sekarang, orang atau angel ini berdiri di ujung pagar pengaman, bukankah itu sangat berbahaya?

Sosok itu berbalik dan melompat dengan anggunnya tepat di depanku, dan akhirnya aku pun melihat wajahnya. Tampan, jangkung, berpipi tirus dengan kulit yang sedikit lebih gelap. Rasa menggelitik dan hangat yang familiar tiba-tiba membuncah di dada ku, apa mungkin aku pernah mengenalnya? Ah.. bukankah ia salah satu member EXO ? si pria bertampang bosan?

“Juniel?”

“Kau tahu namaku?”

Kai menganguk, ia menatapku intens dan entah mengapa tatapannya membuat jantungku berdegup kencang. “Namaku Kai”

“Aku tahu”

“Kau tahu?” entah mengapa suara Kai terdengar penuh harap.

“Se..sebenarnya kemarin aku bertemu dengan ibumu, dia bercerita jika anaknya adalah idol yang sangat terkenal” kataku kikuk, rasanya awkward sekali jadi aku memilih berjalan menuju pagar pembatas untuk melihat langit malam yang cerah “Kukira tadi aku melihat angel, haha menggelikan bukan?”

“Benarkah? Mungkin saja aku benar-benar angel, Juniel ssi?” kata Kai dengan intonasi suara yang lebih rileks, ia mengikutiku berdiri di depan pagar pembatas tepat di sampingku. “Apa yang kau lakukan di sini? Bukankah ini sudah larut malam? Apa kau tidak takut dengan hantu?”

“Hantu?” aku tertawa renyah dan menengok untuk menatap wajahnya yang penasaran. Ternyata dilihat lebih dekat seperti ini dia jauh lebih tampan.

“Wae? Apa ada sesuatu di wajahku?” Kai mengerutkan dahinya, ia menepuk pipinya sekilas.

Aku menggeleng kuat “Tidak, hanya.. kau sangat tampan” jawabku dan beberapa detik kemudian aku benar-benar merasa malu karena jawaban spontanku hingga tak sanggup melihatnya.

“Ah… gomawo”

“Hmm… aku akan memberitahumu sesuatu, tapi berjanjilah, kau tak akan percaya padaku” kataku setelah keheningan yang membuat kami kembali awkward, aku ingin memecahkan kecanggungan ini.

“Kau ingin aku berjanji untuk tak mempercayaimu?” Kai mendengus, aku pikir dia akan menolak dan menyuruhku pergi, tapi diluar dugaan Kai menganguk. Aneh.. aku benar-benar merasa nyaman berbicara dengannya, seolah kami memang terbiasa bersama.

“Nee…yakso?”

Kai menatapku kemudian tanganku yang menunjukkan jari kelingking, ia tersenyum lalu menautkan kelingkingnya denganku. Tanpa sadar aku tersenyum saat merasakan perasaan aneh yang menggelitik perutku. Apa ada yang salah denganku? Tadi dada ku terasa tidak beres dan sekarang perutku juga?

“Jadi apa yang ingin kau beritahu padaku? Aku yakin sesuatu yang tidak masuk akal” Kai tersenyum mengejek setelah kami melepaskan tautan jari kami.

“Memang, makanya aku bilang jangan percaya padaku!”

“Oke.. oke, bicaralah..”

“Kai ssi, sebenarnya…” lidahku tercekat sesaat “Aku bisa melihat hantu”

“Kau—MWO?”

“Eh?” aku tak menduga jika Kai akan sekaget itu, matanya menatapku tak percaya seolah aku sudah mengatakan sesuatu yang membuatnya shock. “Hahahhaha.. kenapa sekaget itu? Bukankah kau berjanji —“

“Jadi kau bisa melihat ‘dia’?” Kai menunjuk ke arah pojok dekat pintu yang tadi aku lewati. Aku mengikuti arah pandang Kai.

“Maksudmu.. hantu anak kecil yang terlihat sedih itu?”

Kai menurunkan tangannya seolah kehabisan tenaga “Kau…siapa kau sebenarnya?”

“A.. aku… tentu saja aku Juniel, jjamkaman… Kai ssi, kau bisa melihat hantu juga?”

‘A.. atau kau..benar-benar angel? Aku tak salah lihat kan tadi?’ tambahku dalam hati, aku benar-benar masih tak percaya dengan apa yang tadi aku lihat.

Kai tidak menjawab pertanyaanku, tubuhnya terlihat agak limbung dan ia pun bersandar di pojok pagar “Tidak mungkin… tidak hanya suaranya…” katanya lebih pada dirinya sendiri.

“Wae Kai  ssi?”

“Kenapa kau begitu mirip dengannya..?”

“Aku? Aku mirip dengan siapa?”

“Apa kau pernah kecelakaan?” tanyanya lagi

Aku mengerjapkan mataku “Bagaimana kau tahu? Sebenarnya setahun lalu aku kecelakaan mobil dan ingatanku hilang” jelasku, ntah mengapa aku mengatakan semua ini dengan orang yang baru ku temui.

Kai terdiam beberapa saat kemudian ia menggeleng lemah membuatku makin penasaran, lalu untuk pertama kalinya aku melihat dia tersenyum lembut “Kapan-kapan mau main denganku? Kau belum benar-benar tahu daerah sini kan?”

“Ka…”

‘Kau mengajakku kencan? Hahhaha.. oke’

Déjà vu, aku merasa dapat mendengar jelas apa yang akan kukatakan, seolah dulu aku pernah mengucapkan kata-kata ‘itu’ sebagai jawaban atas pertanyaan yang sepertinya juga pernah ditanyakan Kai ssi dulu. Tapi bagaimana mungkin?

“Juniel ssi? Kau baik-baik saja? Kau terlihat pucat”

“Aku baik-baik saja, kurasa aku akan ke bawah duluan” kataku sambil berbalik, entah mengapa tiba-tiba dadaku terasa sesak.

Grepp

Aku menoleh ketiga pergelangan tanganku tiba-tiba digenggam “Wae Kai ssi?”

“Ah.. bukan apa-apa” Kai melepaskan tanganku, aku tersenyum canggung sebelum kembali berjalan “Bagaimana bisa kau begitu mirip dengan Hanhee

‘Hanhee?’ aku mengerutkan dahi, bingung dengan nama yang asing di telingaku.

 

Note : kalau ada yang pernah baca MD, scene terakhir tadi tu nyaris persis sama scene waktu Kai ketemu Park Hanhee untuk kedua kalinya

 

==|| Author PoV ||==

@2.00 AM. Cube Ent

“Juniel pasti baik baik saja aku tinggal, biar kecil seperti marmut begitu dia bukan anak kecil” kata Sungjae lebih pada dirinya sendiri. Ia agak menyesal malah memutuskan kembali ke Cube ent untuk memata-matai Yang Yoseob. Ia yakin pria itu tahu sesuatu mengenai dirinya, tapi Yoseob sepertinya tidak ada tanda-tanda akan berhenti latihan dance bersama member satu tim nya.

Saat Sungjae memutuskan untuk pulang saja, musik pun berhenti saat seorang namja yang Sungjae tahu adalah leader Beast menghentikan lagu untuk menerima telepon.

“Yoboseyo, ah… hyung…. Nee… neee….”

Doojonn berbicara sekitar tiga menit di telepon, ketika ia mengakhiri telepon wajah lelahnya terlihat bersinar. “Hei guys, pelatih membolehkan kita berhenti latihan, kalian istirahatlah untuk memulihkan kondisi kalian agar sore ini saat comeback stage pertama kita besok, kita bisa tampil maksimal.

“Yeahh!!”

“Assa!!”

Hyunseung dan Gikwang berhigh five tapi yang lainnya hanya tersenyum lebar, terasa tak ada tenaga lagi untuk bersorak. Mereka memang benar-benar perlu istirahat pikir Sungjae.

Sebenarnya Sungjae tidak terlalu berharap Yoseob akan bertindak aneh, dia pikir setelah ini mereka semua akan kembali ke dorm. Tapi mendengar Yoseob meminta ijin pada Doojoon untuk pergi membuat tingkat kecurigaannya naik kembali.

Sungjae mengikuti Yoseob ke arah parkiran di basement, kali ini ia benar-benar merasa beruntung menjadi hantu karena tidak harus repot repot bersembunyi atau menyamar agar tidak ketahuan membuntuti orang di depannya.  Yoseob  pun terlihat tidak curiga saat Sungjae ikut duduk di kursi penumpang sedan audi yang disupirinya, ia benar-benar seperti tidak merasakan kehadiran Sungjae. Smartphone Yoseob berdering di tengah perjalanan dan ia pun langsung mengenakan earphone nya.

“Ah.. yoboseyo Sohyun-ah?….nee.. nee… aku akan sampai di sana sekitar satu jam, ah nee.. annyeong” Yoseob pun memutuskan panggilannya.

“Soohyun?” Sungjae berpikir keras. Nama itu terus stuck di pikirannya sejak Yoseob mengatakan nama itu pertama kali.

“Sungjae ya…” suara dingin Yoseob membuat Sungjae yang duduk di sebelahnya langsung membeku. Beberapa detik Sungjae hampir yakin jika Yoseob menyadari kehadirannya.

“Ah… kau..?” Sungjae terus menatap ekspresi Yoseob yang makin lama terlihat makin geram tapi tetap mata Yoseob mengarah ke depan. Tangannya yang memegang kemudi terlihat mengepal kuat.

Dan kemudian, senyum sinis merekah di bibir Yoseob. Ia mulai berbisik, cukup pelan tapi masih bisa terdengar jelas di telinga Sungjae.

“Demi kebaikanmu, sebaiknya kau tidak pernah sadar Yook Sungjae”

 

**|Juniel PoV|**

 

@Cafe, beberapa hari kemudian

Sunday, 17.00 KST

 

“Hei… kenapa kau melamun?”  seseorang menepuk bahuku, ia tersenyum hangat dan duduk di kursi tepat di depanku “Apakah ada sesuatu yang buruk terjadi? Kau terlihat tidak bersemangat”

“Aku baik-baik saja Kai oppa” aku berusaha menyunggingkan senyum, sesaat aku merasa namja di depanku ini dapat membaca jika aku sedang berbohong. Tapi mungkin dugaanku salah karena kemudian dia menganguk dan mulai membuka buku menu yang tergeletak di atas meja.

Sejujurnya aku sedang cemas beberapa hari ini karena Sungjae menghilang. Ia belum juga kembali sejak malam saat ia pergi, bukankah dia bilang hanya pergi sebentar? Kenapa dia belum kembali? Aku sudah mencari ke seluruh gedung dan ruangan Cube ent tapi nihil, tidak mungkin kan aku bertanya pada orang lain? Setahu ku hanya diriku yang bisa melihat dia.

“Lihat, kau mulai melamun lagi” kata-kata Kai menghamburkan lamunanku, aku kembali tersenyum dan menggeleng “oh ya kau mau vanilla latte, bubble tea atau—“

“Cold vanilla latte saja dan—“

“Cold vanilla latte, with extra cream and less ice” lanjut Kai pada waiter, aku sampai bengong sendiri. Bagaimana dia tahu dengan jelas detail minuman yang akan ku pesan?

“Apa aku salah?” tanya Kai kemudian, sepertinya ia menikmati ekspresi bingung ku. Aku menggeleng.

“Ini tidak adil, sepertinya kau serba tahu tentangku Kai oppa? Apa kau yakin kalau kau bukan stalker ku?”

“Ahahhahhahaha… memangnya aku masih kurang kerjaan?” tanya Kai di sela tawanya, aku baru melihatnya tertawa seperti itu. Entahlah, tawanya membuat aku merasa lebih baik.

“Oh ya jadi kita akan kemana?” tanyaku sambil mencondongkan tubuhku lebih dekat karena penasaran. Akhirnya aku mengiyakan ajakan Kai oppa beberapa hari lalu, dan kurasa ini bukan kencan karena dia juga mengajak teman temannya. “Kau bilang tempatnya asyik sekali, aku jadi penasaran”

“Saking asyiknya kurasa kau tak akan mau pulang” kata Kai, ia hendak meneruskan kata-katanya tapi pelayan baru saja datang membawa pesanan kami. Segelas americano untuk Kai dan cold vanilla latte untukku.

“Coba ku tebak… hmm yang jelas bukan Namsan tower, ntah mengapa rasanya aku malas ke sana”

“Tentu saja bukan, di sana yang ada hanyalah ada kenangan buruk” tambah Kai sambil menyesap minumannya. Kemudian ia menunjukkan wallpaper di hpnya. Potret Kai bersama seorang gadis mungil cantik yang tersenyum lebar. “Namanya Park HanHae, dia sempat meminta kami putus di cabel car namsan tower, makanya aku tidak mau kesana lagi”

Aku hanya bengong. Kenapa Kai mengatakan semua ini padaku? Oh ya dan kenapa dia malah mengajakku main? Bukan gadis bernama Park Hanhae yang sepertinya kekasihnya? Apa mereka sudah putus? Ntah mengapa aku merasa pernah mendengar nama itu.

“Kau kenal gadis ini?” Kai oppa bertanya dengan nada antusias, membuatku bingung sendiri. Apa gadis ini idol atau artis? Atau dulu aku pernah mengenalnya?

“Hmmm.. ntahlah, sepertinya wajahnya familiar” jelasku jujur “Memang dia—“

Belum sempat aku bertanya lagi, ia melambaikan tangannya ke arah seseorang di belakang ku. “Chanrin! Sehun-ah! Disini!!”

Aku menengok ke belakang dan mendapati sepasang pria dan wanita sebaya kami melihat Kai. Aku mendapat kesan jika mereka pastinya sepasang kekasih yang sangat serasi. Sang pria berwajah sangat tampan, berkulit putih pucat bagai pualam dengan pipi tirus dan rambut pendek yang ditata dengan gaya sedangkan sang gadis bertubuh jangkung, dengan kulit yang sama putihnya tapi lebih bersinar, bibirnya pink kemerahan dan terkesan dingin. Entah mengapa mereka seolah-olah bukan manusia dari dunia ini. Kesan ini benar-benar mengingatkanku pada saat aku bertemu Kai yang kulihat sebagai malaikat beberapa hari lalu.

“Kai oppa, tumben kau mengajak kami main?” suara si gadis jangkung ini membuat lamunanku buyar. Sejak kapan mereka berdua sudah berdiri di samping meja kami? “dan.. siapa dia?” tambah gadis itu penuh selidik.

“Kai, you got a new girl, huh?” tambah pria di samping gadis itu. Entah mengapa wajah kedua orang ini juga rasanya familiar, terutama gadis ini, walau terlihat dingin aku merasa dia akan bisa menjadi sahabat baikku.

Nope, she is the old one, the only one” jawab Kai membuatku mendelik, apa maksud kata-kata itu? “Haha.. baiklah.. sepertinya aku perlu mengenalkan teman mungilku, dia adalah Juniel salah satu trainee di Cube Ent. Kalian bisa memanggilnya Junhee atau Juniel, nah Juniel mereka adalah Oh Sehun dan Park Chanrin, mereka adalah sahabat baikku, Chanrin seumur dengan mu jadi kalian adalah chingu”

“Bangapseumnida Chanrin ssi, Sehun ssi” aku menawarkan jabat tangan dan walau agak kikuk mereka membalasnya. Tangan keduanya terasa dingin tak wajar tapi aku menyukainya.

“Baiklah, semuanya sudah lengkap, bagaimana kalau kita langsung pergi saja?”

 

===| Author PoV|====

@Lotte world

Tiga jam kemudian

 

“Kai … jangan-jangan kau berpikir kalau Juniel ssi adalah…” Sehun tak melanjutkan kata-katanya, tapi matanya terpancang ke arah Kai yang sedang memperhatikan Chanrin dan Juniel berjalan di depan mereka. Juniel sepertinya sedang memohon mohon agar Chanrin yang sudah kelewat mual untuk naik viking atau roler coaster lagi dengannya.

“Lihat… dia terlihat begitu gembira saat ini, dia benar benar maniak wahana, tidak berubah” kata Kai seolah tak mendengar kata-kata Sehun.

“Kai, tapi Hanhee sudah meninggal dan wajahnya sama sekali berbeda dengan Hanhee. Lagipula kau sendiri yang memastikan pada dewa kematian itu jika Hanhee sudah —-“

“Aku tahu!” sentak Kai sambil menghentikan langkahnya, ia berbalik menghadap Sehun “Tapi hatiku lebih tahu”

“Eh Kai oppa… Sehun ssi, kenapa kalian malah diam di sana?” Juniel melambaikan tangannya agak jauh di depan mereka, sebelah tangannya masih merangkul Chanrin yang terlihat pasrah “Chanrin setuju untuk naik roler coaster lagi, kalian ikut juga kan?!”

“Kalian saja, aku dan Kai akan menunggu di kafe sana” jawab Kai sambil menunjuk asal deretan kafe di sebelah kiri nya “Langsung ke sana jika kalian sudah selesai..”

“Yahhh….baiklah” tak lama wajah kecewa Juniel kembali menjadi ceria “Sehun oppa, you better don’t cheat with Kai oppa even you two look VERY HOT together, I will kill you for sure for Chanrin’s sake” dan kemudian Juniel pun berlari sambil menarik Chanrin.

“YAA!!..” Sehun benar-benar speechless sekarang, kata-kata Juniel membuatnya merinding. Cheating with Kai? What the f*ck

But surely, her behaviour is strangely similar with Hanhee, pikir Sehun. Kai tersenyum lebar seolah bisa mengetahui apa yang ada di pikiran Sehun.

“Kita duduk di sana dan aku akan menjelaskan semuanya, okay? Tapi setelahnya aku membutuhkan bantuan mu”

Sehun menganguk walau enggan, ia mengikuti Kai dengan mata yang masih tertuju pada punggung kekasihnya dan Juniel yang akhirnya menghilang setelah berbelok dekat wahana gyro drop (mirip Hysteria kalau di Dufan).

 

====||====

 

 

“Chanrinn-ahhh…mianhaee….. kau baik-baik saja kan? Mau kucarikan kantong keresek? Atau kuantar ke toilet?” kata Juniel khawatir saat mereka baru saja duduk di luar kafe. Sehun yang melihat kekasihnya pucat seperti itu langsung menyodorkan green tea hangat padanya.

“Bagaimana aku bisa baik-baik saja heoh? Aku hanya berjanji untuk naik roaler coaster bersama mu sekali lagi dan kamu menculikku ke wahana viking, gyro drop dan roaler coaster” cela Chanrin setelah mualnya lebih baik karena minum hot greentea. Sehun mendelik, mengingat jika Chanrin yang tidak banyak bicara apalagi akan mengomel akan menjadi banyak bicara jika berhadapan dengan Hanhee.

Mungkin Kai benar, terkecuali wajah dan gaya rambutnya, gadis ini sangat mirip dengan Hanhee.

“Lalu kenapa kau tidak bilang ‘tidak mau’? anyway.. maafkan aku Chanrin-ah, walau kita baru bertemu beberapa jam, aku merasa senang dan ingin jadi temanmu. Jadi jangan marah lagi ya? Yaa??” Juniel tiba-tiba berdiri dan memeluk punggung Chanrin, tidak terlalu erat agar tak menyakiti Chanrin tapi tetap membuat Chanrin terkejut.

Gasp

Chanrin menekap mulutnya saat merasakan kehangatan familiar yang setahun belakangan ini hilang. Jika Sehun seperti oksigen baginya, dimana ia merasa sesak dan rasanya akan mati saja jika dipisahkan oleh pria yang paling dicintainya di seluruh jagat raya ini. Sedangkan Hanhae, walaupun meraka bukan saudara se-darah tapi Chanrin merasa ikatannya dengan Hanhee lebih kuat dan lebih nyata. Dan anehnya Chanrin selalu merasa ia akan bertemu lagi dengan gadis yang telah menjadi saudara tirinya itu.

Chanrin tahu walau logikanya menolak , hatinya mengatakan ia telah bertemu kembali dengan Hanhee, gadis yang memeluknya saat ini.

“Chagiya… kau kenapa? Kau menangis?” Sehun yang menyadari keanehan pada diri kekasihnya terlihat bingung, Juniel langsung melepaskan pelukannya begitu mendengar kata-kata Sehun.

“K..kenapa? apa aku memelukmu terlalu erat? Aku—“ Juniel tak melanjutkan kata-katanya, ia terlalu shock ketika Chanrin tiba-tiba berdiri dan memeluk Juniel dengan eratnya, kali ini ia tak lagi menahan tangisnya.

“PABO!! Jeongmal pabo ya!!” umpat Chanrin sambil tetap memeluk Juniel yang kebingungan. Ia melirik ke arah Kai dan Sehun yang malah saling bertukar pandang.

“Nee.. naega paboya! Sudah jelas kau tidak suka naik wahana wahana tadi, aku tetap memaksamu. Mianhae Chanrin-ah.. kau jangan nangis begini dong!! Tuh kannn, aku juga ntah mengapa jadi ingin menangis” dan kemudian Juniel ikut terisak, orang orang di meja sebelah yang melihat pasti berpikir jika mereka terharu karena saking lamanya tidak bertemu. Untunglah saat itu malam hari dan taman bermain dalam kondisi sepi, sehingga tak ada yang tahu kedua pria bertopi yang bersama Juniel dan Chanrin adalah member EXO. Lagipula jika ketahuan, mudah bagi Kai ataupun Sehun dengan ‘kekuatan’ mereka untuk mengendalikan media.

“Sudah nangis-nangis nya?” ledek Kai begitu Juniel dan Chanrin kembali ke tempat duduknya semula, ia langsung mendapat laser glare dari kedua gadis itu.

“Kai, kau berhutang penjelasan padaku” kata Chanrin tajam, Juniel memutar matanya penasaran tapi tak bertanya lebih jauh karena ada yang membuatnya penasaran.

“Eh oppa, wahana apa yang ada di pojok situ? Kurasa aku tak melihatnya karena letaknya berjauhan dengan wahana lainnya”

“Itu vampire house, kamu mau masuk?”

Juniel mengedipkan mata beberapa kali kemudian menggeleng, entah mengapa ia merasa tempat itu memberi kesan yang buruk padanya. Seolah dia pernah terpenjara di tempat itu dulu sekali.

“Juniel ya, kau kenapa?” tanya Kai lagi, ia terlihat tertarik dengan perubahan ekspresi Juniel “Kau.. teringat sesuatu? Misalnya.. kau merasa pernah terkurung di situ?”

“Bagaimana kau tahu?” Juniel balik bertanya, ia sudah curiga sejak awal bertemu karena Kai seolah sudah mengenal dia sebelumnya. Juniel menatap Kai intens berusaha mengingat wajah namja di depannya, tanpa ia sadari, jemarinya telah terangkat menyentuh dahi Kai kemudian turun ke mata, hidung, pipi tirus dan bibir pria itu. Waktu rasanya berjalan lambat bagi Juniel dan Kai, mereka bagai berada di dunia mereka sendiri tanpa Sehun dan Chanrin di sebelah mereka apalagi orang-orang lainnya.

Entah mengapa rasanya hati Juniel  sakit sekali sekaligus kesal saat otaknya sama sekali tak bisa menggali ingatan tentang pria di depannya. Kai is definitely in her past before, her heart knew it. Dan akhirnya dengan air mata yang berusaha ia tahan, Juniel menurunkan tangannya.

“Kau.. tidak mengingatku?” tanya Kai dengan raut kecewa

“Oppa… mian” Juniel mengigit bibir bawahnya “Tapi kau mengenalku kan? Siapa aku sebenarnya? Dan bisakah kau beritahu apa arti dirimu bagiku?”

“Maaf tuan, nona… ini sudah waktunya kafe ini tutup” interupsi seorang pelayan yang membuat Chanrin ingin sekali melemparkan gelas sekaligus teko air di depan mereka karena sudah mengganggu ‘moment’ yang berlangsung live di depannya. Sehun juga terlihat tak kalah kesal, tatapannya sudah seperti siap menggigit pelayan itu.

“Ah… sudah jam 9 malam, kurasa aku harus pulang sekarang” kata Juniel, ia benar-benar kelihatan salah tingkah. Dalam hati ia terus merutuki dirinya yang berani beraninya menyentuh wajah perfect Kai, bahkan sampai bicara hal-hal aneh.

“Kau benar, kita harus pulang” kata Kai yang tiba-tiba sibuk dengan ponselnya.

“Baiklah, kau antarlah Juniel dan selesaikan pembicaraan kalian, aku yang akan mengantar Chanrin” sela Sehun sambil menarik Chanrin ke arah kasir “Tenang saja, bill nya biar aku yang bayar, kau kan sudah bayar tiketnya Kai” tambah Sehun ketika Kai akan mengikutinya.

“Baiklah, thanks.. aku …” Kai melirik sekilas ke arah pergelangan tangan Juniel yang masih menunduk, dan dengan natural ia menggenggam tangan itu “Aku duluan, aku harus mengembalikannya pada Hyoseong noona tepat waktu, jika tidak dia akan membunuhku”

 

===||===

@Parkiran , Geonju Apartment Complex

 

“Oh ya, Juniel, sebelum ke Lotte world kau terlihat lesu, sekarang juga, apa ada hal serius yang terjadi?” tanya Kai ketika mereka masuk pelataran parkir. Sejak di perjalanan tadi mereka berdua hanya saling diam, dan Kai merasa tidak nyaman. Ini tidak seperti Hanhee yang biasa, pikir Kai, ia sampai berpikir Sehun  benar jika ia mulai berkhayal hal-hal yang tidak mungkin.

“Oppa… bukankah di atap waktu itu kau juga bisa melihat hantu?” tanya Juniel akhirnya bersuara bertepatan dengan Kai yang telah menghentikan mobil Renault merahnya di samping sebuah mobil Audi berwarna putih.

“Nee.. aku bisa melihatnya, lalu?” tanya Kai, pikirannya mulai menebak nebak arah pembicaraan Juniel.

“Sebenarnya… aku memiliki seorang sahabat, sepertinya dia terlibat kecelakaan denganku setahun lalu dan tidak sepertiku yang terbangun dari koma, saat bangun ia menjadi hantu dan hanya aku yang bisa melihatnya.. hahaha.. kau pasti menganggapku aneh kan?”

Kai menggeleng, ia terlihat penuh minat tapi sama sekali tidak terlihat meragukan Juniel dan gadis itu bersyukur karenanya “Lebih baik kita berbicara sambil berjalan menuju apartmenmu atau jika kau masih belum mengantuk, aku akan meminta ijin Hyoseong noona untuk menculik mu ke atap?”

“Gomawo” Juniel menjadi jauh lebih ceria setelahnya, ia pun keluar dari mobil yang dibukakan langsung pintunya oleh Kai “Oppa, kau benar-benar gentleman, gadis yang menjadi kekasihmu pasti benar benar gadis paling beruntung!”

“Benarkah? Semoga dia merasa seperti itu” jawab Kai senang, tapi ntah kenapa setelahnya Juniel jadi agak jengkel, jadi Kai benar-benar sudah punya pacar, huh?

“Apakah sahabatmu itu hantu dengan sosok pria jangkung, bertubuh kurus dengan rambut blonde yang sama sekali tidak oke?” tanya Kai yang greget karena Juniel diam saja saat mereka berjalan menuju salah satu gedung apartment.

“Nee… tapi bagaimana kau tahu oppa?” Juniel terkekeh “Kadang warna rambutnya memang menjengkelkan, dia sudah berjanji akan mengecatnya jadi warna hitam jika dia sudah kembali ke tubuh asalnya”

“Oh begitu..hmm.. aku hanya pernah melihat dia bersamamu dulu” jawab Kai dengan agak malas, mengingat kemungkinan besar Juniel menghabiskan setahun ke belakang bersama pria lain membuatnya tidak nyaman “Lalu, apa masalahmu dengan bajingan itu?”

“Namanya Yook Sungjae, bukan bajingan!” Juniel berdecak kesal, tapi ia tetap melanjutkan “Kau ingat lima hari lalu saat kita bertemu di atap? Beberapa jam sebelumnya Sungjae ijin padaku jika ia akan pergi, tapi sampai hari ini dia belum kemba….”

TRAK

“Juniel.. kau kenapa? Smartphone mu—“ Kai tak melanjutkan kata-katanya karena setelah ia memungut smartphone Juniel yang terjatuh dari genggaman gadis itu, ia akhirnya melihat sosok yang membuat gadis itu membeku. Yook Sungjae dengan baju piyama rumah sakit yang melekat di tubuhnya, sama nyatanya dengannya dan Juniel. Ia berdiri tepat di depan pintu gerbang apartment menatap tepat ke arah Juniel seolah Kai kasat mata baginya. Tangan kanan dan kaki kirinya di gips sehingga ia harus mengenakan tongkat sedangkan luka bekas jahitan di dahi pria itu terlihat jelas.

“Sungjae ya… kau….kau menemukan tubuhmu? Apa kau baik baik saja?” tanya Juniel dengan suara bergetar, ia menjatuhkan tas selempang di bahunya dan berjalan mendekati pria itu seolah memastikan semua yang ia lihat adalah kenyataan. Sedangkan perhatian Kai sesaat teralih ke arah seorang gadis berambut ikal panjang sepinggang dan berponi yang berjalan menuju Sungjae dari arah belakangnya.

“Sungjae oppa! Apa yang kau lakukan di sini—-“ gadis berponi itu tiba-tiba tediam.

Kai tak bisa mendengar apapun lagi saat Juniel berjinjit untuk memeluk Sungjae dan membenamkan kepalanya di tubuh jangkung namja itu. Sungjae sendiri terlihat terkejut, tapi kemudian ia merasa dirinya rileks dan dengan alaminya balas memeluk Juniel. Ia tersenyum dan mengatakan sesuatu di telinga Juniel  yang bahkan tak bisa ditangkap oleh Kai. Kai hanya bisa merasakan hatinya bolong dan membusuk saat itu juga, rasa sakit yang hanya pernah ia rasakah saat bertahun tahun lalu Hanhee memutuskan hubungan mereka secara sepihak di cable car Namsan Tower.

Walau pada akhirnya Hanhee tetap kembali padanya, tapi apakah hal yang sama akan terjadi lagi?

“Anni… she is mine!”

Dan sebelum Kai dapat berpikir lebih lanjut, ia telah maju, menarik tangan Juniel agar menjauh dari Sungjae dan melayangkan bogem mentahnya ke arah pipi kanan Sungjae hingga namja itu tersungkur.

“ANDWAE!! SUNGJAE YA!!!” Juniel langsung lari untuk membantu Sungjae, tapi gadis berambut ikal itu lebih cepat membantu Sungjae dan membuat langkah Juniel terhenti. Juniel berbalik menghadap Kai dengan tangan mengepal, wajahnya yang menunduk membuat Kai tak bisa melihat mata gadis itu dibalik poninya.

“Juniel.. aku—-“

“Pergi….”

“Juniel, maaf aku—“

“PERGI!!!  KUBILANG PERGI SEKARANG JUGA KIM JONGIN!!! AKU MEMBENCIMU!”

Dan saat melihat wajah Juniel yang terlihat marah dan kecewa, ia sadar jika ia telah melakukan kesalahan besar.

====| Still Author pOv|======

 

@di saat yang sama, China International Airport

 

“Cih… bagaimana mungkin….” Seorang namja tampan sekaligus cute terlihat duduk di salah satu jajaran kursi. Berkali kali ia melirik jam tangannya menunggu penerbangan yang akan membawanya ke negara yang malas ia kunjungi. Jika bukan karena adik kesayangannya, ia tak akan repot-repot mendadak pergi ke Korea Selatan.

Akhirnya untuk entah ke berapa kalinya, ia kembali membuka aplikasi album di hp Sony Xperia Z series terbarunya dan melihat beberapa gambar yang sejam lalu dikirim oleh salah satu kenalannya di Korea. Dalam gambar itu terlihat jelas adik kesayangannya, Xi Junhee atau Juniel sedang bergandengan dengan gadis yang ia kenal bernama Chanrin dan dari salah satu di foto itu ia melihat orang yang paling dibencinya—Kim Joingin atau Kai

“Nomor yang anda tuju sedang tidak aktif….” Kata operator telepon yang segera diputuskan olehnya saat ia mencoba melakukan sambungan international, dan setelah itu seseorang menghubunginya.

“Ah ya, Tao, wae?”

“Luhan ge, kau benar-benar akan ke Korea? “

“Tentu saja, ada hal penting yang aku harus selesaikan di sana, tolong katakan pada manager untuk men schedule ulang jadwalku ke minggu depan”

“Oke hyung, tapi… apakah benar-benar ada hal buruk yang terjadi di Korea? Maksudku… mereka baik-baik saja kan?”

Luhan menarik nafas, ia tahu yang dimaksud mereka oleh Tao adalah member EXO. Dengan alasan yang berbeda dengannya, Tao juga memutuskan untuk meninggalkan EXO ntah sampai kapan.

“Jika yang kau maksud adalah Suho dan lainnya, mereka baik baik saja” kata Luhan pada akhirnya “Oh ya, katakan pada Yixing agar dia terus melakukan pekerjaannya di Korea, seharusnya dia bisa melaporkan mengenai  keberadaan adikku lebih awal”

“Roger”

Tanpa berkata apapun lagi Luhan memutuskan sambungan teleponnya. Perlahan ia mengeluarkan jam antik berbentuk liontin besar dengan rantai platinum yang melingkarinya. Ia mendekatkan jam itu ke wajahnya dan menciumnya seolah benda itu sangat berharga, dan saat itu juga jam besar di bandara berubah maju satu jam, bahkan seluruh jam di seluruh dunia tapi hanya dia yang menyadarinya.

“Kurasa sudah waktunya aku pergi” bisik Luhan dengan wajah mengeras, ia pun mengambil kopernya menuju gate keberangkatannya.

“Juniel, my little princess… kuharap aku masih sempat untuk membawamu pulang, apa yang terjadi pada Hanhee, tak akan kubiarkan terjadi padamu”

====tbc====

 

Advertisements